Friday, August 12, 2022

Kaktus Kuat

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Gymnocalycium genus kaktus yang mempunyai penggemar fanatik.
(foto : Andre Atmaja)

Kaktus itu kuat. Panggilan sayangnya kakti. Ia bisa tumbuh tanpa perhatian. Begitu kata teman saya Jaru, pencinta pusaka di Bangkok, Thailand. Nama lengkapnya Jarunee Khongswadi, pengurus Siam Heritage Society. “Saya terkesan ketika membuang kaktus ke belakang rumah,” katanya. “Pada suatu hari ternyata kaktus itu berbunga. Padahal tidak ada yang merawatnya, tak ada yang melihat dan saya pikir sudah mati.”

Jaru mulai belajar, bahwa tanaman ini tidak perlu banyak perhatian dan suka hidup di bawah terik matahari. Jenis kaktus apa yang dibuang Jaru? Gymnocalycium alias kaktus cincin berwarna hijau biasa. Kalau di Tulungagung, Jawa Timur satu pot kecil berharga Rp45.000. Di Jakarta paling mahal Rp120.000 tergantung tampilan dan spesies. Kolektor kaktus memang sudah merata ke berbagai pelosok dunia.

Kaktus milenial

Eka Budianta

Kaktus cincin itu bermula dari Bolivia Selatan, Brasil, dan Argentina. Bisa dipesan melalui daring, baik untuk yang impor maupun lokal. Di Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat, satu pot Gymnocalycium pflanzii dibanderol Rp650.000. Kalau diangsur cicilannya Rp72.000 per bulan– kata petunjuknya. Jadi, kaktus apa saja yang kini dipelihara Jaru? Setelah delapan tahun menanam kaktus, cukup banyak koleksinya.

Ada Mammilaria sp., Astrophytum sp., Echinopsis sp., Rebutia sp., Frailea sp,, Lobivia sp,, dan seterusnya. “Juli ini memasuki musim hujan,” katanya. “Semua kakti aman karena berada dalam pondok-pondok kaca.” Aktivis milenial itu menyusun rapi koleksinya, lengkap dengan foto-foto dokumentasi. Pondok kaca lebih kecil daripada rumah kaca glass house, yang bisa dipindah-pindah, ditutup rapat, atau dibuat setengah terbuka.

Jaru menolong kaktinya beranak-pinak karena mudah pembiakannya. Kadang-kadang dijual. “Di Bangkok, kaktus pink diamond laku 1700 baht,” katanya. Kalau kurs satu baht senilai Rp455 berarti harganya Rp773.500. Di Indonesia Rp800.000 dapat apa? Oh itu pas untuk Gymnocalycium mihanovichii berdiameter 3,5 sentimeter. Begitu kata iklan Rumah Kaktus yang memasang foto para pelanggannya di acara televisi. Meriah melihat rombongan remaja milenial pamer membawa pot kakti, bergembira.

Sentra kaktus terbesar Indonesia memang di Lembang, Jawa Barat. Namu, kaktus milenial lebih dikenal di Jakarta Barat. Bermacam pot yang cantik tersedia. Perpaduan yang selaras antara pot dan tanaman, mutlak penting dalam seni menanam kakti. Begitu nasihat Fenita Arie, pesohor kakti dari laman Cerita Untung yang ditonton ratusan ribu pemirsa.

Koleksi kaktus yang dibahasnya meliputi ratusan jenis. Dari yang berharga Rp50.000 hingga Rp13 juta! Dari yang masih kecil-kecil sampai kaktus yang sudah tua, dengan pot-pot eksotis yang harganya aduhai pula. Jangan lupa, kaktus bisa hidup antara 80—100 tahun. Di alam bebas bisa lebih seribu tahun! Sekadar contoh kaktus bergengsi Opuntia galapageia dijual eceran US$3.000 atau Rp42juta.

Adapun rekor dunia yang konon tidak dijual, kaktus super langka dari Argentina seharga US$250.000 alias Rp 3,5 miliar dengan kurs Rp14.00 per dolar. Kolektornya bermukim di Los Angeles, California. Maklum – memang critically endangered species – paling rentan terancam punah spesiesnya.

Penyintas kehidupan

Kaktus diyakini sebagai lambang penyintas kehidupan. Mereka berhasil melewati hidup yang sulit, bahkan di lahan-lahan yang berat, nyaris tanpa cinta. Kaktus tidak punya pilihan selain melakukan adaptasi sesuai dengan lingkungan. Setiap kakti harus bertahan dengan cara masing-masing. Ada yang memasang duri untuk melindungi diri. Ada yang menutupi tubuhnya dengan bulu.

Ada pula yang menyamar menyerupai batu-batu seperti di gurun pasir Afrika Selatan. Itu dilakukan keluarga sukulen yang sering disamakan dengan bangsa kaktus karena sama-sama tanaman penyimpan air. Sungguh, Afrika Selatan surga para pencinta kaktus dan sukulen. Komunitas pencinta sukulen dari seluruh dunia kalau pensiun suka pindah ke sana.

Gymnocalycium denudatum milik kolektor kaktus di Surabaya, Jawa Timur. (foto : dok. Trubus)

Di padang gurun, setiap hari bisa belajar waktu berburu kaktus dan sukulen baru. Ini mengingatkan pada kepala Sekolah Menengah Atas saya di Malang. Namanya Emanuel Siswanto – kami panggil Romo Sis. Di ruang kerjanya yang luas, dia menyusun ratusan kaktus dalam pot-pot kecil. Sampai wafat dalam umur 72 tahun, guru ilmu pasti alam itu dikenal hafal nama murid-muridnya. Persis dilakukan oleh sobat saya Jaru di Bangkok yang mengenali nama-nama kaktinya.

Kakti adalah sahabat alami yang setia. Tanpa minta perhatian, mereka tumbuh diam-diam, memberi semangat dan inspirasi seindah-indahnya. “Yang harus dijaga adalah kelembapan dan kehangatan suhu udara,” pesan Fenita Arie Untung pada satu tayangannya. Pesan yang kuat tapi lembut. Bukan hanya untuk pencinta kaktus di Indonesia, tapi di seluruh muka bumi.***

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img