Dari Pemetik Sukun Menjadi Pengusaha Stik Bernilai Ratusan Juta

Rekomendasi

Berawal dari keterbatasan, Edi Purwanto justru mampu melihat peluang besar dari sesuatu yang kerap dianggap sepele. Pria asal Desa Randusari, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten itu kini sukses mengolah buah sukun menjadi camilan stik yang digemari banyak orang. Padahal, dahulu ia hanyalah seorang pemetik sukun.

Dengan modal awal hanya Rp200.000, Edi mencoba memanfaatkan sukun yang tidak laku di pasaran. Ia mengolahnya menjadi stik renyah dengan harapan bisa memiliki nilai jual lebih tinggi. Pada awal merintis usaha, Edi hanya mampu menjual sekitar 10 kg per hari. Produk yang tergolong baru itu pun sempat diragukan banyak orang.

“Ada yang bilang, sukun kok dijadikan stik, nanti enak nggak,” ujar Edi mengenang. Tak sedikit pula yang menolak saat ia menawarkan produknya ke warung-warung. Namun, ia tidak menyerah. Edi terus berkeliling memasarkan produknya hingga perlahan mulai diterima pasar.

Seiring waktu, permintaan terhadap stik sukun buatannya meningkat pesat. Kini, dalam sehari ia mampu memproduksi rata-rata hingga 700 kg. Dari jumlah tersebut, omzet yang diperoleh mencapai sekitar Rp120 juta per pekan dengan harga jual Rp40.000 per kg. Bahkan, dalam satu kali pengiriman, ia pernah mencatat omzet hingga Rp90 juta.

Kesuksesan itu tidak datang secara instan. Edi mengaku sempat belajar dari pengusaha stik sukun di daerah lain. Ia membutuhkan waktu sekitar satu bulan hingga akhirnya mampu memproduksi sendiri dengan kualitas yang baik. Kunci utamanya adalah ketekunan dan kemauan untuk terus mencoba.

Dalam menjalankan usahanya, Edi bekerja sama dengan para petani lokal di Klaten sebagai pemasok bahan baku. Setiap hari, sekitar sembilan pemasok datang membawa ratusan buah sukun. Buah yang digunakan harus matang sempurna agar menghasilkan tekstur renyah dan rasa gurih.

Proses pengolahan dimulai dari penyortiran, kemudian sukun dibelah dan dibersihkan untuk menghilangkan getah. Setelah itu, sukun diiris tipis memanjang hingga berbentuk stik sebelum digoreng dan dikemas. Kini, usaha yang telah berjalan lebih dari 11 tahun itu tidak hanya memberikan keuntungan bagi Edi, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar.

“Kesuksesan itu butuh proses. Yang penting terus mencoba dan tidak mudah menyerah,” ujar Edi.

Selain stik, olahan sukun juga dikembangkan oleh pelaku usaha lain, seperti Karinem di Wonogiri. Ia memproduksi keripik sukun dalam kemasan kecil yang dijual seharga Rp2.500 per bungkus. Dalam sehari, sekitar 250 bungkus keripik berhasil terjual melalui titipan di pasar dan warung-warung, dengan omzet mencapai Rp625.000 per hari.

Kisah Edi dan Karinem menunjukkan bahwa komoditas lokal seperti sukun memiliki potensi ekonomi yang besar jika diolah dengan kreatif. Dari desa kecil, produk sederhana itu kini mampu menembus pasar yang lebih luas dan menjadi sumber penghidupan yang menjanjikan.


Artikel Terbaru

Jangan Asal Tanam! Bongkar Rahasia Kemitraan Ubi Jalar Rp5.000/KG Tembus Pasar Ekspor

Ubi jalar sering dianggap sebagai tanaman biasa yang ditanam di lahan kering, lalu dijual apa adanya. Namun siapa sangka,...

More Articles Like This