Trubus.id— Cecep Hendra dan anggota Kelompok Tani Mangga Cengkir Gajah membudidayakan mangga cengkir di lahan 200 hektare (ha). “Kelompok kami beranggotakan 200 orang. Namun, anggota yang aktif saat ini sebanyak 50 orang,” ujar Cecep.
Pekebun asal Kampung Krajan, Desa Bojonegara, Kecamatan Tambakdahan, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat, itu mengembangkan mangga cengkir karena memiliki beberapa keunggulan.
Pemeliharaan tanaman yang maksimal membuat produksi buah tinggi. Potensi gagal lebih kecil dibandingkan dengan mangga jenis lain. “Jumlah produksinya hingga 24 ton per ha,” kata Ketua Kelompok Tani Mangga Cengkir Gajah itu.
Pemasaran buah mangga cengkir ke Pasar Induk Caringin, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat, Pasar Tanah Tinggi Tangerang (Banten), dan Pasar Induk Kramatjati (DKI Jakarta). Harga terendah mangga cengkir berkisar Rp8.000/kg dan Rp24.000/kg untuk harga tertinggi.
Panen raya umumnya pada November—Desember. Kelompok Tani Mangga Cengkir Gajah tidak hanya mengembangkan cengkir, tetapi juga berbagai jenis mangga lain seperti arumanis, golek, dan gedong gincu. Kecamatan Tambakdahan hanya salah satu sentra produksi mangga di Kabupaten Subang.
Berdasarkan data Dinas Pertanian Kabupaten Subang, kecamatan lain yang berpotensi sebagai sentra mangga di Kabupaten Subang antara lain Kecamatan Binong, Cisalak, Compreng, Cibogo, Pusakanagara, dan Patokbeusi.
Pada dasarnya hampir semua kecamatan terdapat tanaman mangga, kecuali di Kecamatan Jalan Cagak dan Ciater. Namun, jumlah tanaman mangga tertinggi terdapat di Kecamatan Tambakdahan yaitu 65.000 pohon atau 22,9% dari total populasi mangga di Kabupaten Subang.
Menurut Kepala Bidang Hortikultura, Dinas Pertanian Kabupaten Subang, Endra Mulyawan, S.P. M.M., total jumlah tanaman mangga di Kabupaten Subang berdasarkan data triwulan IV 2022 sebanyak 283.698 pohon.
