Thursday, February 26, 2026

Kisah Petani yang Turut Hasilkan Tujuh Varietas Bawang Merah Baru

Rekomendasi
- Advertisement -

Membudidayakan bawang merah bukan perkara mudah. Selain harus menguasai teknik budidaya, petani perlu memilih benih yang sesuai dengan kondisi alam setempat. Salah memilih benih bisa berakibat fatal—panen merosot dan petani merugi.

Hal itu disadari betul oleh Akat, petani asal Desa Sukorejo, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Ia menyebut, benih merupakan komponen biaya terbesar dalam budidaya bawang merah, mencapai 40–50% dari total biaya produksi. “Untuk satu hektare lahan bisa menghabiskan 1—1,5 ton benih, tergantung ukuran. Kalau harga benih Rp50.000 per kilogram, biaya benih saja bisa Rp50–75 juta,” ujarnya.

Tingginya biaya itu membuat Akat gelisah. Ia tak ingin petani terus rugi karena benih yang tidak cocok dengan lahan. Dari kegelisahan itu, lahir tekad untuk menghasilkan benih bawang merah unggul yang mampu menyesuaikan diri dengan berbagai kondisi lingkungan.

Berbekal pengalaman bertahun-tahun menanam bawang merah, Akat mulai bereksperimen menyilangkan beragam varietas. Ia ingin menghasilkan benih yang produktif, tahan hama dan penyakit, serta mampu disimpan lebih lama. “Benih harus sesuai permintaan pasar, tapi juga tahan terhadap tekanan lingkungan,” kata petani berusia 58 tahun itu.

Dalam kurun 2002—2018, upayanya membuahkan hasil. Bersama peneliti Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa)—kini Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sayuran—Akat berhasil menciptakan tujuh varietas baru: Sembrani, Katumi, Pikatan, Trisula, Pancasona, Mentes, dan Tajuk.

Varietas Tajuk menjadi kebanggaannya. Nama itu merupakan akronim dari “Tanaman Jawa dari Nganjuk”. “Tajuk hasil persilangan beberapa varietas lokal,” ujarnya. Ia memastikan setiap varietas baru harus cocok ditanam di berbagai daerah, bukan hanya di Nganjuk.

Proses menciptakan varietas baru memakan waktu panjang. Setiap varietas melalui tahapan sertifikasi, uji lokasi, dan pemurnian. “Kadang satu varietas ditanam sampai sembilan kali di tempat berbeda,” katanya. Tantangan itu tak membuatnya surut, meski sempat dicibir tetangga karena dianggap membuang waktu. Kini, hasil eksperimen panjangnya berbuah manis.

Berkat kerja keras Akat, Nganjuk kini dikenal sebagai penyangga benih bawang merah nasional. Benih asal wilayah itu tersebar hingga ke Sulawesi, Kalimantan, dan Nusa Tenggara. “Petani di sini sudah berdaya, bukan hanya menjual hasil panen tapi juga benih unggul,” ujar Ketua Gabungan Kelompok Tani Luru Luhur itu dengan bangga.


Artikel Terbaru

Dari Timur Tengah ke Nusantara: Kisah Buah Tin yang Sarat Makna dan Manfaat

Tin yang dalam bahasa Latin dikenal sebagai Ficus carica merupakan salah satu buah tertua yang dibudidayakan manusia. Buah ini...

More Articles Like This