Membudidayakan terong Jepang ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Hal itu dibuktikan oleh Parman yang menanam 5.000 nasu di lahan seluas 2.500 m².
Idealnya satu tanaman mampu menghasilkan tiga kilogram buah. Namun, panen Parman jauh dari target dan kualitasnya pun tidak maksimal.
Akibatnya, perusahaan mitra hanya membeli separuh dari total panen. Sisanya ia coba tawarkan ke pasar tradisional, tetapi pasar menolaknya.
“Pasar lokal tidak tertarik karena warnanya tidak biasa,” ujar Parman, pekebun asal Kecamatan Mantingan, Kabupaten Ngawi. Terong Jepang berwarna hitam, sedangkan terong lokal berwarna ungu terang sehingga lebih menarik minat pembeli.
Parman akhirnya terpaksa membawa pulang hasil panen yang tak terserap pasar. Ia membagikannya kepada para tetangga untuk mengurangi kerugian.
Ia mengakui kegagalan itu disebabkan pengolahan tanah dan perawatan yang kurang maksimal. Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran penting sebelum memulai musim tanam berikutnya.
