Trubus.id–Hari Gizi Nasional diperingati setiap 25 Januari. Dalam momentum itu dosen sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (UNAIR) Moordiati S.S., M.Hum., soroti pangan lokal.
Ia mengusulkan agar pemerintah mencanangkan gerakan makan lokal mingguan, melibatkan semua lapisan masyarakat. Menurut Moordiati Hari Gizi Nasional berakar pada misi untuk menciptakan generasi sehat yang mampu membangun bangsa.
Hari Gizi Nasional pertama kali ditetapkan pada 25 Januari 1960. Kali pertama pemerintah membentuk Lembaga Makanan Rakyat (LMR) di era Presiden Soekarno.
Moordiati menuturkan saat itu, tantangan gizi Indonesia tidak hanya soal tengkes (stunting), tetapi kelaparan akibat transisi ekonomi pascakemerdekaan.
“Masa itu, fokus utama adalah menggali potensi pangan lokal seperti singkong, jagung, dan sagu. Ini upaya untuk menekan ketergantungan pada impor sekaligus memberdayakan petani lokal,” ujarnya dilansir pada laman UNAIR.
Lebih lanjut ia menjelaskan, pada era Orde Baru Indonesia pernah mencapai swasembada pangan, khususnya beras.
“Namun, era globalisasi dan urbanisasi membawa perubahan pola konsumsi masyarakat,” ungkapnya.
Moordiati kembali mengingatkan bahwa Indonesia juga mempunyai pangan lain seperti singkong, ubi, dan tiwul yang kaya nutrisi.
Ia mengusulkan agar pemerintah mencanangkan gerakan makan lokal mingguan, melibatkan semua lapisan masyarakat. Pasalnya tidak hanya meningkatkan gizi, tetapi juga perekonomian petani.
Moordiati mengingatkan bahwa saat ini masih terdapat masyarakat yang memilih makanan cepat saji. Ia mencontohkan di desa nelayan pesisir Jawa Timur, masyarakat cenderung memilih makanan cepat saji meski mereka tinggal di wilayah kaya ikan.
“Warganya justru memilih makanan cepat saji seperti ayam goreng tepung. Artinya distribusi makanan bergizi tidak cukup jika masyarakat tidak teredukasi soal pola makan sehat,” ujarnya.
