Tuesday, November 29, 2022

Kasih Ayah Sepanjang Masa

Rekomendasi

Untung anak-anak katak L. modestus itu mempunyai ayah yang baik hati dan penuh perhatian. Bayangkan setelah induk betina menelurkan 20-30 butir, induk jantan menjaganya selama 14 hari. Ketika itu keruan saja induk jantan yang sudah ditinggal pergi pasangannya itu berpuasa. Ia siaga penuh menjaga calon generasi penerus itu dari santapan predator. Harap mafhum ular dan serangga terus mengintai telur-telur katak seukuran buah ceremai itu.

Fenomena unik itu ditemukan oleh Kelompok Kerja Konservasi Amphibi Reptil (K3AR) Institut Pertanian Bogor di Taman Nasional Bantimurung, Sulawesi Selatan, pada September 2007. Perilaku induk jantan yang menjaga telur-telur itu memang di luar kelaziman. Menurut Mirza Dikari Kusrini, PhD, dosen Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, hanya 1% dari 1.000-an spesies di tanahair yang menjaga telur.

Induk jantan yang menjaga calon berudu itu biasanya merupakan spesies yang sedikit jumlah telurnya. Betina L. modestus, misalnya, hanya menghasilkan 30 butir; spesies lain, 800- 2.500- an butir. Spesies yang menghasilkan ribuan telur, tak pernah dijaga oleh induknya. ‘Kebanyakan telur dibiarkan hidup mandiri sampai dewasa,’ ujar Mirza.

Telur-telur itu muncul setelah induk jantan mati-matian merayu betina. Pasangan katak L. modestus yang kasmaran itu jalan beriringan. ‘Butuh waktu 12 jam sejak jantan memikat betina sampai telur dibuahi jantan,’ tutur Mirza. Pada tahap awal, jantan bersiul untuk menarik perhatian betina. Kemudian mereka beriringan mencari lokasi kopulasi. ‘Bila merasa tidak cocok, betina yang ukuran tubuh 2 kali lebih besar ketimbang jantan, akan menendang dan meninggalkan jantan,’ kata alumnus Tropical Biology James Cook University di Australia itu. Ah, nasib!

Begitu merasa cocok, kopulasi berlangsung di atas selembar daun. Kadang-kadang mereka berkopulasi di atas serasah yang bawahnya berhubungan langsung ke parit berkedalaman 5-10 cm. ‘Yang penting di bawahnya langsung air dangkal dengan aliran tenang,’ katanya. Sang jantan membuahi secara eksternal. Betina mengeluarkan telur lalu dibuahi jantan. Telur dikeluarkan bertahap, bukan sekaligus.

Esoknya betina kembali bertelur dan tanpa pesan pergi meninggalkan jantan dan telur yang terbungkus dalam yolk-cadangan pakan. Selama 24 jam penuh, jantan menjaga telur-telur itu. Katak jantan memanfaatkan geligi di depan rahang yang berbentuk mirip taring sebagai senjata penghalau predator. Tugas menjaga itu berakhir 2 pekan kemudian. Saat itu yolk habis dan telur telah menjadi kecebong.

Kecebong segera turun ke air untuk berburu pakan. ‘Gerakannya bak ulat keket,’ ujar Prof Dr Djoko T Iskandar, herpetolog dari Institut Teknologi Bandung. Kecebong L. modestus memang mandiri. Bandingkan dengan kecebong L. finchi dan L. palavanensis yang ada di Kalimantan. Mereka-kecebong kedua spesies itu-juga ditinggalkan induk betina. Nah, ketika bermetamorfosis menjadi kecebong, segera mereka naik ke punggung induk jantan untuk diturunkan ke air.

Untuk menjadi katak dewasa, kecebong butuh pakan berupa alga dan cacing. Pakan kaya protein sebagai sumber energi untuk membentuk kaki dan mereduksi ekor. Saat pakan alami melimpah, maksimal sebulan kecebong menjadi katak utuh tanpa ekor. Lamanya waktu metamorfosis itu dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti umur katak, infestasi cendawan, stadium terjadinya pembentukan organ, dan ketahanan larva terhadap predator seperti larva capung dan ular.

Serangan cendawan pada fase telur, misalnya, telur lambat membelah. Bahkan pembelahan menjadi tidak sempurna. Hasilnya, katak dapat berkaki lebih dari empat. ‘Biasanya cendawan mudah menyerang pada telur yang lapisan lendir hampir habis,’ kata Djoko. Penyebab lain, berkurangnya pakan alami membuat produksi hormon tiroksin berkurang. Celakanya, berkurangnya hormon itu menyebabkan katak menjadi kecebong sepanjang hayat. Ia tak pernah menjadi dewasa. Djoko menyaksikan fenomena itu di museum di Perancis. Ia melihat kecebong berukuran 12 cm. ‘Kecebong itu pedomorf dan tidak bisa menjadi katak sempurna,’ katanya.

Katak merupakan bioindikator lingkungan. Itu terlihat dari hasil pengamatan Mirza di Karawang, Jawa Barat, pada 2004. Dari 4.331 katak, sebanyak 170 ekor mengalami perubahan bentuk atau cacat. Perubahan bentuk itu seperti 2 jari kaki depan menempel, tulang punggung bengkok, kaki depan dan belakang bengkok, tidak ada kaki depan dan belakang, dan jari kaki belakang bercabang.

Musababnya, penggunaan pestisida yang tinggi. Kandungan pestisida itu menyerang larva. ‘Biasanya pada larva yang mulai habis lendir yang membungkus tubuhnya,’ ujar Djoko. Hasil itu masih dianggap normal. ‘Bila jumlah yang mengalami deformasi di atas 10 maka lingkungan sudah tercemar,’ ujarnya. Bukti lain, Mirza menemukan bufo berada di hutan Bedogol, Bogor, Jawa Barat. ‘Lazimnya bufo berada dekat dengan pemukiman,’ tambahnya.

Fenomena itu juga terjadi di Amerika Serikat. Berdasarkan penelitian Tyrone Hayes, ahli Biologi Universitas California di Barkeley, katak jantan berubah kelamin akibat terpapar herbisida pembasmi rumput liar. Atrazine-zat kimia herbisida-yang biasa disemprotkan pada ladang jagung dan bayam, mengubah kecebong jantan menjadi hermaprodit alias berkelamin ganda. Saat dewasa, herbisida menyerang hormon testosteron.

Lingkungan terpapar pestisida memang ancaman serius bagi kelangsungan hidup katak. Terutama spesies-spesies yang bertelur sedikit seperti L. modestus. Ia menanggung beban berat sejak ditinggal sang bunda. Beruntung, ayahnya setia menjaga. Bagi spesies itu, kasih ayah memang sepanjang masa. (Lastioro Anmi Tambunan/Peliput: Dian Adijaya Susanto)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img