Friday, August 12, 2022

Iprik ‘Telanjang’ Gegerkan Bumi Sriwijaya

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Pengusaha tapioka asal Lampung itu merebut gelar bonsai terbaik di 3 kelas sekaligus: small, medium, dan large. Kehadiran kimeng, hokiantea, dan iprik di pelataran Palembang Trade Center (PTC) itu menggegerkan Bumi Sriwijaya.

Penampilan 3 bonsai koleksi Chandra memang memukau. ‘Semua koleksinya tergolong berkualitas. Sulit tertandingi di wilayah Sumatera bagian selatan,’ kata Denny Nayoan, juri asal Jakarta. Denny menyebut gerak dasar, keseimbangan, dan dimensi pohon sudah muncul. Ketiga jawara pertama di 3 kelas itu dinobatkan pula sebagai 3 terbaik. Kontes bonsai yang digelar Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) cabang Palembang itu seolah milik Chandra.

Menurut Denny, yang paling fenomenal ialah iprik Ficus retusa setinggi 90 cm. Ia tampil gagah meski daun minim. ‘Meski ‘telanjang’ (hampir tanpa daun, red) semua komponen pohon seperti akar, batang, cabang, dan ranting sudah selaras. Sosok pohon tanpa daun malah lebih bagus,’ tutur Denny. Maklum, kehadiran daun pada bonsai mempunyai efek ganda: menambah indah atau sebaliknya, menutupi dimensi pohon. Bonsai tampak gagah bila letak, arah, dan proporsi daun tepat.

Pantas iprik alias beringin karet berumur 25 tahun itu dinobatkan sebagai best in show. Ia menjadi yang terbaik di antara 187 peserta yang berasal dari berbagai daerah di Sumatera bagian selatan. Sebut saja Bengkulu, Jambi, Lampung, Baturaja, Banyuasin, dan Prabumulih. Toh, sang jawara itu bukan tanpa kelemahan. Sebuah goretan bekas luka masih terlihat pada batang dan cabang. Namun, dua juri-Denny Nayoan dan Jongky B Sulistyo-tetap sepakat menobatkannya sebagai kampiun. ‘Secara keseluruhan penampilannya paling baik,’ kata Jongky.

Dominasi Lampung

Kontes yang digelar di Kota Musi itu menjadi bukti tangguhnya Lampung di mata komunitas bonsai Palembang. Dari 10 besar bonsai terbaik misalnya, enam posisi diboyong oleh daerah di ujung selatan Pulau Sumatera itu. Hanya 3 bonsai asal Palembang-sancang, ulmus, dan jeruk kingkit semuanya milik H Erwin Lismar-yang sanggup menembus 10 besar. Satu posisi ditempati kawista asal Jambi. ‘Justru itu membuka mata kita. Banyak bonsai yang bagus, tapi gagal tembus 10 besar karena belum ditraining maksimal. Hasilnya, tak menang dan tak kalah karena sejatinya banyak bonsai Palembang mendapat predikat baik,’ tutur Ashary, kolektor dari Kota Pempek itu.

Meski gagal merebut banyak piala, kontes yang digelar PPBI cabang Palembang itu menjadi tonggak sejarah bagi komunitas bonsai di Bumi Sriwijaya. ‘Ini kontes bonsai pertama berskala regional di Palembang. Tepat berbarengan dengan pengukuhan terbentuknya PPBI cabang Palembang untuk pertama kali,’ kata Yudi Wijanarko, panitia pelaksana. Munculnya PPBI cabang Palembang itu ibarat sebuah metamorfosis dari Sriwijaya Bonsai Asosiasi yang pernah getol melaksanakan kontes skala lokal di akhir 80-an hingga awal 90-an.

Menurut ketua umum PPBI Pusat, Saptodarsono, hajat PPBI cabang Palembang itu tergolong sukses karena mampu menghadirkan 187 peserta. Pagelaran itu dimeriahkan pula dengan hadirnya 19 peserta stan tanaman hias. Bahkan 2 juri asal PPBI sempat menobatkan Angelin’s Flower sebagai stan terbaik pada pameran yang digelar pada 2 Oktober-4 November 2007 itu. ‘Ini bukti komunitas bonsai dan tanaman hias lain bisa bersinergi,’ kata Yudi.

Surabaya

Ingar-bingar kontes bonsai tak hanya terdengar dari Pulau Sumatera. Dua hari berselang kontes bonsai digelar di Surabaya National Flora Expo 2007. Sebanyak 50 peserta beradu gagah untuk membuktikan yang terbaik. Peserta berasal dari Ponorogo, Situbondo, Surabaya, dan Madura. Kali ini 3 juri-Wawang Sawala asal Gresik, Yayat Hidayat dari Jakarta, dan Sukris asal Yogyakarta-hanya menentukan 10 bonsai terbaik dan

Bila di Pulau Sumatera takhta jawara banyak direbut oleh Chandra Setiawan dari Lampung, maka hal serupa terjadi di Surabaya. Sebanyak 50% bonsai di posisi 10 besar diboyong Honggo Jiwa Saputra, kolektor bonsai asal Ponorogo. Dominasi Honggo kian mencuat setelah pusu-yang juga minim daun-dinobatkan sebagai best in show. Sementara santigi dan pusu batu miliknya berturut-turut menempati posisi kedua dan ketiga. Ponorogo pun kembali membuktikan sebagai barometer bonsai di Jawa Timur. (Destika Cahyana)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img