Thursday, July 25, 2024

Jejak Mataram di Pokok Mentaok

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus — Tanaman setinggi 10 m tumbuh menjulang di depan rumah warga Pleret, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Mayoritas warga sekitar belum mengetahui nama pohon itu. Pengemudi daring yang mengantar reporter Trubus ke lokasi itu pada suatu pagi juga bertanya, “Tanaman apa itu?” Pohon itu menjadi cikal-bakal berdirinya kerajaan Mataram. Nama pohon itu mentaok.

Peneliti konservasi sumber daya genetik di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPPBPTH), Yogyakarta, Lukman Hakim, S.Hut., M.P., menuturkan, pokok atau pohon mentaok identik dengan sejarah berdirinya Kerajaan Mataram Islam yang menjadi cikal bakal Kesultanan Yogyakarta Hadiningrat saat ini. Lukman mengunjungi lokasi pohon mentaok itu berkat arahan abdi dalem Keraton Surakarta yang bertugas di Makam Raja-Raja Mataram Kotagede, Nugroho Samekto.

Daun mentaok berpotensi mengatasi leukemia berdasarakan riset ilmiah. (Dok. Trubus)

Menurut guru besar bidang arkeologi di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Timbul Haryono, M.Sc., lokasi berdirinya Kerajaan Mataram Islam berupa hutan mentaok (alas mentaok). Sebagian besar hutan itu berisi tanaman mentaok Wrightia javanica. Nurhadi B.A. dan Armeini B.A. dalam Laporan Survei Kepurbakalaan Kerajaan Mataram Islam (Jawa Tengah) menyatakan hutan mentaok adalah hadiah untuk Ki Ageng Pemanahan dari Sultan Pajang.

Ki Ageng Pemanahan berhasil mengatasi pertikaian keluarga antara Sultan Pajang dan Adipati Jipang, Arya Penangsang. Selanjutnya Ki Ageng Pemanahan menebang hutan yang mayoritas berisi pohon mentaok untuk pembangunan Desa Mataram. Kotagede sebagai pusat kerajaan pertama. Menurut Lukman alas mentaok diduga membentang dari timur laut hingga tenggara Kota Yogyakarta.

Tanaman anggota famili Apocynaceae itu berhabitus pohon dengan tinggi bisa mencapai 15 m, berbatang lurus dan bercabang banyak, serta berkulit kayu cokelat gelap dengan retakan pada bagian permukaan. Daun mentaok tunggal berbentuk elips dengan ujung daun meruncing. Bagian bawah daun sedikit kasar. Bunga mentaok berwarna putih, berumah ganda, dan berbentuk malai.

Salah satu kegunaan kayu mentaok sebagai bahan
baku pembuatan warangka keris.

Bentuk buah lonjong sepanjang 35 cm dengan belahan di bagian tengah. Biji dalam buah tersebar ketika buah tua pecah. Prof. Timbul Haryono mengatakan, kayu mentaok digunakan sebagai bahan baku barang kerajinan lantaran seratnya yang halus dan mudah dikerjakan. Ada juga yang menggunakan kayu tanaman kerabat oleander Nerium oleander itu sebagai warangka keris. Bedanya kayu mentaok tanpa corak.

Lukman mengatakan, masyarakat Bali memanfaatkan kayu mentaok sebagai bahan baku patung lantaran mudah dibentuk. Selain itu, kegunaan lain kayu mentaok sebagai alas papan, alat musik, batang pensil, dan wayang. Sayangnya keberadaan pohon yang sarat sejarah dan bernilai budaya itu makin sulit ditemukan di DIY, khususnya Kotagede. Hasil riset ahli dendrologi dari Fakultas Kehutanan, UGM, Atus Syahbudin, S.Hut., M. Agr., Ph. D., dan rekan hanya menemukan 8 pohon mentaok di Kecamatan Kotagede, Kota Yogyakarta.

Atus memilih Kotagede karena diperkirakan bekas alas mentaok berada di tempat itu. Penelitian itu bertujuan mengetahui sisa keberadaan pohon mentaok dan variasi morfologinya. Satu tanaman berada di area Makam Raja-Raja Mataram di Kotagede. “Tujuh mentaok lainnya berada di hutan kota di Kotagede,” kata doktor Bioresource Sciences alumnus Ehime University, Jepang, itu. Tinggi tanaman rata-rata 8 m dan berdiameter 90,7 cm. Perbedaan morfologi meliputi keberadaan bulu pada permukaan daun.

Ahli dendrologi dari Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada, Atus Syahbudin, S.Hut., M. Agr., Ph. D. (Dok. Atus Syahbudin)

Atus kecewa dengan hasil penelitian yang dilakukan pada November 2017—Januari 2018 itu karena hanya sedikit mentaok yang ditemukan. Selain itu, warga sekitar pohon mentaok pun tidak mengetahui identitas tanaman kerabat kamboja Plumeria alba itu. Semula Atus meragukan pohon yang ditemukan termasuk mentaok. Alasannya berdasarkan diorama babat alas mentaok di Balai Kota Yogyakarta, batang pohon yang ditebang melintir.

Ia mengatakan, “Pada diorama tidak ada keterangan pohon. Jika alas mentaok berarti yang paling banyak pohon mentaok. Jadi saya berasumsi batang dan kulit batang mentaok melintir,” kata pria asli Yogyakarta itu. Seiring berjalannya waktu Atus menemukan mentaok berukuran relatif besar di Kabupaten Bantul, DIY. Diameter batang tanaman kebun milik warga itu sekitar 60 cm dan mulai melintir. Ia menduga batang melintir terjadi pada tanaman berukuran relatif besar. Bukan pada tanaman muda yang berdiameter lebih kecil.

Dengan kata lain pohon mentaok yang ia temukan termasuk tanaman muda lantaran batangnya belum melintir. Oleh karena itu, Atus menduga 7 mentaok di hutan kota berasal dari luar Kotagede berdasarkan tinggi dan diameter. “Jika itu tanaman asli maka pohonnya besar dan tinggi. Jadi itu tanaman baru,” kata pria berumur 42 tahun itu. Sementara mentaok di area Makam Raja-Raja Mataram di Kotagede asli turun-temurun sejak dahulu. Meski begitu perlu dilakukan uji genetik untuk memastikan kebenaran dugaan itu.

Diorama di Balai Kota Yogyakarta yang menunjukkan pembukaan alas mentaok. (Dok. Atus Syahbudin)

Atus mewawancarai masyarakat sekitar terkait pengetahuan mereka tentang mentaok. Hasilnya sebagian besar masyarakat sekitar penemuan pohon tidak mengetahui tanaman kerabat adenium Adenium obesum itu. Hal itu menjadi perhatian besar Ayus. “Harus ada restorasi fisik dan pengetahuan mentaok untuk masyarakat termasuk generasi muda. Restorasi alas mentaok di Kotagede belum terlihat sama sekali,” kata pria yang sangat mencintai pohon-pohon asli Indonesia itu.

Menurut Lukman pergeseran nilai-nilai sosial dan penyempitan ruang terbuka hijau mempengaruhi populasi mentaok di alam. Atus menuturkan, faktor sosial ekonomi pun berperan pada degradasi hutan. Itu sejalan dengan penelitian Atus tentang tanaman dalam hutan Gunung Lawu dan masyarakat sekitar. Salah satu hasil riset menunjukkan masyarakat golongan tua di sekitar Gunung Lawu menyebutkan tanaman masa kini yang bernilai ekonomis tinggi.

Atus sangat yakin masyarakat mengutamakan tanaman yang bernilai ekonomis tinggi. Bisa dibilang wajar saja masyarakat “membiarkan” mentaok hilang. Kemungkinan itu terjadi karena mentaok belum bernilai ekonomis tinggi bagi masyarakat saat itu. Oleh karena itu, Pemerintah Daerah DIY berencana melindungi kekhasan daerah termasuk flora dan fauna. Meski persebaran mentaok meliputi daerah lain di Indonesia, tanaman itu tetap khas Yogyakarta. “Definisi lain khas yakni mempunyai nilai sejarah dan pemanfaatan untuk daerah itu,” kata Lukman.

Peneliti konservasi sumber daya genetik di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPPBPTH), Yogyakarta, Lukman Hakim, S.Hut., M.P.

Lukman dan tim menjadikan mentaok sebagai target tanaman untuk diselamatkan sejak 2018. Kegiatan itu meliputi mengoleksi mentaok dari beberapa tempat di DIY dan memperbanyaknya di persemaian BBPPBPTH Yogyakarta. Keterbatasan anggaran membuat tim peneliti mengoleksi mentaok di DIY. Idealnya pengumpulan mentaok berasal dari berbagai daerah sehingga muncul tanaman bermateri genetik tinggi. Lukman berharap mendapatkan sekitar 400 bibit mentaok pada 2019.

Ia dan tim berupaya mengembalikan alas mentaok dengan menanam 400 tanaman di Taman Hutan Raya (Tahura ) Bunder Gunung Kidul. BBPPBPTH Yogyakarta dan pengelola Tahura Bunder bersepakat mengembangkan tanaman kerabat bintaro Cerbera manghas itu pada pengujung 2019. Kemungkinan rencana itu belum bisa terwujud lantaran hanya terkumpul sekitar 20 bibit mentaok. Mendapatkan bibit mentaok pun sulit.

Musababnya tim periset belum mengetahui pasti waktu berbunga, berbuah, dan buah mentaok masak. Buah pecah ketika masak dan bijinya tersebar sehingga mereka sulit mengumpulkan. Kendala itu menyulitkan tim peneliti memperbanyak tanaman secara generatif. Cara lainnya perbanyakan vegetatif. Tim peneliti mengumpulkan bahan setek dari cabang mentaok.

Bunga tanaman mentaok.

Tim lalu memasukkan setek ke dalam polibag berisi campuran tanah dan pupuk organik. Tanaman kemudian disungkup agar kelembapan dan suhu terjaga sehingga tumbuh akar dan daun. Kini terdapat sekitar 20 bibit mentaok yang berasal dari anakan pohon yang dikumpulkan dengan teknik puteran dan perbanyakan vegetatif. Lukman berharap bibit mentaok yang ditanam pada pengujung 2019 menjadi sumber benih sehingga tetap lestari.
Perlu dilakukan juga inventarisasi dan pemeliharaan tanaman untuk menjamin kelestarian mentaok. Tujuannya agar mentaok tidak tinggal cerita. Masyarakat, terutama generasi muda, memahami dan mengenal tanaman yang sarat sejarah terkait berdirinya kerajaan Mataram Islam. (Riefza Vebriansyah)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Kembangkan Kelapa Genjah Merah Bali, Pekebun Panen Lebih Cepat

Trubus.id—Gede Sukrasuarnaya kesengsem penampilan kelapa genjah merah bali. “Warnanya cantik jingga kemerahan. Buahnya lebih banyak dan lebih besar dibandingkan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img