Trubus.id—Gamal Institute melakukan kajian terhadap 20 penangkar utama bibit kelapa sawit di Sumatra Utara, Riau, Jambi, Lampung, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan yang menguasai lebih dari 50 persen penyediaan bibit kelapa sawit.
Berdasarkan rilis yang diterima hasil penelitian itu menunjukkan bahwa responden cenderung memilih membesarkan jenis kelapa sawit yang disukai oleh petani atau perusahaan. Hal itu memudahkan penangkar bibit untuk menyesuaikan preferensi konsumen.
Bahkan tidak jarang pemesanan varietas-varietas itu sebelum memasuki usia siap tanam. Berdasarkan hasil kajian pada 20 penangkar melalui wawancara, lazimnya mereka menangkarkan varietas D x P Sriwijaya 5 asal PT Sampoerna Agro dan D x P Simalungun asal Pusat Penelitian Kelapa Sawit Medan, baik salah satu varietas atau kedua varietas (10 responden).
Alasan petani maupun perusahaan menyukai kedua varietas itu, karena umur 28 bulan sudah panen dan pada umur tanaman 3—4 tahun dapat memeroleh produksi 1 ton per hektare (ha) per satu kali rotasi panen.
Alasan lain, D x P Sriwijaya 5 menurut konsumen buahnya tidak pernah berhenti dan muncul mengelilingi batang serta waktu treknya lebih pendek. Sejumlah respon mengaku mulai menangkarkan varietas ini sejak 2018 untuk memenuhi kebutuhan peremajaan kelapa sawit rakyat.
Selanjutnya meningkatnya pembelian untuk pengembangan kebun swadaya maupun kebutuhan perusahaan yakni pascatanaman dari program PSR mulai menghasilkan. Sementara D x P Simalungun memiliki ukuran buah relatif besar.
Selain itu citra “Kelapa Sawit Marihat” melekat pada varietas itu dan umumnya menjadi pilihan petani yang pernah menggunakan benih asal PPKS Medan khususnya petani plasma.
Selain kedua varietas itu penangkar pada pada kajian itu juga memilih varietas seperti D x P 540, D x P Sriwijaya 3, D x P Topaz, D x P TN 1 dan D x P Dami Mas.
.
