Jeruk unggul hasil persilangan jeruk siam pontianak dan keprok soe.

Trubus — Apa jadinya jika jeruk keprok disilangkan dengan jeruk siam? Hasilnya jeruk unggul baru berkulit kuning jingga, manis segar dengan kadar kemanisan mencapai 10—12,2o brix. Produktivitasnya pun tinggi mencapai 36 – 40 kg per tanaman per tahun. Selain itu daya simpan buah mencapai 28—35 hari. Tim peneliti di Balai Penelitian Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) memberi nama jeruk unggul itu sinta ponsoe.

Nama itu singkatan dari siam pontianak dan keprok soe—keduanya induk—dalam persilangan. Jeruk siam pontianak sebagai tetua betina dan jeruk keprok soe sebagai tetua jantan. Keunggulan siam pontianak di antaranya rasa buah yang disukai konsumen Indonesia yaitu manis segar plus produktivitas yang tinggi mencapai 35 kg per pohon per tahun. Adaptasi Citrus sinensis itu juga bagus dari 0—1.000 meter di atas permukaan laut (m dpl).
Persilangan
Jeruk keprok soe unggul dari warna kulit buah yang menarik yaitu kuning jingga plus rasa buah manis segar. Namun, kelemahan Citrus reticulata itu daya adaptasinya rendah yang hanya optimal pada penanaman di ketinggian 800—1.200 m dpl. Hasil persilangan kedua tetua itu diharapkan menghasilkan jeruk hibrida dengan karakter-karakter unggul yaitu rasa buah dominan manis sedikit segar dan kulit buah menarik yaitu kuning hingga jingga.
Selain itu produktivitas tinggi mencapai lebih dari 36 kg per tanaman per tahun dan adaptasi tumbuh yang luas yaitu lebih dari 100 m dpl. Proses perakitan jeruk sinta ponsoe sejak 2006. Proses persilangannya dengan memindahkan serbuk sari dari tetua jantan ke kepala putik tetua betina saat pagi hari. Setelah proses itu, peneliti menyungkup kepala putik untuk menghindari kerontokan dan serangan serangga.

Tim periset memperbanyak tanaman dengan kultur jaringan. Mula-mula tim riset menyelamatkan buah berumur 90 hari setelah persilangan kemudian dan menanam secara invitro. Tim periset menyambung planlet hasil kultur invitro dengan japansche citrus (JC) sebagai batang bawah dengan teknik minigrafting. Peneliti mulai menyeleksi saat tanaman berumur setahun dan fokus terhadap vigoritas dan kecepatan tumbuh tanaman.
Para peneliti menyeleksi dan membandingkan karakter morfologi tanaman hasil persilangan itu dengan jedua tetuanya. Pada fase generatif, seleksi berdasarkan karakterisasi morfologi dan kimia buah. Hasil seleksi selama 7 tahun menghasilkan 40 aksesi yang vigor secara vegetatif dan 15 aksesi yang berkulit buah menarik plus rasa buah sangat manis dan segar. Periset memilih 15 aksesi, lalu terpilih galur berkode P5V2 67.

keprok soe. (Dok. Dr Chaereni Martasari)
Pengembangan di sentra
Galur berkode P5V2 67 itu kemudian menjadi sinta ponsoe—singkatan dari Siam Nusantara Pontianak-Soe. Jeruk itu berhasil dirilis berdasarkan SK Menteri Pertanian No 168/Kpts/SR.120/D.2.7/12/2019. Tim peneliti juga berhasil menyeleksi pohon induk tunggal (PIT) untuk menghasilkan bibit unggul yang siap dibudidayakan petani. PIT itu berhasil teregistrasi dengan nomor Jrs. Sinta PonSoe/JTM/0.022/401/2019.

Karakter-karakter pohon induk terpilih di antaranya subur, berbunga, dan berbuah normal. Dari segi percabangan berkarakter sehat, kuat, dan menyebar merata ke empat arah mata angin. Warna daun hijau mengilap dan membuka penuh. PIT itu memiliki kemampuan menghasilkan entres atau mata tunas mencapai 300—500 buah untuk perbanyakan benih selanjutnya.
Jeruk sinta ponsoe pun siap dikembangkan di sentra-sentra jeruk tanah air seperti Kalimantan Barat, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Sumatera Barat. Tiga tahun mendatang masyarakat dapat mencicipi kelezatan jeruk hidbrida keturnan siam dan keprok. (Dr. Chaireni Martasari, Peneliti di Balai Penelitian Jeruk dan Buah Subtropika)
