Wednesday, May 6, 2026

Menabur Benih Menuai Laba

Rekomendasi
- Advertisement -

Semula petani padi, Judi Nur mengembangkan agrowisata sayuran pertama di daerahnya.

Trubus — Sayuran biasa bisa tampak luar biasa ketika berbuah serempak di lahan yang sama. Masyarakat lazim melihat bermacam-macam sayuran seperti terung, cabai, tomat, mentimun, kacang panjang, kacang buncis, gambas, peria, labu putih dalam kehidupan sehari-hari. Namun, jika beragam sayuran itu tumbuh subur di lahan 1 hektare dan berbuah lebat, tak semua orang pernah melihatnya.

Hasil budidaya beragam sayuran di Agrowisata
Tabur.

Di lahan itu juga tumbuh semangka, belewah, dan melon yang tengah berbuah. Kebun terlihat bersih, asri, dan nyaman. Itulah panorama apik di Agrowisata Tabur. Lokasinya sangat strategis di pinggir jalan Desa Pugaan, Kecamatan Pugaan, Kabupaten Tabalong, Provinsi Kalimantan Selatan. Jarak dari Kota Banjarmasin, ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan, 226 km. Judi Nur membangun agrowisata itu pada Maret 2018.

Sewa lahan

Pengunjung berdatangan terutama pada musim paen. Judi Nur—masyarakat memanggilnya Dinur—dua kali dua kali panen besar, yakni pada Mei dan Desember. Adapun durasi panen selama tiga bulan. Mereka berdatangan bukan sekadar menikmati panorama elok beragam buah dan sayuran. Namun, mereka juga memetik sayuran sesuai keinginan, menimbang, dan membayar hasil panen untuk mencukupi kebutuhan.

Judi Nur mengembangkan agrowisata sayuran dan buah, semula petani padi.

Menurut Dinur harga sayuran relatif murah. Ia membanderol buah peria Momordica charantia Rp6.000, buncis Phaseolus vulgaris Rp8.000, dan kacang panjang Vigna chinensis Rp5.000 per kg. Adapun harga belewah hanya Rp5.000 dan melon Rp10.000 per kg. Harga jual itu relatif murah dibandingkan dengan harga komoditas yang sama di pasaran. Dinur mengatakan, pengunjung senang memperoleh sayuran dari Agrowisata Tabur karena lebih segar. Apalagi memetik sayuran sendiri pengalaman unik bagi mereka.

Dinur mengatakan, ketika musim panen para pengunjung setidaknya membeli hingga 1.000 kg beragam sayuran. Bahkan, produksi dari kebun agrowisata itu belum mencukupi kebutuhan pengunjung. Oleh karena itu, pada 2019 ia juga membuka lahan di Desa Airtawar seluas 1,5 hektare. Lahan itu hanya berfungsi untuk produksi, bukan agrowisata. Lokasi lahan kedua hanya berjarak 0,7 km dari lahan agrowisata.

Di lahan itu Dinur membudidayakan beragam komoditas. Ia menjual hasil panen di lokasi agrowisata. Semula petani kelahiran 10 Februari 1975 itu seperti kebanyakan petani di Pematang, hanya menanam padi. Namun, pedapatannya terbatas. Itulah sebabnya Dinur berupaya meningkatkan omzet. Di sekitar lahannya banyak tanah menganggur. Ia terbersit menanam beragam sayuran, karena masa produksinya singkat hanya 2—3 bulan.

Tanaman hias

Warga mengunjungi Agrowisata Tabur di Desa Pugaan, Kecamatan Pugaan, Kabupaten Tabalong, Provinsi Kalimantan Selatan.

Bersama istrinya, Mardiana, Dinur menanam berbagai jenis sayuran di lahan sewa pada 2008. Ia memperoleh hasil menggembirakan. Pantas itu memperluas lahan. Semula Dinur menyewa lahan 2.023 m2 lalu berkembang menjadi 0,42 hektare. Pada 2015 Dinur menanam gambas seluas 2,5 borong (1 ha= 35 borong), mentimun (1,5 borong), dan terung (3,5 borong). Ayah 3 anak itu menjual panenan ke pasar. Saat itu omzet Dinur Rp35 juta. Ia memanfaatkan sebagian laba untuk melanjutkan bertani dan sebagian lagi untuk memperbaiki rumah.

Setahun berselang Dinur menambah luas areal tanaman dan komoditas seperti terung, cabai besar dan rawit, kacang panjang, kacang buncis, mentimun, peria, dan labu air di lahan 15 borong. Adapun omzetnya Rp47 juta. Ia selalu semangat dan bekerja keras meningkatkan produksi hortikultura. Lihat saja pada 2017, Dinur menambah jenis tanaman dann memperluas hingga 12 borong. Pantas omzet petani lulusan Sekolah Dasar itu pun melonjak, yakni Rp60 juta.

Sayuran hasil petik sendiri di lokasi agrowisata lebih terjamin kesegarannya.

Kerja keras Dinur makin lama kian tampak. Kebun makin luas, sayuran kian beragam. Kondisi itu menarik banyak orang untuk membeli sayuran dan berswfoto di kebun. Penyuluh pertanian pembinanya, Khalifah, menyarankannya memanfaatkan kebun sebagai agrowisata. Dinur mewujudkannya pada awal 2018 dengan membuka Agrowisata Tabur. Dinur menuturkan, agrowisata kian melambungkan omzet, yakni Rp250.000 per hari setara Rp7,5 juta sebulan.

Judi Nur mengembangkan terung rata-rata 3,5 borong setara 2.800 m2.

Selain itu ia juga memperoleh pendapatan tambahan berupa tiket masuk agrowisata, dan parkir Rp500 ribu per hari. Dinur memperbanyak komoditas di lahannya. Pada awal 2019 ia juga mengembangkan tanaman hias seperti marigold, celosia, bunga matahari, zinia, dan vinca. Total luas lahan agrowisata mencapai 2,5 hektare yang merupakan tanah sendiri. Dinur menjalin kemitraan dengan produsen benih hortikultura. Ia menggunakan benih dari produk itu sekaligus mendapat bimbingan budidaya. (Susilo Astuti H.)


Artikel Terbaru

Cara Menanam Pepaya California agar Cepat Berbuah dan Seragam

Sebagai pekebun yang ingin pepaya california cepat berbuah dan menghasilkan buah seragam, tahap awal yang penting adalah perkecambahan benih....

More Articles Like This