Friday, December 9, 2022

Mari Berhidroponik di Emper

Rekomendasi
Hidoponik tanpa greenhouse
Hidoponik tanpa greenhouse

Menanam sayuran dengan peranti hidroponik sederhana. Cocok untuk para pehobi di perkotaan.

“Ternyata hidroponik itu simpel, tak serumit yang kita bayangkan,” kata pengusaha di Surabaya, Jawa Timur, Budi Pangestu, ketika memperoleh penjelasan dari penjaga paviliun ACK Hydrofarm saat pameran Horti Asia di Bangkok, Thailand, pada 9—11 Mei 2013. ACK Hydrofarm produsen sayuran hidroponik di Suan Luang, Bangkok. Perusahaan itu memproduksi peranti hidroponik jinjing. Ukurannya hanya 35 cm x 25 cm.

Selada tumbuh di atas nampan plastik berisi media hidroponik. Tampilannya amat seronok sehingga mengundang pengunjung datang. Ketika itulah penjaga anjungan ACK Hydrofarm menjelaskan cara “berkebun” sayuran skala rumahan dengan peranti sederhana. Harganya 350 baht setara Rp120.000. Pembeli peranti hidroponik itu langsung mendapat perlengkapan yang terdiri dari baki, gelas-gelas sebagai wadah tanam, media tanam berupa campuran perlit dan vermikulit, nutrisi A dan B, lengkap dengan benih sayuran daun seperti baby lettuce dan rocket salad.

Lebih besar

Caranya, benih ditumbuhkan pada gelas-gelas wadah tanam yang dialasi dengan baki. Untuk mencegah tanaman kekurangan air, ketinggian air harus dijaga pada 0,5 cm dari dasar baki. Pada hari ketiga, tanaman yang tumbuh baik memiliki setidaknya 2—3 lembar daun kecil. Baki yang sebelumnya diletakkan di tempat teduh selanjutnya dipindah ke tempat yang mendapat sinar matahari. Larutan nutrisi diberikan pada hari kelima setelah tanam dengan dosis 3 cc per liter air untuk masing-masing jenis nutrisi A dan B dengan cara yang sama yaitu menuangkannya ke dalam baki hingga setinggi 0,5 cm dari dasar baki. Setelah umur 4 minggu, tanaman sayuran mini dapat dipanen.

Bila ingin bertanam sayuran daun yang memerlukan ruang tumbuh lebih besar, contohnya salanova, perlu rak dengan jarak antartanaman lebih longgar. Untuk kebutuhan itu, perusahaan yang berpusat di Thailand itu juga menawarkan paket hidroponik teknik NFT (Nutrient Film Technique) beragam ukuran mulai 100 cm x 80 cm dengan kapasitas 18 tanaman, 200 cm x 80 cm (38 tanaman), 300 cm x 80 cm (58 tanaman), hingga 600 cm x 120 cm (96 tanaman).

Harga seperangkat peranti hidroponik rumahan itu bervariasi antara 4.500—22.000 baht setara Rp1,5-juta hingga Rp7,2-juta. Serupa dengan paket hidroponik mini, paket hidroponik NFT itu dilengkapi nutrisi dan benih termasuk konstruksi rak yang terbuat dari almunium. Untuk keperluan aliran nutrisi ke tanaman, terdapat ruang penyimpanan air (reservoir) berkapasitas 50 liter lengkap dengan pompa untuk mengalirkan nutrisi.

Cara penanaman sayuran menggunakan paket hidroponik mini dan paket hidroponik NFT serupa. Bedanya, bibit yang dibesarkan dalam baki penanaman dipindahkan pada rak hidroponik pada paket hidroponik NFT pada umur 2 minggu. Tujuannya, agar tanaman tumbuh optimal.  Setelah pindah tanam, sayuran dapat dipanen 28—30 hari kemudian. Total waktu budidaya cukup 42—44 hari tanam. Dalam waktu singkat itu pehobi panen sayuran segar di teras atau halaman rumah. Jika benih atau larutan nutrisi habis, pehobi tetap dapat membudidayakan sayuran hidroponik dengan membeli kedua bahan itu di pasaran.

Menurut pekebun sayuran hidroponik di Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Kunto Herwibowo, berkebun hidroponik tanpa greenhouse skala kecil di perumahan bukan berarti bebas risiko. Meski pemilik bisa lebih intensif memelihara tanaman, serangan hama tetap jadi risiko. “Bila hama tidak memperoleh cukup makanan dari pepohonan dan tumbuhan di sekelilingnya, mereka lari memakan tanaman sayuran,” ujar Herwibowo. Ia menyarankan tanaman seperti rumput teki Cyperus rotundus dibiarkan tumbuh sebagai pengalih perhatian hama. Cara lainnya bisa dengan menanam pohon kayu putih seperti yang dilakukan Brian Ellis dan Dan Buckley, pekebun hidroponik tanpa screenhouse di Australia.

Keunggulan bertanam sayuran daun secara hidroponik antara lain penggunaan lahan tidak terlalu luas. Tanaman juga lebih bersih karena tidak bersentuhan dengan tanah. Hidroponik pada umumnya identik dengan investasi tinggi. Harap mafhum, biaya pembuatan screenhouse mencapai Rp30.000/m2 atau Rp300-juta per hektar. Screenhouse itu diperlukan karena serangan hama menjadi salah satu masalah utama pada budidaya tanaman sayuran daun secara hidroponik. Dengan rak hidroponik NFT, berkebun sayuran hidroponik di halaman bisa diwujudkan. (Kiki Rizkika)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Mentan Ingin Produk Hortikultura Segera Tembus Pasar Mancanegara

Trubus.id — Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menginginkan produk hortikultura, seperti buah dan sayur bisa tembus pasar mancanegara. Mengingat,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img