Thursday, December 8, 2022

Harta Terpendam dari si Raja Daun

Rekomendasi

Nama Koh Jen sudah tak asing lagi di kalangan pemain tanaman hias. Pemilik nurseri Tropical itu salah seorang pencipta tren tanaman hias. Salah satunya, menyematkan nama anthurium gelombang cinta pada 1986/1987 bersama 3 pemain lain. Koh Jen juga mengimpor dan menyilangkan kerabat aglaonema itu. Sayang, ketika itu hasil silangan yang beredar di pasar tak sempat diberi nama.

Pada November 2007, Trubus melihat salah satu silangan Koh Jen yang belum sempat diluncurkan di halaman rumah Latifah di Palmerah, Jakarta Barat. Penampilan hibrida silangan A. hookeri dan A. jenmanii itu spektakuler lantaran perpaduan dari kedua induk. Daun tipis dengan tangkai panjang ciri khas hookeri. Sementara darah jenmanii terlihat di urat daun yang tampak jelas seperti garis telapak tangan dan daunnya yang berukuran raksasa. Panjang daun anthurium berumur 15 tahun dari biji itu hampir 1 m dan lebar sekitar 55 cm.

Unik

Mutiara terpendam lain ditemukan oleh Budi Darmawan di Solo, Jawa Tengah. Biji kobra yang ia semai setahun lalu itu tumbuh menjadi bentuk yang lebih menarik. Lazimnya kobra berdaun melengkung. Namun, daun anthurium milik pengusaha farmasi itu melintir. Keanehan terlihat sejak anthurium berdaun 3 helai. Kini keunikan anthurium setinggi 25 cm tampak pada seluruh daun yang berjumlah 6 helai.

Nun di Banyuwangi, Jawa Timur, anthurium unik dikoleksi Mukti. Warna merah terlihat di pucuk dan daun muda anggota famili Araceae itu. Pada daun tua, selain warna merah, muncul nuansa putih dan kuning. Buat Mukti, anthurium itu harta karun. Maklum, ia hanya mengeluarkan Rp50-ribu untuk membeli kerabat philodendron itu dari seorang pedagang tanaman keliling setahun silam. Ketika itu sosok anthurium berdaun 3 helai itu normal. Setelah 7 bulan dipelihara, daun yang semula hijau berubah warna-warni sehingga tampak lebih menarik. Bandrol ratusan juta rupiah pun disematkan.

Menurut Lanny Lingga warna merah pada pucuk dan daun muda sebagai akibat nonpatogenis disease. ‘Kemungkinan besar karena defisiensi hara terutama Mg. Bila Mg kurang, Ca berlebih sehingga beberapa unsur lain terganggu penyerapannya, ‘ kata praktisi tanaman hias di Cisarua, Bogor, itu. Namun, Mukti yakin anthurium koleksinya berubah penampilan lantaran mengalami mutasi. Itu karena anakan yang muncul dari anthurium berumur 17 bulan itu serupa dengan induk, meski ada satu anak yang daunnya berubah hijau.

Jenis lain

Anthurium jenmanii cakra dan dewaruci Wied Setia Sanjaya di Prigen, Jawa Timur, tak kalah menarik. Yang disebut pertama itu berdaun bulat oval. Posisi daun agak mendatar, tidak tegak. Pucuk yang kemerahan pun membuka ke luar. Tulang daun jelas, tetapi uratnya kurang tajam. Sementara daun dewaruci lebih kecil dan ramping dibandingkan cakra.

Nurseri Canda Cekal di Karanganyar, Solo, Jawa Tengah, mengoleksi jenmanii daun jati. Sosok anthurium itu kokoh. Terlihat dari tulang daun yang besar. Pertulangan rapat membuat daun lebih kuat. Apalagi ukuran daunnya yang oval berukuran proporsional. Daun jadi lebih indah karena tulang berwarna kemerahan. Di Sentul, Bogor, Gunawan Widjaja, pemilik nurseri Wijaya, mendatangkan hookeri tangkai merah dari Thailand sekitar 3 bulan silam. Anggota famili Araceae itu berdaun tipis dengan pinggir sedikit bergelombang.

Gaung anthurium pun sampai di Thailand. Hibrida-hibrida penyilang negeri Gajah Putih itu Andretha Helmina, wartawan Trubus, lihat di pameran Suan Luang akhir 2007. Sebut saja anthurium hasil silangan Pramote Rojruangsang di Pathumthani. Meski baru berumur 5 bulan dari biji, tapi hibrida anthurium itu sudah menampilkan warna yang menarik. Hijau bercak keunguan, hijau-putih dengan merah muda di pangkal daun, dan hijau dengan tulang daun berwarna ungu. Semua tampil bak kilauan permata yang siap meramaikan dunia anthurium. (Rosy Nur Apriyanti/Peliput: Andretha Helmina, Imam Wiguna, Laksita Wijayanti, Nesia Artdiyasa, dan Syah Angkasa)

 

Previous articleCoba Sendiri
Next articleAgar si Belang Prima
- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Potensi Pemanfaatan Limbah Ceker Ayam sebagai Obat

Trubus.id — Mahasiswa Universitas Gadjah Mada menciptakan collagen tripeptide yang dihasilkan dari limbah ceker ayam sebagai alternatif pengobatan aterosklerosis.  Fitria Yuliana,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img