Trubus.id — Bertani menjadi hal menyenangkan bagi Sandi Febrianto (24). Bagaimana tidak, dalam sepekan saja dari bertani, Sandi bisa meraup omzet puluhan juta dari hasil penjualan beragam sayuran hidroponik. Itu seolah menjadi jawaban atas keputusannya memilih bertani di usia muda.
Semula, pemuda kelahiran Gunungpati, Semarang, itu merantau ke Jakarta pada 2018. Namun, ia tidak betah dan terhitung hanya bertahan setahun, lalu memutuskan pulang kampung untuk bertani.
Sandi menanam aneka sayuran seperti sawi, lolorosa, kangkung, dan bayam dengan sistem hidroponik. Keempat sayuran itu ditanam di rumah tanam pada lahan 500 m². Total ada 8.000–10.000 lubang tanam pembesaran.
Sistem hidroponik yang digunakan adalah nutrient film technique (NFT). Konsep dasar sistem itu yakni mengalirkan nutrisi hidroponik ke akar tanaman secara tipis (film). Tujuannya, agar akar tanaman bisa memperoleh asupan air, oksigen, dan nutrisi yang cukup.
Sandi juga menanam sayuran dengan sistem rakit apung. Sistem itu merupakan teknik penggenangan air dan nutrisi di daerah perakaran tanaman secara terus-menerus. Dengan demikian, tanaman dapat menyerap nutrisi setiap saat. Sistem hidroponik rakit apung terbuat dari bak atau kolam dengan ketinggian air nutrisi dalam bak air biasanya sekitar 20 cm.
Selanjutnya, Sandi melengkapi teknik tanam sayuran hidroponik dengan sistem vertikultur, menanam sayuran secara vertikal yang menghemat ruang.
Tujuan Sandi menanam sayuran dengan berbagai teknik adalah memberi ruang atau sarana pendidikan bagi pengunjung yang ingin belajar hidroponik.
Sempat gagal
Sandi bercerita, saat awal memulai usaha sempat dua kali mengalami gagal panen karena keliru menganalisis serangan hama, terutama akibat tidak terbiasa menggunakan pestisida nabati yang baik. Dari kegagalan ia belajar, hingga sampai saat ini tidak pernah gagal lagi.
Sandi mempunyai mimpi yang ingin diwujudkan, yaitu membangun desa wisata pertanian di Gunungpati, terutama sebagai wahana untuk pendidikan anak-anak. Melalui desa wisata itu, Sandi ingin mengajarkan ke generasi penerus bahwa dari bertani bisa mendapatkan untung. Dengan demikian, harapannya tidak ada lagi generasi yang gengsi berprofesi menjadi petani.
