Trubus.id—Curah hujan tinggi menyebabkan kemanisan buah belimbing menurun. Hasil panen pada musim hujan pun terasa hambar. Penyebabnya, kandungan air tanah di perakaran tanaman relatif tinggi sehingga serapan air oleh akar meningkat. Maka kadar air dalam buah bintang itu terlalu tinggi.
Lazimnya kadar kemanisan belimbing hasil panen pada musim hujan hanya 6—8o brix. Keistimewaan lain, daging star fruit itu padat dan bertekstur renyah. Kunci kemanisan belimbing (Averrhoa carambola) itu antara lain pemberian nutrisi yang tepat dan memadai.
Dosen di Institut Pertanian Bogor, Prof. Sobir PhD, menuturkan kadar kemanisan buah-buahan ditentukan oleh 3 faktor: varietas, iklim, dan unsur hara.
“Bila menginginkan buah manis, harus menanam varietas yang buahnya manis,” kata Sobir. Meski demikian, pada musim hujan, varietas manis pun berkurang kemanisannya. Itu karena kandungan air dalam buah lebih banyak sehingga kadar gula lebih “encer”.
Sinar matahari pun kerap terhalang awan sehingga daun tidak dapat berfotosintesis secara optimal. Akibatnya tingkat kemanisan buah berkurang. “Jadi ukuran buah besar, tetapi rasanya anyep,” ujar Sobir.

Faktor terakhir adalah asupan unsur hara. Sobir menuturkan tanaman membutuhkan keseimbangan pemberian nitrogen, kalium, dan kalsium sebagai komponen pembentuk gula. “Waktu pemberian pupuk juga perlu diperhatikan,” kata dosen di Departemen Agronomi dan Hortikultura Institut Pertanian Bogor itu.
Hal yang perlu diingat pekebun, belimbing itu tergolong buah nonklimakterik. Artinya, bila telah dipanen rasanya tidak akan bertambah manis, meski kulit kuning sempurna.
Sobir menyarankan panen buah belimbing saat kematangannya mencapai 80—90%, karena mendekati puncak kemanisannya. “Bila di bawah 70%, hanya cocok sebagai salad karena masih didominasi rasa masam,” ujarnya.
