Sunday, August 14, 2022

Geliat Bisnis Cupang Alam

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Pengiriman ke luar negeri sepanjang tahun babi itu bukan kali pertama. Sebelumnya alumnus Sekolah Tinggi Manajemen Prasetya Mulya di Jakarta Selatan itu juga mengirim beberapa pasang B. rubra ke Kanada dengan harga US$125-US$150 per pasang ukuran 3-4 cm. Dari situ, Adi meraup pendapatan hingga belasan juta rupiah.

B. rubra asal parit-parit kecil di Danau Toba di Sumatera Utara itu mendominasi penjualan hingga 70%. ‘Jenis ini disukai karena coraknya cantik,’ ujar pria 47 itu (baca: Rubra: Spesies yang Hilang halaman 134-135). Untuk mendapatkan spesies yang hidup pada suhu air 23-28oC itu, pemilik Betta de Java di Kota Wisata, Cibubur, Jakarta Timur, itu dipasok rekanan dari Medan.

Nun di Padang, Sumatera Barat, Mulyadi pun tengah menikmati manisnya cupang alam. Sampai awal 2006, pemilik Djayabetta itu melepas 500 cupang alam/bulan ke mancanegara seperti Amerika Serikat dan Jerman. Jenis yang dijual antara lain B. macrostoma, B. pallifina, dan B. cumpucta. Di tingkat pelanggan harga terendah Rp200.000/ekor.

Itu belum termasuk B. rubra yang masih dianggap temuan baru. ‘Permintaan sejak awal 2005 naik sekitar 50% saat ada rubra,’ ujar mantan pengajar honorer sebuah SMU favorit di kota Padang itu. Sumber ikan? Mulyadi tidak cemas. Pencari cupang alam selalu mengontaknya bila ada barang. Bahkan Mulyadi tidak segan untuk terjun langsung berburu ke sungai-sungai kecil di pedalaman-pedalaman Pulau Sumatera.

Aquarama Singapura

Kejadian serupa dialami Joty Atmajaya di Jakarta Utara. Gara-gara penjualan 40 ekor/2 minggu B. patoti asal Kalimantan Barat ke berbagai negara seperti Singapura, Australia, Thailand, Amerika Serikat, dan Jerman, hobiis itu mengantongi pendapatan sampingan Rp12-juta/2 minggu.

‘Cupang alam ini didapat sebagai hasil sampingan dari orang yang berburu arwana di Kalimantan,’ katanya. Dengan harga beli sekitar Rp2-juta/100 ekor dan dipotong biaya lain-lain, Joty meraup laba bersih sekitar Rp6,8-juta/2 minggu.

Bukan tanpa alasan bila ketiga hobiis itu menangguk rupiah dalam jumlah lumayan besar. Saat pemain lain berkutat di cupang serit dan halfmoon, Adi, Mulyadi, dan Joty mulai melirik cupang alam. Apalagi pasca-Aquarama 2007 di Singapura, anggota keluarga Belontidae itu digadang-gadang bermasa depan cerah. ‘Kalau ada barangnya gampang sekali menjualnya,’ ujar Ir Ignatius Mulyadi, penangkar ikan hias di Bandung.

Trubus menyaksikan, baru setengah jam Ignatius memajang sederet kantong plastik berisi B. albimarginata seharga Rp400.000 per ekor di stan Tropical Fish World di Aquarama 2007, semua laku terjual. Stanley, konsumen asal Kaki Bukit Road yang datang membeli berujar, ‘Cupang alam itu warnanya indah’. B. albimarginata memang cantik. Coraknya merah-jingga dengan saputan warna hitam-putih di sirip.

Sebab itu pula Hermanus J Haryanto di Jakarta Barat getol mendatangkan jenis-jenis seperti B. macrostoma, B. albimarginata, B. unimaculata, dan B. channoides. ‘Pasarnya terbuka lebar dan harga jualnya tinggi,’ ujar peternak spesialis halfmoon itu. Contoh B. albimarginata yang dapat dijual Rp750.000-Rp800.000/pasang. Atau B. macrostoma yang harganya bisa melonjak tajam sekitar Rp5-juta/pasang untuk ukuran panjang 10 cm. ‘Untuk jual sekarang gampang, apalagi macrostoma yang warnanya cantik,’ ujar pemilik Betta4Ever itu.

Insting bisnis Jap Khiat Bun ikut terusik. Eksportir besar ikan hias tanahair itu diam-diam mengumpulkan cupang alam. Di kamar 4 m x 4 m di farmnya di Cibinong, Kabupaten Bogor, jenis seperti B. patoti dan B. macrostoma ditaruh dalam belasan akuarium kaca. ‘Jenis ini memiliki prospek pasar yang bagus,’ ujar pemilik CV Maju Aquarium itu.

Diuntungkan

Geliat cupang alam rupanya terendus hingga ke luar negeri. Negara serumpun, Malaysia, melalui Departemen Perikanan-seperti DKP-bahkan mencanangkan cupang alam sebagai satu dari sekian ikan hias ekspor unggulan sejak 2005. Salah satu eksportir yang dipercaya, Clearwater Aquatic di Kuching Sarawak, malah sudah berhasil menangkarkan jenis B. rubra sp aceh, B. ibanorum, B. taeniata, dan B. channoides.

Menurut Jesda Attahcivit, penangkar cupang di Thailand, kini waktunya peternak untuk bergegas menangkarkan cupang alam. ‘Penggemar fanatik cupang alam di dunia mulai banyak,’ ujar kolektor di Bangkok itu. Contoh nyata dengan diadakan kontes cupang alam untuk kali pertama di Singapura pada Desember 2007. ‘Ada tantangan bila mempunyai cupang alam yang bagus,’ ujar Dr Hsu Li Chieh, presiden Singapore Betta Club.

Sayang, geliat bisnis cupang alam itu tidak berimbas di lokal. Lihat saja, dari sekitar 15 kios ikan hias air tawar di Jalan Sumenep Jakarta Pusat, hanya 3 kios yang menjajakan cupang. Itu pun tidak ada yang menjual cupang alam. ‘Barangnya sulit didapat, musiman,’ ujar Lastiyani dari Munir Aquarium.

Menurut Ahmad Yusuf, peternak cupang di Jakarta Timur, pasar lokal masih memilih serit dan halfmoon karena lebih familiar. ‘Meski dulu sempat ramai, tapi cepat meredup,’ ujarnya. Hal serupa disampaikan Yuyung Halim, kolektor di Jakarta Barat. ‘Meskipun coraknya bagus-bagus, cupang alam mudah stres karena perubahan air. Karena itu ia ditinggalkan,’ katanya. Namun, Yuyung tak menampik bila suatu saat cupang alam jadi tren di lokal. ‘Tapi dengan syarat mudah dipelihara seperti cupang lainnya,’ tambahnya. Boleh jadi setelah sukses ditangkarkan, turunan cupang alam bakal lebih adaptif.

Nah jika itu tercapai, peternak cupang alam di tanahair boleh senang. Maklum Bumi Nusantara ini surganya wild betta-sebutan di luar negeri. Simak data importir besar ikan hias Jerman, Isra Aquarium. Di dalam situsnya, Isra menyebutkan dari sekitar 60 jenis cupang alam di dunia, tigaperempatnya bermukim di sungai-sungai di wilayah Asia Tenggara seperti Brunei, Sarawak, Kalimantan, dan Sumatera. Artinya peluang memperoleh pendapatan sampingan tidak hanya dinikmati oleh Adi dan Joty. (Dian Adijaya S/Peliput: Lastioro Anmi Tambunan, A. Arie Raharjo, dan Andretha Helmina)

Geliat Bisnis Cupang Alam

Previous articleCoba Sendiri
Next articleAgar si Belang Prima
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img