Rancangan budikdamber baru untuk membudidayakan ikan dan sayuran di satu wadah.

Akbar tak memiliki halaman luas dan sepetak lahan pun. Namun, warga Cipondoh, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, itu berhasrat membudidayakan sayuran. Ia tetap dapat mewujudkan impiannya dengan memanfaatkan dak rumahnya berukur 3 m x 10 m. Keluarga Akbar menggunakan “lahan” itu selama empat tahun sebelumnya sebagai tempat untuk menjemur pakaian.
Sejak Januari 2019 Akbar memanfaatkan lantai kedua rumahnya untuk lokasi budidaya sayuran dan beternak ikan. Ia menerapkan sistem budikdamber—singkatan dari budidaya ikan dan sayur dalam ember. Pencetus ide budikdamber dosen di Program Studi Budidaya Perikanan Politeknik Negeri Lampung, Juli Nursandi, S.Pi., M.Si. Juli memadukan budidaya sayuran dan ikan sekaligus untuk masyarakat di perkotaan yang pada umumnya berumah sempit.
Di dak rumahnya, Akbar mengelola 64 ember. Ia mengatur pola tanam, sehingga tanaman tumbuh dalam berbagai fase. Ada yang siap panen, menjelang panen, bahkan baru semai. Pengaturan pola tanam itu memungkinkan kebutuhan sayuran terpenuhi. Istrinya memetik sendiri beragam sayuran seperti seperti kangkung, genjer, bayam, cabai, tomat, dan kemangi di dak rumahnya.
Ayah 3 anak itu memanen kangkung berumur 14 hari. Ia tak pernah memberi pupuk. Pertumbuhan tanaman lebih cepat karena memanfaatkan kotoran ikan sebagai sumber nutrisi. Adapun ikan lele siap panen pada umur 2,5 bulan. Akbar berkreasi membuat budikdamber sendiri. Ia melubangi tutup ember sebagai wadah pot. Sementara itu budikdamber kreasi Juli tanpa tutup ember (baca: Kangkung di Atas Lele di Bawah Trubus September 2019).

Juli mengaitkan pot di bagian atas ember. Selain itu Akbar tidak menggunakan media tanam sama sekali, tidak seperti anjuran Juli yang menggunakan arang atau campuran arang dengan tanah sebagai media tanam. Itulah yang menjadi pembeda budikdamber kreasi Juli dan Akbar. Menurut Akbar sayuran yang tumbuh di pot budikdamber kreasinya tumbuh lebih tegak dan rapi. (Tamara Yunike)
