Bonsai asal rawa-rawa tampil sebagai juara umum.

Penampilan bonsai cucur atap Baeckea frutescens itu sangat mempesona. Tanaman bak pohon besar. Setiap percabangan membentuk tajuk-tajuk kecil yang sangat rapi. Batang besar yang kulitnya mengelupas itu menopang tajuk-tajuk kecil. Pebonsai Malaysia, Tin Chok Teng, berhasil mengembangkan tanaman yang di Indonesia disebut sapu-sapu dan jungrahab itu menjadi istimewa sehingga berhasil meraih Royal Floria Grand Championship Award pada kategori lokal pada lomba bonsai di Malaysia. Ia berhak meraih trofi dan hadiah RM2000.

Selain kualitas cukup baik, jenis tanaman yang banyak tumbuh di rawa-rawa itu jumlahnya cukup dominan sehingga menggeser anting putri yang biasanya merajai pameran bonsai di Malaysia. Dalam pameran itu hanya ada beberapa anting putri yang tampil. Untuk kategori impor, bonsai Celtis sinensis tampil sebagai pememang Royal Floria Grand Championship Award. Koleksi Chin Choy Fook itu terlihat kokoh dengan percabangan yang sangat baik. Untuk itu, ia meraih trofi dan hadiah RM3000.
Taman floria

Cabang-cabang sapu-sapu itu besar tetapi meliuk-liuk serta ranting-ranting yang lebat dan liar membuat bonsai itu terlihat sangat alami. Semua keistimewaan itu bisa diamati secara seksama lantaran bonsai itu tampil tanpa daun layaknya pepohonan di musim gugur. Perakarannya pun sangat baik dan tersusun kokoh mencengkeram tanah. Pameran bonsai itu berlangsung di Putrajaya pada 27 Mei—1 Juni 2016.
Perhelatan internasional yang diselenggarakan oleh Persatuan Bonsai dan Suiseki Malaysia itu bagian dari Royal Floria Putrajaya 2016. Pameran flora itu mirip dengan Flona yang berlangsung setiap tahun di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Putrajaya adalah sebuah kota baru pusat pemerintahan Malaysia, menggantikan Kualalumpur. Kota itu terletak antara Bandar Udara Internasional Kualalumpur (KLIA) kota Kualalumpur.

Kunjungan saya ke Malaysia untuk menghadiri undangan ketua Malaysian Bonsai & Suiseki Society, Datok Phui Ke Kiang. Saya hadir bersama istri dan Kang Hee Jung, seorang ekspatriat asal Korea dan menjadi anggota PPBI di acara itu. Ternyata ada beberapa penggemar bonsai Indonesia hadir pula di pesta bonsai itu. Lokasi pameran di area terbuka di Taman China, salah satu taman tematik di Floria.
Pada pameran itu hadir sekitar 150 bonsai pilihan berbagai ukuran. Mulai dari ukuran sedang hingga sangat besar. Bonsai yang ditata di bagian luar taman, rata rata berukuran sekitar 100 cm. Sementara yang berada di halaman dalam adalah bonsai berukuran sedang, dengan tinggi sekitar 70 cm. Peserta pameran dibagi atas dua kategori, yaitu lokal dan impor. Tanaman lokal yaitu bonsai yang dibentuk di Malaysia, sedangkan tanaman impor didatangkan dari luar negeri, terutama Taiwan dan Indonesia.

Jenis lokal yang paling banyak dipamerkan ialah cucur atap alias jungrahab dan anting putri Wrightia religiosa. Bonsai anting putri yang tampil sebagian besar tanpa daun sehingga memamerkan keindahan perantingan dan lekuk likunya. Ada pula jenis tanaman yang bibitnya berasal dari luar negeri tetapi sudah dikembangkan di Malaysia. Contohnya Celtis sinensis, Juniperus chinensis, Malphigia glabra, Ficus microcarpa, dan Buxus harlandii.
Gaya Taiwan
Malaysia banyak menimba ilmu bonsai dari Taiwan. Gaya pembuatan maupun cara penyajiannya sangat terpengaruh oleh seni bonsai Taiwan. Gaya itu bisa dilihat pada beberapa Juniperus chinensis dari Taiwan yang tampil di kontes itu. Yang membanggakan Indonesia, yaitu hadirnya sebuah bonsai yang dibentuk oleh Mohamad, seorang warga negara Indonesia yang bermukim di Malaysia.

Ada pula cemara udang yang merupakan tanaman asli Indonesia yang tampil dengan gaya semicascade. Pada umumnya bonsai yang dipamerkan cukup berkualitas. Dengan hadir di ajang itu, kami dapat mengetahui kualitas bonsai Malaysia sehingga dapat menjadi tolok ukur bagi bonsai-bonsai di Indonesia. Dari segi variasi jenis tanaman, Indonesia memiliki jauh lebih banyak pilihan.
Jenis pohon untuk dibonsai di Malaysia lebih terbatas. Salah satu kelebihan bonsai di Malaysia ialah pemakaian pot yang semuanya bagus dengan bahan keramik buatan Tiongkok. Pameran bonsai itu berhasil mengundang lebih dari 100 pebonsai dari berbagai negara. Sebagian besar datang dari Taiwan, Filipina, Korea, Indonesia, dan Vietnam. Floria mampu menggaet jutaan pengunjung untuk hadir menyaksikan pameran bonsai itu.

Selain pameran bonsai dan suiseki, juga dilakukan demonstrasi pembuatan bonsai oleh artis Taiwan, Tiongkok, dan Malaysia. Tamu asing juga diajak meninjau koleksi pribadi dari anggota yang memiliki banyak koleksi di Malaysia, dan menyantap durian musangking yang terkenal sangat lezat. Acara pun dimeriahkan dengan lelang bonsai, peralatan bonsai, dan suiseki. Kesempatan itu juga dipakai untuk mengundang para pengunjung untuk hadir pada pesta bonsai berikutnya di Taiwan pada November 2016 dan di Korea pada September 2017. (Ir Budi Soelistyo, Ketua Perhimpunan Penggemar Bonsai Indonesia Cabang Jakata)
