Sunday, August 14, 2022

Jopie Samiaji: Di Antara Bau Tembakau dan Bibir Bergincu

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Biar sahih, proses itu diulang hingga 2 kali. Pertama di tengah-tengah lalu berpindah ke atas. “Ini masuk kualitas H, paling bagus,” ujar Jopie Samiaji ketika menakar mutu sekeranjang tembakau. Itu diterapkan pula saat memilih koleksi maskoki. Meski melalui sapuan mata, maskoki bibir bergincu dijadikan pilihan.

Seekor oranda dan 2 ranchu berukuran rata-rata 10—15 cm tampak hilir mudik di akuarium 80 cm x 30 cm x 60 cm. Akuarium itu menghiasi teras belakang kediaman Jopie Samiaji di bilangan Tentara Pelajar, Temanggung, Jawa Tengah. Sepintas lalu tak ada keanehan pada ketiga ikan itu. Namun, saat diamati lebih teliti, para anggota keluarga Cyprinus bercorak merah-putih itu ternyata memiliki bibir bergincu. Seluruh mulut terlihat merah bak diberi lipstik.

“Mereka dikoleksi karena lucu kalau dilihat,“ papar Jopie Samiaji. Pilihan mengutamakan maskoki bergincu itu dilakoni sejak 3 bulan silam. Koleksi Carrasius auratus bergincu masih terbatas, baru 5 ekor. Maklum, menurut kelahiran Surabaya 7 Juli 1966 itu, ia tak sembarangan memilih maskoki bergincu. Setidaknya perlu yang berkualitas kontes.Ikan seperti itu memang sulit diperoleh.

Grader

Kelima maskoki bergincu itu termasuk diantara dari maskoki kesayangan pengusir rasa penat tatkala usai bekerja. Penampung sekaligus grader tembakau dari hampir seluruh pekebun di Temanggung dan sekitarnya itu mengharuskan Jopie bekerja dengan konsentrasi tinggi. Setiap hari ia perlu memeriksa setiap keranjang berkapasitas 40kg—50 kg berisi rajangan tembakau yang dibeli untuk dipasok kembali ke pabrik rokok Minak Jinggo.

Setiap keranjang yang tiba, disodet lalu diambil sejumput sebagai contoh. “Dicium dulu lalu kalau perlu dirasakan oleh lidah untuk dapat menentukan kualitas,” ujar suami Ami Mulyati itu. Hasilnya dibagi dalam 8 kualitas, mulai dari A—H. Untuk masing-masing keranjang diperlukan minimal 5 menit sebelum keranjang-keranjang beranyaman bambu itu disusun di sebuah gudang penyimpanan mirip hanggar pesawat.

“Setiap hari bisa 200—300 keranjang datang dan di periksa kualitasnya. Dan itu harus dilakukan sendiri,“ tutur ayah Evan Samiaji. Padahal untuk kurun Juli—Oktober setiap tahun, jumlah yang harus dicek mencapai lebih dari 10.000 keranjang.

Aktivitas kerja yang dimulai pukul 07.00 itu berakhir selepas ashar. Pagi hari sebelum berangkat, ia meluangkan waktu sejam untuk memberi pakan sang klangenan. Usai bekerja, bila tidak ada kesibukan lain, Jopie pun buru-buru menuju deretan akuarium dan sebuah bak maskoki. “Kasih pakan, mengecek air, lalu duduk-duduk menikmati mereka berenang. Penat jadi hilang,” ujar pria yang meneruskan usaha orangtuanya itu. Kegiatan itu dapat berlangsung 2—3 jam sebelum bercengkerama dengan keluarga.

Menyukai ranchu

Jopie jatuh hati pada maskoki setelah melihat beberapa kontes di Jakarta dan Surabaya. Ia memang sengaja datang selain untuk bersua kawan lama, aroma kompetisi dikontes suka memacu hormon adrenalinnya bergerak lebih deras. Maklum sebelum bermain maskoki, Jopie sudah malang melintang sebagai biang kampiun di berbagai kontes cupang hias di tanah air.

Seekor ranchu corak merah-putih berukuran 16 cm menjadi koleksi perdananya. Ikan yang dibeli seharga Rp3- juta dari hobiis di Bandung itu langsung diterjunkan ke kontes Jogja Ornamental Fish Fiesta Desember 2003. Meski hanya mampu menembus babak 10 besar di kontes, lulusan SMA Karang Turi di Temanggung itu mengaku merasa puas, sekaligus tertantang menjadi kampiun.

Menginjak Februari 2003, koleksinya terus bertambah. Semula 1 ekor kini melonjak hingga 25 ekor. Ikan-ikan pilihan itu dibeli dari beberapa importir maskoki di Jakarta. Jenisnya bervariasiseperti tossa, tosakin, ranchu, butterfly, dan oranda. Mereka dibeli rata-rata denganharga Rp2,5-juta—Rp15-juta tergantung ukuran dan corak. Ranchu bercorak biru kehitaman misalnya menjadi klangenan paling mahal yang dimiliki seharga Rp10-juta. “Ikan ini benar-benar istimewa karena jarang yang coraknya seperti ini,” ujar Jopie.

Yang istimewa lainnya, ranchu bercorak silver seharga Rp15-juta. Ikan asal negeri Siam itu termasuk langka di negeri Bhumibol Adulyadej sekalipun. Jenis ranchu memang paling banyak dikoleksinya. Itu bukan tanpa sebab, “Mereka itu rajanya maskoki. Selain itu termasuk agak manja saat dipelihara. Jadi ada tantangan,” papar pengemar burung kicauan itu.

Impian menjadi kampiun pun akhirnya terwujud. Melalui ranchu jumbo seharga Rp10-juta yang diboyong dari kolektor asal Bandung, Jopie sukses mendulang 2 kampiun. Gelar itu direngkuh saat kontes Starwars 2004 di Surabaya dan Kontes Piala Pangkostrad 2004 di Plaza Maspion, Jakarta beberapa pekan silam.

Kini, Jopie Samiaji meletakkan seluruh koleksinya di 3 tempat. Khusus ranchu, 8 ekor, dipelihara di bak fiber berukuran 2,5 m x 1,5 m. Beberapa tosakin merah putih dan butterfly bercorak hitam dan merah ditaruh di pot keramik meniru hobiis Cina baheula. “Mereka paling indah jika dilihat dari atas,” papar alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi di Bandung itu yang kadang-kandang mengajak serta sang istri ikut menikmati keindahan sang ikan hoki berbibir gincu itu. Bibir maskoki bergincu memang telah melepaskan penat usai indra penciumannya bekerja (Dian Adijaya S)

 

Previous articleBukan Arwana Biasa
Next articleGuangzhou
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img