Tiga varitas kentang baru berproduksi tinggi dan tahan penyakit hawar daun.

Iman Maulana hanya bisa mengelus dada ketika 70% tanaman kentang di lahan 1 hektare gagal panen akibat serangan hawar daun pada 2008. Hawar daun akibat serangan cendawan Phytophthora sp. “Penyebabnya bermacam-macam. Kebetulan di kebun saya topografinya landai dan kurang aliran angin sehingga banyak kabut dan embun,” kata petani kentang di Pangalengan, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, itu.
Penyebab lain kesalahan pengurus kebun yang terlambat menyemprotkan fungisida dan keliru meramu dosis. Menurut Iman hawar daun menjadi musuh nomor satu petani kentang. “Sekali terkena serangan pasti tidak bisa sembuh. Tanaman akan merana,” kata Imam. Oleh karena itu penyemprotan fungisida harus dilakukan sejak tanaman berumur 10—15 hari setelah tanam (HST).
Hasil tinggi
Saat musim hujan dengan kondisi kabut yang ekstrem penyemprotan fungisida lebih intensif. “Kadang ada istilah kosong satu atau kosong dua di petani. Artinya, jeda penyemprotan fungisida hanya 1—2 hari,” kata Imam. Oleh karena itu dalam budidaya kentang biaya untuk membeli fungisida sangat tinggi, yakni bisa mencapai 30% dari total biaya produksi. Kendala lain perubahan iklim akibat pemanasan global.

Menurut pemilik Green Leaf Farm itu saat ini perubuhan iklim sangat terasa dibandingkan 10 tahun lalu. “Sekarang Pangalengan tidak sedingin dulu,” kata ayah satu anak itu. Menurut Imam untuk memperoleh kentang berkualitas tinggi memerlukan suhu dingin, tapi penyinaran panjang. “Selama ini Pangalengan bisa menghasilkan kentang berkualitas baik pada musim panas,” katanya.

Menurut peneliti di Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Dr Liferdi Lukman SP MSi, perubahan iklim kini memang menjadi kendala. “Pada 10—20 tahun lalu, ada persepsi masyarakat kota Bandung dan Bogor itu beriklim sejuk. Kini berubah menjadi panas,” kata pria yang juga Ketua Badan Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat itu.
Menurut Liferdi varietas menentukan produktivitas dan kualitas kentang. Hingga saat ini Kementerian Pertanian merilis 35 varietas kentang. Sebanyak 28 varietas di antaranya dihasilkan oleh Balitsa. Kendala dari ke-28 varietas yang sudah beredar itu adalah daya tahan yang rendah terhadap serangan penyakit hawar daun. Oleh sebab itu pada 2015 Balitsa melepas 3 varietas baru, yaitu AR-07 agrihorti, AR-08 agrihorti, dan olimpus agrihorti.
Dataran medium
Liferdi mengatakan, keunggulan AR-07 agrihorti dan AR-08 agrihorti adalah toleran terhadap penyakit busuk daun. “Yang membedakan AR-07 agrihorti dan AR-08 agrihorti hanya tampilan. Varietas AR-07 agrihorti berkulit umbi krem, sedangkan AR-08 agrihorti kuning,” kata Liferdi. Keduanya berpotensi hasil yang tinggi, yakni 24—32 ton per hektare.

Jumlah produksi itu jauh lebih tinggi dari rata-rata produksi kentang nasional yang hanya 13 ton per hektare. “Dengan kedua keunggulan itu diharapkan dapat menyejahterakan petani karena dapat menekan biaya pestisida dan jumlah produksi tinggi,” kata Liferdi.
Balitsa juga melepas varietas lain, yaitu olimpus agrihorti. Menurut Tri Handayani, peneliti kentang Balitsa, varietas olimpus agrihorti dilepas untuk mengatasi kendala perubahan iklim akibat pemanasan global. “Sentra kentang di Indonesia kebanyakan berada di dataran tinggi. Namun, kini jumlahnya semakin berkurang, sedangkan kebutuhan pangan meningkat tiap tahun,” katanya.
Keunggulan varietas olimpus agrihorti toleran terhadap suhu tinggi dan mampu tumbuh di dataran menengah, yaitu 300–700 meter di atas permukaan laut (dpl). “Jumlah produksinya memang tak setinggi varietas baru lainnya, yaitu hanya 15—23 ton per hektare. Namun, jumlah produksi itu masih lebih tinggi daripada rata-rata produktivitas kentang nasional,” papar Tri. (Muhamad Fajar Ramadhan)
