Friday, December 2, 2022

Harry Harryanto : Cinta Bersemi di Kota Hujan

Rekomendasi

Harry Harryanto, empunya kebun, nekat menebas pohon durian di kebunnya di Cicurug, Sukabumi, demi puring. “Saya telanjur cinta pada puring. Warnanya yang beragam benar-benar memikat dan menjadi sumber inspirasi. Makanya saya akan terjun total,” kata presiden komisaris Group 73 itu. Hanya 50—100 pohon durian yang bakal di pertahankan di kebun.

Cinta Harry pada puring bersemi 6 tahun silam. Ketika itu, pukul 11 malam, di tengah perjalanan pulang, tepatnya di Jalan Cikuray, Bogor, Jawa Barat, lampu mobilnya menyorot daun-daun yang seolah memancarkan warna tembaga dari sebuah pohon setinggi 4—5 m di kiri jalan. “Sangat menakjubkan, saya kaget dibuatnya,” ujar ayah 2 anak itu. Ia berhenti dan langsung memundurkan mobilnya untuk menikmati keindahan daun Codiaeum variegatum itu.

150 varian

Sejak itu Harry rutin menyambangi pedagang tanaman hias di Bogor, berburu puring. Perjalanan ke luar kota pun dimanfaatkan untuk mencari codiaeum. “Rasanya kalau melihat puring bagus di halaman rumah orang, ingin langsung digali saja dan dipindah ke kebun,” kata distributor tunggal Sonic Bloom—teknologi pemupukan bersama gelombang suara—itu.

Puring asal mancanegara pun tak luput dari buruannya. Harry terbang ke Thailand, Filipina, Vietnam, Laos, hingga Florida, Amerika Serikat. Namun, akhirnya ia sampai pada kesimpulan. “Corak dan warna puring Indonesia lebih bagus dan variannya lebih beragam,” ujar pria kelahiran Bogor itu.

Kesimpulan Harry sesuai dengan data ensiklopedia puring Crotons of the World yang menyebut koleksi puring di Indonesia berada di Kebun Raya Purwodadi, Jawa Timur dan Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, masing-masing sebanyak 60 dan 40 varietas dari seluruh penjuru tanahair. Total jenderal kini Harry mengoleksi 10.000 tanaman yang terdiri dari 150 varian. Contohnya seribu bintang, banglore, monalisa, concord brazil, red dragon, dan kura.

Raja tanaman

Sayang, menurut Harry nasib puring yang asli Indonesia sangat tragis. “Dulu ia disebut tanaman kuburan,” katanya. Padahal di Inggris puring disebut sebagai King of Plants. Di sana sejak abad ke-19 puring dikoleksi para bangsawan Inggris. Bahkan di Eropa dan Amerika Serikat, croton diberi nama dari tokoh dan anggota keluarga kerajaan terhormat. Sebut saja puring duke of windsor, queen of victoria, franklin roosevelt, dan thomas edison.

Lantaran itu Harry tergugah mengangkat derajat tanaman kelas bawah itu. Langkah awal, ia menanam semua koleksi puringnya di Bumi Nanggerang, Cicurug, Sukabumi. Semula lokasi itu kebun percobaan Sonic Bloom Pilot Project Indonesia yang ditanami durian, jeruk, manggis, jambu bol, jati, dan tanaman keras lain.

Sejak 6 tahun terakhir croton telah memoles kebun buah itu menjadi berwarna-warni. Itu yang terlihat saat Trubus berkunjung ke sana pada pertengahan Juni 2009. Begitu pintu gerbang terbuka, barisan puring terlihat menghias kanankiri jalan. Lalu masuk lebih dalam sejauh 20—30 m, beraneka ragam croton yang berpadu dengan bromelia tumbuh di taman depan bangunan-bangunan serbaguna. Di samping taman, puring dengan tinggi 1—4 m tumbuh acak. “Di sana akan saya bangun hutan puring,” kata Harry sambil menunjuk hamparan puring di sela-sela pohon durian.

Batik eksotis

Di kebun itu Harry juga berencana membangun kebun koleksi, nurseri, dan sebuah bangunan yang di dalamnya berisi cenderamata bermotif puring, seperti batik, cangkir, piring, taplak meja, dan payung. Batik puring dicoba dibuat pembatik di Solo, Jawa Tengah, dan DI Yogyakarta 11 bulan silam. “Ternyata susah memperoleh warna puring. Saya mesti bolak-balik mengontrol,” tutur pria berkacamata itu. Komposisi warna yang sesuai baru Harry temukan 5 bulan silam.

Harry lantas melibatkan beberapa perancang sebagai konsultan desain untuk memperkenalkan batik puring pada masyarakat luas hingga mancanegara. Di tangan para perancang itu batik puring menjadi fesyen eksotis. Bentuk daun dengan corak dan warna menarik dituangkan jadi rancangan indah berupa atasan longgar, gaun panjang, dan selendang. Motif batik puring muncul di beberapa sudut saja, seperti bagian bahu dan pinggang. Semua itu ditampilkan pada peragaan busana di Jakarta Convention Center (JC), 21 Maret 2009.

Selain cenderamata, Harry juga bekerja sama dengan Ir Arie Wijayani Purwanto MP—dosen di jurusan Agronomi, Fakultas Pertanian, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta—untuk membuat buku puring. “Diharapkan akhir 2009 akan selesai,” kata Arie. Bagi Harry cinta pada puring bukan sematamata terpengaruh tren. Meski tren puring bergeser, Harry tetap berniat mempopulerkan tanaman anggota famili Euphorbiaceae itu dengan beragam cenderamata bernuansa puring. “Tujuannya untuk memperkenalkan keragaman flora Indonesia ke mata masyarakat dunia,” ujar Harry.

Kini Harry bercita-cita membangun desa puring di Cicurug, Sukabumi—yang dirancang sebagai resor wisata yang dilengkapi sarana penginapan—meski harus mengorbankan ratusan pohon durian yang ditanam sejak 1997. Ia berharap akhir 2010 semua dapat terealisasi dan BJ Habibie serta para pejabat tinggi pemerintahan lain dapat menikmati puring seperti menikmati durian. (Rosy Nur Apriyanti)

 

^ Barisan puring di kanan-kiri jalan menyambut tamu yang datang ke kebun

Foto-foto: Rosy Nur Apriyanti

 

^ Batik puring, terinspirasi keindahan corak king

of plants

< Harry Harryanto, koleksi puring sejak 2003

Harry Harryanto

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Alasan UGM Mendorong Konversi LPG ke Kompor Listrik

Trubus.id — Ketergantungan penggunaan kompor gas LPG terus meningkat. Itu yang menjadi salah satu alasan Pusat Studi Energi (PSE)...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img