
Jagung manis kaya betakaroten dan menghasilkan 4 tongkol per tanaman.
Dunia pemuliaan masa kini mirip tren telepon genggam. Dahulu sebuah telepon terdiri atas hanya satu kartu. Kini dalam sebuah telepon seluler terdiri atas 2—4 kartu. Semula sebuah tanaman jagung hanya menghasilkan satu atau dua tongkol. Dari tangan pemulia di Universitas Gadjah Mada, Dr Budi Setiadi Daryono MAgrSc PhD, hadir jagung manis terdiri atas empat tongkol per tanaman.
Menurut Budi 4 tongkol itu terdiri atas dua jenis, yakni jagung muda alias baby corn dan jagung tua—masing-masing dua tongkol. Pekebun yang menanam gama jagung manis—nama jagung baru itu—memang bakal dua kali panen. “Dua tongkol terbawah dipanen sebagai jagung manis muda atau sweet baby corn dan yang atas sebagai jagung pipilan,” kata doktor Genetika Molekuler dan Pemuliaan Tanaman alumnus Tokyo University of Agriculture itu.
Bobot rendah
Panen pertama ketika tanaman berumur 48—50 hari setelah tanam (hst). Ketika itu pekebun memetik dua tongkol baby sweet corn alias jagung muda yang lazim sebagai bahan sayuran. Jika populasi 44.000 tanaman per ha, maka pekebun menuai 1,2 ton baby corn. Produksi itu memang lebih rendah ketimbang hasil budidaya monokultur yang mencapai 5—6 ton per ha. Sementara pada panen kedua saat tanaman berumur 63—65 hari atau paling cepat 15 hari usai panen perdana.
Pada panen kedua, pekebun juga memetik 2 tongkol jagung manis per tanaman. Bobot sebuah tongkol gama jagung manis 75 gram. Ukuran tongkol berkisar 18—20 cm dan diameter 5—6 cm. Pengukuran kadar gula menunjukkan angka 120 briks. Dari lahan 1 ha pekebun menuai 7,8 ton jagung pipilan. Adapun budidaya jagung manis secara monokultur menghasilkan 8 ton per ha. Artinya produktivitas jagung baru itu di bawah produksi jagung secara monokultur dengan satu tongkol.
Menurut Budi dari sisi bobot gama memang kalah dibanding jagung manis biasa. Namun, dari sisi jumlah, gama jauh lebih unggul. Lagi pula di pasaran jagung manis dijual berdasarkan satuan tongkol, bukan bobot. Ihwal bobot tongkol gama yang lebih rendah, Willy Bayuardi Suwarno, SP, MSi, pemulia tanaman Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, mengatakan, “Semakin banyak jumlah tongkol, semakin kecil ukuran tongkol. Pasalnya, distribusi fotosintat atau hasil fotosíntesis terbagi ke setiap tongkol.”
Ia mengatakan jagung manis memiliki potensi genetik untuk menghasilkan tongkol lebih dari dua. Namun, jumlah tongkol berbanding terbalik dengan ukuran tongkol. Itu sesuai dengan penelitian Budi. Jika seluruh tongkol dipanen sebagai jagung manis, hasilnya ukuran tongkol menyusut hingga 10—12 cm. Budi menguji coba jagung gama di lahan 2.000 m2 di Desa Kalitirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, Yogyakarta dengan ketinggian 120 meter di atas permukaan laut. Jagung manis ditanam pada jarak tanam 75 cm x 20 cm dengan satu tanaman per lubang.
Temuan Budi juga istimewa karena saat panen tongkol, keadaan batang dan daun masih berwarna hijau sehingga bermanfaat sebagai pakan ternak. Bandingkan dengan jagung biasa, ketika panen keadaan daun telah kering. Ibarat pepatah, sekali mendayung, 2—3 pulau terlampaui. Sekali panen dapat jagung manis pipil, jagung muda, dan hijauan batang.
Tinggi betakaroen
Selain itu jagung itu juga kaya betakaroten. Kadar betakaroten dalam biji jagung mencapai 0,081—0,114 ppm. Semula kadar betakaroten jagung hanya 0,038—0,048 ppm (bagian per juta). Adapun kadar betakaroten pada umbi wortel sebesar 160 ppm. Peningkatan itu karena proses biofortifikasi. Biofortifikasi lebih unggul ketimbang fortifikasi biasa karena vitamin yang dikandungnya lebih stabil dan tidak mudah hilang saat transportasi dan pengolahan. (Baca: Jagung Berlimpah Betakaroten, Trubus Mei 2011).
Menurut Willy Bayuardi Suwarno, SP, M.Si, fortifikasi adalah penambahan satu atau lebih zat gizi ke dalam bahan pangan. Tujuannya meningkatkan tingkat konsumsi zat gizi yang ditambahkan. Peran pokok dari fortifikasi pangan adalah pencegahan. Fortifikasi betakaroten mencegah defisiensi atau kekurangan nutrisi itu pada masyarakat yang konsumsi utamanya jagung. “Jadi, kebutuhan betakaroten terpenuhi dengan mengonsumsi jagung,” ujar Willy.
Betakaroten atau karotenoid merupakan keluarga fitonutrien yang mewakili salah satu kelompok besar pigmen pada tanaman. Senyawa itu salah satu dari 50 karotenoid yang dikenal sebagai senyawa provitamin A. Tubuh dapat mengonversi betakaroten menjadi retinol, yang merupakan bentuk aktif dari vitamin A. Makanan yang mengandung betakaroten membantu mencegah kekurangan vitamin A yang penting untuk menjaga kesehatan mata, tulang, kulit, metabolisme yang sehat, dan menjaga sistem kekebalan tubuh.
Selain menyebabkan rabun senja, kekurangan vitamin A meningkatkan risiko kematian. Menurut Prof dr Veni Hadiu MSc PhD dari Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, anak yang kekurangan vitamin A mudah terserang infeksi seperti infeksi saluran pernapasan akut, campak, cacar air, dan diare. Makanan yang mengandung betakaroten berwarna jingga atau kuning. Namun, tidak tertutup kemungkinan makanan yang kaya betakaroten mempunyai warna selain kedua warna itu, seperti merah muda, merah, atau putih.
Pasalnya, pigmen fitonutrien lainnya berbaur bersama dengan betakaroten sehingga memberikan warna yang unik. Dalam riset itu Budi bekerja sama dengan tim mahasiswa Laboratorium Genetika dan anggota staf lapangan Kebun Pendidikan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Universitas Gadjah Mada. Mereka merilis jagung kaya betakaroten agar masyarakat yang mengonsumsinya mendapat asupan betakaroten memadai.
Jagung kaya betakaroten itu hasil persilangan tetua jagung yang kaya betakaroten. Tetua gama jagung manis adalah talenta dan provit-A. Talenta jagung manis produksi PT Agri Makmur Pertiwi (AMP) sebagai tetua betina; provit-A, jagung tinggi betakaroten besutan Badan Penelitian Tanaman Serealia, Maros, Provinsi Sulawesi Selatan.
Kelebihan talenta produktivitas tinggi, 2—4 tongkol berukuran sama besar per tanaman. Penampang daun talenta juga lebar dan batang kokoh sehingga mampu menyokong makanan dan menopang hasil panen 2—4 kali lipat jagung biasa. Sementara tetua jantan, provit-A berproduksi tinggi, yaitu 7,4 ton per ha untuk provit-A1 dan 8,8 ton per ha untuk provit-A2. “Hasilnya jagung manis bertongkol 4, berpotensi hasil tinggi, dan kaya betakaroten,” ujar pria kelahiran 26 Maret 1970 itu. (Kartika Restu Susilo)
