Saturday, April 13, 2024

Haru Hiu di Laut Biru

Rekomendasi
- Advertisement -
Koleksi David Fleetham
Koleksi David Fleetham

Rens Renol Lewerissa bukanlah nelayan biasa yang menangkap ikan kakap, bubara, dan samandar. Warga Rufei, Sorong Barat, Provinsi Papua Barat, itu justru memburu ikan lain yang terkenal buas yaitu hiu. Target utama hiu bersirip atas lebih dari 41 cm yang termasuk kategori super. Rens sangat mudah mendapatkan hiu itu karena lokasi melautnya di salah satu habitat ikan bertulang rawan itu yakni perairan Kepulauan Rajaampat, Papua Barat.

Ia dan 3 rekan memerlukan 8—9 jam menuju lokasi penangkapan hiu. Ketika tiba di tempat tujuan, mereka tidak langsung memasang alat tangkap. Mereka mengumpulkan ikan pelagis seperti cakalang dan tenggiri sebagai umpan hiu. Bahkan lumba-lumba pun menjadi sasaran tombak Rens untuk dijadikan umpan hiu. Rens mudah menjumpai mamalia laut itu lantaran lumba-lumba kerap mengikuti perahu. Setelah memotong-motong, Rens meletakkan daging ikan umpan itu di kail berukuran 0,1. Ia mengandalkan rawai sepanjang 100—150 m sebagai alat tangkap ikan kerabat pari itu. Setiap 2,5 m dari tali itu tergantung kawat nirkarat yang dilengkapi kail. Ia membentangkan rawai saat sore dan mengangkat alat tangkap itu besok pagi. “Lazimnya kami mendapatkan sekitar 5 hiu yang terdiri atas 2—3 hiu berkualitas super,” kata pria berumur 32 tahun itu.

Peneliti di Pusat Penelitian Oseanografi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta Utara, Fahmi, M.Phil, meneliti hiu sejak 2001. Hiu martil salah satu predator puncak di dalam ekosistem laut.
Peneliti di Pusat Penelitian Oseanografi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta Utara, Fahmi, M.Phil, meneliti hiu sejak 2001.
Hiu martil salah satu predator puncak di dalam ekosistem laut.

Kondisi hiu dalam rawai beragam. Ada yang masih hidup, lemas, dan mati. Mereka mengangkat hiu ke atas kapal lalu memotong semua sirip. Kemudian ia membuang hiu tanpa sirip itu ke lokasi lain yang jauh dari tempat perburuan. Harapannya agar hiu lain tidak melihat bangkai “temannya”. Sebetulnya peminat daging hiu juga banyak di Sorong. Rens memilih membuang hiu hasil buruan karena perahu tidak dilengkapi mesin pendingin.

Ia dan 3 rekan rata-rata mengumpulkan 10—15 kg sirip kering setelah sepekan melaut dan menjualnya ke pengepul di Sorong seharga Rp1 juta per kilogram. Artinya Rens mengantongi omzet Rp10 juta—Rp15 juta setiap melaut. Beberapa kali hasil “panen” mencapai 30 kg sirip. Hasil tangkapan makin banyak jika mereka melaut lebih dari sepekan.

Harga sirip hiu yang mahal itulah yang mendorong Rens menargetkan sharks—sebutan hiu di Inggris—sebagai tangkapan utama. Aksi perburuan hiu oleh Rens dan 3 rekan itu cerita lama karena berlangsung pada 2000—2006. Kini keadaan berubah 3600 dan ia tidak lagi memburu hiu. Malah Rens salah satu “penjaga” hiu di perairan Kepulauan Rajaampat setelah bergabung dengan organisasi konservasi nirlaba, Conservation International (CI) Indonesia menjadi Communication and Outreach Officer.

Sejatinya Rens bergabung dengan CI Indonesia sejak 2008. Ia menduduki posisi itu sejak 2014. “Salah satu tugas saya adalah memberikan materi pendidikan lingkungan hidup. Termasuk di dalamnya tentang ekosistem, rantai makanan, dan peran hiu dalam ekosistem,” kata pria kelahiran Sorong, Papua Barat, itu. Sekitar sepekan dalam sebulan ia mendatangi setiap distrik untuk memberikan pemahaman tentang pentingnya konservasi kepada masyarakat.

Rens Renol Lewerissa, dahulu pemburu kini penjaga hiu.
Rens Renol Lewerissa, dahulu pemburu kini penjaga hiu.

Ia menjadi instruktur bagi masyarakat lokal sehingga mereka secara sadar menjaga lingkungan sekitar dan melarang aktivitas perikanan terlarang seperti perburuan hiu. Menurut peneliti hiu di Pusat Penelitian Oseanografi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta Utara, Fahmi, M.Phil., penangkapan hiu di Indonesia berlangsung sejak zaman nenek moyang. Beberapa kelompok masyarakat dan etnis di tanah air seperti masyarakat Bajo di Pulau Sulawesi menangkap dan mengonsumsi hiu secara turun temurun.

Penangkapan peixes cartilaginosos—sebutan hiu di Brasil dan Portugal—terasa signifikan setelah ada permintaan ekspor sirip sejak 1980. “Perburuan besar-besaran terjadi setelah 2000. Saat itu harga sirip hiu di pasar internasional meroket setelah terjadi krisis keuangan,” kata Fahmi. Sejak itulah banyak nelayan dan pedagang tergiur menangkap dan memperdagangkan hiu. Fahmi mengatakan semua bagian tubuh hiu dapat dimanfaatkan seperti tulang, daging, kulit, dan minyak hati (jenis tertentu seperti hiu botol).

Namun siriplah yang bernilai ekonomi lebih tinggi. Berdasarkan penelitian ilmiah khasiat sirip hiu karena mengandung kondroitin—penyusun jaringan jaringan tulang rawan—yang sebetulnya tidak hanya ada di sirip. “Pemanfaatan sirip hiu lebih karena mitos dan kebudayaan dari etnis tertentu,” kata peneliti yang tengah menempuh studi doktoral di School of Biological Sciences, University of Queensland, Australia, itu.

Bycacth and Shark Conservation Coordinator World Wild Fund (WWF) Indonesia, Dwi Ariyogagautama, meneliti tingkat konsumsi olahan hiu di Jakarta, Surabaya, dan Makassar.
Bycacth and Shark Conservation Coordinator World Wild Fund (WWF) Indonesia, Dwi Ariyogagautama, meneliti tingkat konsumsi olahan hiu di Jakarta, Surabaya, dan Makassar.

Menurut Bycacth and Shark Conservation Coordinator World Wild Fund (WWF) Indonesia, Dwi Ariyogagautama, populasi hiu secara global menurun drastis akibat penangkapan berlebihan untuk diambil siripnya. Pada 2012 diduga terjadi penangkapan 100 juta hiu. “Indonesia termasuk produsen dan konsumen hiu terbesar di dunia,” kata Yoga. Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Indonesia mengekspor 434 ton sirip hiu pada 2012.

Permintaan sirip hiu di pasar dalam negeri pun relatif besar. Beberapa tempat kuliner, mulai dari restoran hingga warung pinggir jalan di kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta menyajikan menu makanan berbahan hiu. Yoga dan rekan menelusuri tingkat konsumsi produk hiu di Jakarta, Surabaya, dan Makassar. Hasil penelitian yang berlangsung pada Desember 2013—Maret 2014 itu mengungkapkan konsumsi produk hiu tertinggi di Jakarta mencapai 23.040—86.400 porsi per tahun.

Angka itu setara 15.840 kg sirip hiu. Adapun tingkat konsumsi hiu di Makassar 20.160 porsi atau 3.960 kg sirip hiu, serta Surabaya mencapai 96 kg sirip hiu/tahun dan 19.200—96.000 kg daging hiu saban tahun.

Menurut Yoga pihak yang mendapat margin terbesar pada perdagangan hiu adalah penampung yang diperkirakan mengantongi pendapatan Rp10 juta—Rp40 juta dari daging hiu dan Rp2 miliar—Rp4 miliar untuk sirip. “Tingginya nilai ekonomi perdagangan hiu salah satu dasar perniagaan hiu masih berlangsung,” kata alumnus Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah, itu.

Meski begitu pelaku usaha belum memperhatikan aspek keberlanjutan populasi hiu di alam. Mereka mestinya memastikan hiu hasil tangkapan bukan jenis yang dilindungi seperti hiu koboi dan hiu martil atau terancam populasinya seperti hiu paus. Bukan juga hiu yang cirinya memiliki tanda lahir seperti lubang di bagian ventral dekat sirip dada. Perburuan besar-besaran menyebabkan populasi ikan hiu yang tidak memiliki tutup insang itu anjlok. Rens merasakan betul berkurangnya populasi hiu kualitas super di perairan Kepulauan Rajaampat.

Lazimnya pria kelahiran 6 Desember 1985 itu memperoleh 3—4 hiu dengan tinggi sirip atas lebih dari 41 cm dalam semalam. Namun, sejak 2006 ia hanya memperoleh 1 hiu bermutu super. Trubus juga mendapatkan keluhan serupa dari petugas pendataan hiu di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Karangsong, Indramayu, Abdul Muin. Ia menuturkan beberapa tahun lalu nelayan menangkap sekitar 3 ton hiu di perairan Jawa, Sumatera, dan Kalimantan.

Kini mendapatkan 2 ton saja sudah maksimal. Abdul mengatakan nelayan lebih mudah mendapatkan hiu di perairan Papua. Menurut Fahmi merosotnya populasi hiu “super” dan ikan sejenis di Pulau Jawa lantaran karakter ikan itu yang memiliki jumlah anakan sedikit, yakni kurang dari 5 ekor per siklus reproduksi. Sementara penangkapan hiu berlangsung terus-menerus. Dampaknya pemulihan populasi terganggu sehingga lama-kelamaan jumlah hiu di alam makin sedikit.

Apalagi kebanyakan nelayan di Laut Jawa menjaring anakan hiu yang menyebabkan pemulihan populasi makin terhambat. Faktor lain

Sebagian orang memburu hiu dan hanya mengambil sirip. Ikan yang diambil siripnya tak mampu bertahan hidup dan akhirnya mati.
Sebagian orang memburu hiu dan hanya mengambil sirip. Ikan yang diambil siripnya tak mampu bertahan hidup dan akhirnya mati.

yang bikin populasi hiu merosot yakni kerusakan habitat. Terutama daerah asuhan dan tempat melahirkan hiu seperti pantai, terumbu karang, mangrove, dan padang lamun. Menurut Yoga hiu adalah dokter ikan karena hanya memangsa ikan sakit atau lemah. Populasi hiu yang menurun drastis mengganggu keseimbangan ekosistem laut.

Gangguan yang ditimbulkan karena berkurangnya hiu di alam tergantung jenis ikan itu. Misal jika hiu karang berkurang, ikan karnivor di tingkatan bawah lebih banyak sehingga memangsa ikan herbivora. Jumlah ikan herbivora yang merosot mengakibatkan pertumbuhan alga melimpah. Dampaknya terumbu karang sangat sulit bersaing dengan alga dan lama-kelamaan mati. Tentu saja kondisi itu membuat jumlah ikan karang seperti kakap, kerapu, dan ikan pisang-pisang makin sedikit.

Perlukah peraturan pelarangan penangkapan hiu? “Banyak pihak yang hidupnya tergantung dari hiu. Jadi, penangkapan ikan itu tidak dapat dihentikan dan memang seharusnya tidak perlu distop,” kata Fahmi yang juga menjabat co-chair di International Union for Conservation of Nature (IUCN) Shark Specialist Group untuk wilayah Asia Tenggara. Cara terbaik menurut Fahmi yaitu adanya pengelolaan perikanan berkelanjutan seperti yang termaktub dalam National Plan of Action (NPOA) for shark conservation.

Strategi itu mengacu pada panduan bikinan Badan Pangan dan Pertanian atau Food and Agriculture Organizatin (FAO) terkait pengelolaan perikanan hiu melalui International Plan of Action for shark conservation (IPOAs). Model pengelolaan hiu sudah diterapkan dan praktisi perikanan seperti nelayan dan pihak lain terkait usaha perikanan hiu memahami cara mendayagunakan ikan itu. Praktik itu terutama berlangsung di negara maju seperti Australia, Selandia Baru, dan Jepang.

Australia melalui Australian Fisheries Management Authority (AFMA) hanya mengeluarkan 125 izin penangkapan menggunakan jaring insang dan 35 izin menggunakan pancing kepada kapal ikan yang menangkap hiu di wilayah perairan Negeri Kanguru itu. Sementara sistem pengelolaan kuota mengatur pengelolaan perikanan hiu di Selandia Baru. Nun di Amerika Serikat dan Meksiko nelayan dilarang menangkap hiu dalam jarak kurang dari 185 km. Artinya ada pembatasan areal penangkapan.

Fahmi menuturkan Indonesia bukan satu-satunya negara dengan isu penangkapan berlebihan (overfishing) hiu. Negara berkembang lain yang tidak memiliki manajemen pengelolaan perikanan baik seperti India dan Pakistan juga menghadapi kasus serupa. Tidak heran isu eksploitasi hiu menjadi mendunia. Di Indonesia baru hiu paus Rhincodon typus yang dilindungi secara penuh oleh undang-undang berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 18/KEPMEN-KP/2013.

Hiu lain seperti tiga jenis hiu martil dan hiu koboi dilindungi secara terbatas melalui pelarangan ekspor produk-produk turunan kedua hiu itu. “Selain itu tiga jenis hiu lain masih dalam tahap pembuatan undang-undangnya untuk dilindungi secara terbatas,” kata pria kelahiran Bogor, 20 September 1974, itu. Selain pengelolaan perikanan hiu yang berkelanjutan, cara lain melestarikan cucut—sebutan hiu di Jawa Barat—adalah mengelola ekowisata hiu seperti di Pulau Tinabo, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.

Di tempat itu pengunjung dapat menyaksikan puluhan hiu berjenis black tip di depan penginapan jika air laut tengah pasang. Menurut Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Pulau Tinabo, Asri, tamu juga dapat bermain di pinggir pantai yang ada hiunya. Menurut Asri kehadiran hiu di Pulau Tinabo lebih banyak daripada sebelumnya. Artinya habitat membaik dan tidak ada lagi yang mengganggu hiu.

Harap mafhum sebelum menjadi objek wisata, masyarakat kerap memburu ikan itu untuk diambil siripnya. Sejatinya hiu dapat ditemukan sepanjang tahun di pulau seluas 25 hektare itu. Meski begitu, “Waktu terbaik berkunjung yakni akhir Juni dan akhir November,” kata warga Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, itu. Saat itu lautan tidak berombak seolah-olah pengunjung menyaksikan hiu di kolam.

Tamu yang menginap di Pulau Tinabo dibatasi hanya 15 orang sesuai kapasitas penginapan. Tamu yang melebihi kapasitas menginap di pulau lain. Menurut Asri “menjual” hiu sebagai objek wisata lebih menguntungkan dibandingkan dengan memburu sirip ikan itu. Selain mengedukasi turis yang datang, populasi hiu tidak terganggu sehingga tetap lestari. Beda halnya jika hiu diburu dan diambil siripnya yang lama-kelamaan mungkin punah.

Hiu black tip di Pulau Tinabo, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Restoran di kota besar masih menyajikan menu berbahan sirip hiu.
Hiu black tip di Pulau Tinabo, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.
Restoran di kota besar masih menyajikan menu berbahan sirip hiu.

Wisata hiu juga meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar yang membuka penginapan atau warung makan. Asri berharap masyarakat dapat terus menjaga keberadaan hiu yang terbukti bermanfaat secara ekonomi tanpa harus membunuhnya. Fahmi mengatakan kegiatan wisata seperti di Pulau Tinabo baik sebagai ajang penyadaran masyarakat kalau hiu juga bermanfaat sebagai objek wisata. “Syaratnya aktivitas itu tidak merusak dan mengganggu habitat asli dan mengubah sifat fisiologis hiu,” kata Fahmi.

Hiu salah satu hewan purba yang masih hidup dan memiliki karakteristik berbeda dengan ikan bertulang sejati. Ciri hiu antara lain580-H113-1 bertulang rawan dan tidak memiliki tutup insang sehingga celah insang terlihat jelas di kedua sisi tubuh. Terdapat 5—7 celah insang di belakang kepala. Sirip hiu tidak berjari-jari dan berbuku seperti ikan lazimnya, tapi berbentuk seperti lempengan dan tertutup kulit. Sisik ikan anggota kelas Chondrichthyes itu berbentuk seperti duri-duri kecil yang disebut placoid.
Jika sisik hiu diraba dengan arah berlawanan terasa kasar seperti amplas. Keunikan hiu yang utama adalah memiliki pertumbuhan lambat, relatif berumur panjang, dan memiliki jumlah anakan sedikit. Ada hiu yang hidup sampai puluhan (hiu martil) hingga ratusan tahun (hiu paus), tapi ada juga yang hanya hidup beberapa tahun saja seperti hiu tokek. Hiu hidup di semua tipe habitat tergantung jenisnya.

Ada yang mendiami perairan tawar, perairan dangkal, terumbu karang, perairan laut lepas, dan bahkan laut dalam. (Riefza Vebriansyah)

 

Previous article
Next article
- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Rawat Si Engkong : Durian Tua Berumur 100 Tahun

Trubus.id— Pohon durian setinggi 40 m itu berdiri kokoh di lokasi penanaman durian populer seperti super tembaga, bawor, musang...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img