Monday, August 8, 2022

Jaboticaba 7 Rasa dalam 1 Buah

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Dari negeri Kanguru, jaboticaba hanya berupa jepretan foto. Makanya, begitu Simon mengajak ke kebun, langsung saja Trubus meluncur.

Kebun seluas 4,3 ha milik Pan Liang Hwa di Chou Zhou, Ping Tung, Taiwan, itu langsung memuaskan rasa penasaran. Di sana 50 pohon berkanopi rindang setinggi 3 m berderet rapi dengan jarak tanam 2 m x 3 m. Buah-buah ungu kehitaman yang bergerombol di batang hingga cabang langsung menyedot perhatian. Itu salah satu ciri khas jaboticaba.

Pan langsung menyilakan Trubus mencicipi buah-buah matang itu. Rosy Nur Apriyanti, wartawan Trubus, memetik buah. ‘Rasanya manis,’ katanya begitu daging buah yang mirip anggur dan bertekstur lembut tercecap di lidah.

Pan menyebut citarasa buah anggota famili Myrtaceae itu berubah seiring pertambahan umur buah. Sembilan hari terakhir menjelang matang-buah matang dalam 20-30 hari pascamuncul bunga-perubahan itu terjadi. Hari pertama, rasanya seperti jambu biji; kedua, manggis; ketiga, leci; keempat, markisa; kelima, srikaya; keenam sampai delapan, anggur. ‘Hari kesembilan saat buah matang sempurna, sensasi rasanya paling enak: manis dan aromanya harum,’ tutur Pan. Wajar bila lebih dari 10 buah langsung tandas dari tangan Trubus.

Acungan jempol untuk rasa buah pun diberikan oleh Gregori Garnadi Hambali, pakar botani di Bogor, dan Yayan Wahyu C Kusuma, staf peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Pusat Konservasi Tumbuhan di Kebun Raya Bogor waktu Trubus hubungi.

Anggur brazil

Sepintas penampilan jaboticaba mirip anggur hitam. Bentuk, warna, dan tekstur dagingnya memang mirip. Buah matang berkulit ungu pekat kehitam-hitaman dengan kulit tipis tapi kencang. Buah muda berwarna hijau. Kulit tipis yang membungkus daging putih bening itu terasa lembut jika dikulum. Karena sifat kulitnya kencang, di Brazil-daerah asal-kulit yang dikeringkan digunakan sebagai obat diare, asma, atau radang. Makanya sebutan anggur brazil pun disematkan.

Dalam satu buah ada 1-5 biji kecil. Di tanahair, penampilan buahnya saru dengan kupa Syzygium polycephalum. Gowok-sebutan kupa di Jawa-memang memiliki warna, bentuk, dan ukuran yang mirip dengan jaboticaba. Namun, keduanya spesies dari genus yang berbeda.

‘Pohon kupa lebih besar, tingginya bisa 12-14 m, sedangkan jaboticaba hanya 6-7 meter,’ kata Greg. Selain itu bunga pada kupa muncul di cabang atau ranting. Jaboticaba bisa berbunga dan berbuah di batang pohon. Di kebun Pan, 3-7 buah bergerombol dengan tangkai buah pendek seolah melekat di batang. Kulit buah kupa juga tak selembut jaboticaba.

Cauliflori

Dari informasi yang terkumpul, jaboticaba jadi sebutan untuk beberapa spesies berbeda yang punya sifat mirip: berbunga majemuk dan muncul di batang, bukan ujung cabang-istilah cauliflori. Meski demikian menurut penamaan terbaru Kew Botanic Garden-salah satu kebun raya tertua di dunia-spesies Plinia cauliflora-lah yang disebut jaboticaba. Nama itu bersinonim dengan Myrciaria jaboticaba, Eugenia jaboticaba dan Plinia jaboticaba.

Namun ada pendapat juga yang mengatakan ada 2 jenis tanaman yang dikenal sebagai jaboticaba. Yaitu Myrciaria jaboticaba dan Myrciaria cauliflora. Myrciaria jaboticaba ukuran buahnya lebih kecil berdiameter sekitar 1-2 cm, tangkai buah berwarna gelap. Sedangkan Myrciaria cauliflora buahnya lebih besar, tangkai pendek sehingga buah hampir melekat pada batang.

‘Sebenarnya ini satu spesies, hanya berbeda bentuk buah,’ tutur Greg. Myrciaria cauliflora ada yang berukuran besar dengan rasa manis, disebut jaboticaba assu paulista. Ada pula yang berukuran lebih kecil dengan kadar asam lebih tinggi dan biasa digunakan sebagai bahan jelly disebut jaboticaba ponhema.

Lain lagi dengan Myrciaria jaboticaba, buah dengan kulit agak keras sehingga tak banyak dibudidayakan itu disebut jaboticaba cuscuda. Sedangkan jaboticaba pingo de mel memiliki ukuran kecil dengan diameter 1- 1,5 cm dan rasanya mirip mountain apple Syzygium malaccense yang tak terlalu manis.

Subtropis

Penelusuran Nesia Artdiyasa, wartawan Trubus, jaboticaba sulit ditemui di tanahair. Tanaman yang banyak dijumpai di Brazil tenggara yang beriklim subtropis itu hanya ada di Kebun Raya Bogor dan Kebun Raya Cibodas. ‘Secara alami, untuk iklim tropis, ia bisa tumbuh baik. Tapi bunga tak melimpah seperti di habitat aslinya,’ kata Yayan, staf peneliti bagian Myrtaceae Kebun Raya Bogor.

Kebun Raya Bogor memiliki 4 koleksi Myrciaria jaboticaba sejak 1930. Itu tanaman asal Port Louis, Mauritius, Afrika. Tanaman yang biasa berbunga pada Agustus sampai September itu tumbuh subur, tapi bunganya tak selalu melimpah.

Berbeda dengan Taiwan yang beriklim subtropis. Tanaman berdaun lancet itu berbuah lebat di kebun Pan. Pantas lulusan Chao Zhao Academy itu berani membuka kebun komersial. Pohon induk didatangkan dari Hawaii, Amerika Serikat, 24 tahun silam. Dari pohon induk itu, ia memproduksi bibit untuk kebutuhan sendiri dan dijual sebagai tanaman buah dalam pot.

Selama 10 tahun terakhir pria 53 tahun itu menjual 50.000 bibit setinggi 50 cm seharga 100 NT setara Rp26.500 per tanaman. Itu ditambah 4.000 tanaman setinggi 1,5 m berumur 4 tahun seharga 4.000 NT dan pohon umur 8-10 tahun senilai 6.000 NT per tanaman.

Kini kebun Pan yang dibangun 11 tahun silam itu mulai berproduksi. ‘Pada 2006 panen raya pertama,’ tuturnya. Buah dijual 500 NT setara Rp132.500 untuk 50 buah. (Nesia Artdiyasa/Peliput: Rosy Nur Apriyanti dan Sardi Duryatmo)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img