Trubus.id— Buah alpukat dari pekarangan belakang rumah Adi Hartanto berbobot 300—600 g. Bentuk buah bulat lonjong berkulit hijau mengilap. Ketika buah terbelah tampak daging buah kuning mentega serta bertekstur pulen dan legit.
Cita rasanya manis sekali. Rasa manis mucul walaupun buah belum begitu matang. Warga Desa Legokalong, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah itu memberi nama diva karena memiliki beragam keistimewaan.
Ketua komunitas Alpukat Nusantara (Alnusa), Dinno M. Dionysius, S.P., M.M., memberikan apresiasi tinggi pada diva. Ia menuturkan, daging buah diva sangat tebal yakni 2,87 cm. Daging buah lembut tanpa serat. Cita rasanya begitu manis dan gurih sekali.
Porsi buah yang bisa dimakan mencapai 81% dengan bobot biji hanya 69 g. “Kali pertama mencicipi alpukat diva rasa manis dan gurihnya masih dalam ingatan,” ujar Dinno.
Alpukat diva merupakan salah satu hasil semaian terbaik dari 11 biji lain. Adi Hartanto menanam alpukat dari biji pada 2008. Pohon yang kini berumur 15 tahun itu produktif. Ia memetik buah hampir setiap bulan karena pohon berbuah susul-menyusul.
Menurut Adi total produksi mencapai 300 kg. Pohon itu kini menjadi pohon induk. Adi memperbanyak tanaman dengan cara top working pada 2019. Adi memiliki 10 pohon alpukat lokal di pekarangan belakang rumahnya seluas 1.500 m².
Ia pun lantas menyambung dengan cabang alpukat diva. Pohon-pohon hasil perbanyakan itu magori atau berbuah perdana pada 2 tahun kemudian. Kini usia sambungan pohon berumur 3 tahun yang menghasilkan rata-rata 60 kg per pohon per tahun.
Selain alpukat diva, Adi mempunyai alpukat lain yang tak kalah unggul yakni red diva. Embel-embel red diberikan lantaran warna kulit buah merah kecokelatan saat matang. Tekstur daging red diva pulen serupa diva.
“Cita rasa daging buahnya gurih. Namun, untuk tingkat kemanisan lebih unggul alpukat diva,” kata Adi. Alpukat red diva berbobot 400—700 gram per buah.
