Koi dan lou han terbaik di kontes berkat perawatan maksimal.

Trubus — Ikan koi jenis kohaku milik Eveline Halim dari Ciamis, Jawa Barat, itu tampil memukau. Para juri kontes di Tulungagung, Jawa Timur pada 6—8 Oktober 2017 memberikan gelar grand champion kepada koi koleksi Eveline. Juri kontes, Khalid Firdaus, menuturkan kohaku 64 cm itu memang layak menjadi jawara. “Kohaku sangat unggul dari kualitas warna, pola, dan badan yang ideal. Dari tubuh bagian depan hingga belakang juga simetris. Itu modal juaranya,” ujar Khalid.
Selain itu, sejak awal penampilan koi asal Jepang itu memang sudah cantik. Reynaldo Vidella juri dari Asosiasi Pencinta Koi Indonesia (APKI) menuturkan hal senada. “Peraih grand champion unggul dalam banyak hal mulai pola tubuh yang bagus hingga kecerahan kulit ikan yang menjadi modal utamanya untuk mengalahkan para pesaingnya,” ujar juri asal Jakarta itu. Kualitas ikan dihasilkan dari proses perawatan dan gen ikan yang baik.
Koi lokal
Kadir yang merawat koi itu membagi tiga jenis pakan untuk pertumbuhan, untuk mencerahkan warna, dan untuk meningkatkan kualitas warna putih kohaku. “Pakannya harus diatur sesuai kebutuhan ikan. Ketika tubuh ikan kurang maksimal, pemberian pakan lebih dominan untuk pertumbuhan. Ketika ukuran sudah ideal tetapi warna merah kurang terang, tinggal pakan pencerah warna lebih dominan,”kata Kadir.
Koi showa sanshoku koleksi Imam Sjafii dari Jakarta juga meraih gelar young champion. “Sudah 10 kali mendapat champion,” ujar Yudi Nuriadi, perawat koi milik Imam Sjafii. Koi ukuran 43 cm itu lahir di Sukabumi, Jawa Barat. Hal itu membuktikan bahwa koi dalam negeri bisa bersaing dengan koi impor. “Banyak koi impor yang menjadi lawannya, tetapi kami membuktikan ikan dalam negeri bisa bersaing dengan koi impor,” ujar Yudi.

Eveline Halim dan Imam Sjafii sama-sama menggunakan pakan yang mengandung spirulina untuk meningkatkan kualitas ikan. Menurut Reynaldo spirulina berguna untuk menaikkan dan menjaga warna merah. “Pada dasarnya Ikan koi akan terus tumbuh secara konstan. Ketika tumbuh besar itu warna pada tubuh ikan sedikit demi sedikit ketarik. Pada proses itu, spirulina menjaga warna ikan tetap maksimal,” ujarnya.
Secara umum, kualitas ikan yang ikut kontes itu sudah baik. “Semua peserta yang ikut sudah layak ikut kontes karena kualitas ikan sudah bagus. Bahkan perbedaannya tipis-tipis terutama ukuran 35 yang cukup sengit penjuriannya. Kualitas bagus itu karena perawatan yang maksimal dan gen atau keturunannya yang sudah unggul,” ujar Santoso, juri asal Semarang, Jawa Tengah.
Panitia acara Muriyanto menuturkan jumlah peserta 607 ikan. Para pemilik ikan berdatangan dari berbagai kota di Indonesia seperti Palembang, Balikpapan, Bontang, Jakarta, dan Sukabumi. “Ini merupakan kontes perdana Tulungagung Koi Club,” ujarnya. Meski baru berdiri 2 tahun dengan 42 anggota, TKC mengadakan kontes dan terbukti sukses dengan banyaknya peserta.
Kontes lou han

Selain koi, lou han-lou han terelok juga mengikuti kontes Indonesia Louhan Competition 4th league di WTC Manggadua, Jakarta Utara. Pada kontes itu selama 7 jam tanpa henti, 3 juri—Hadi Senjaya, Tommy Adhi Prasetyo, dan Miad—menilai lebih dari 100 ikan. Mereka memutuskan lou han di akuarium KLSA183 sebagai yang terindah. Menurut juri asal Bandung, Hadi Senjaya, lou han itu pantas juara.
Sebab, mutiara penuh dari kepala hingga ekor dan marking paling bagus. “Bentuk tubuh kotak. Gradasi warna mencolok. Gaya renang atraktif dan lincah,” tutur Tommy, juri asal Surakarta. Deskripsi seperti itulah yang membuat sang jawara tampil menawan. Keistimewaan lain terletak pada sirip atas-bawah yang seimbang. Corak mutiara solid. Ia mendapat nilai 22.175 dengan berbagai pertimbangan.

Sebelum menempati tangga teratas, ia sukses menundukkan ratusan pesaing asal Jakarta, Bandung, Bogor, Tangerang, Makassar, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Bahkan banyak peserta dari mancanegara seperti Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Thailand. Penghuni akuarium KLSA193 harus puas di posisi kedua. Ia hanya memperoleh nilai akhir 20.825. “Kualitas ikan setara. Kepala bulat. Temperamen bagus,” kata Miad. Namun, saat penilaian akhir marking dan mutiara tidak keluar sempurna.
Perlombaan merebut juara pertama di kelas Chin Hua tak kalah ramai. Chin Hua B klangenan kelompok revolution asal Bogor menorehkan prestasi terbaik dengan total angka 22.457. Angka itu didapat dari kesempurnaan kepala, ekor, hingga totol mutiara yang menutupi tubuh. “Ikan itu istimewa. Nongnong proporsional. Warna merah sangat bagus,” kata Ruddy, panitia kontes.
Ramai
Kelas Cencu B juga menyuguhkan pertandingan seru. Cencu milik Infinity asal Bandung mengukuhkan dirinya yang paling gagah. Mutiara dan warna merah kekuningan mendominasi tubuhnya. Ikannya agresif. Gradasi warna perfek,” ujar Bun Yauw Ismail, pehobi asal Tangerang. Padahal, penampilan musuh bebuyutannya, Aries Team asal Jakarta, tak kalah. Tubuh bongsor dan prima. Mental bagus. Namun, saat memasuki babak akhir kondisi ikan kurang fit.

Kontes lou han nasional yang digelar pada 27 September—1 Oktober 2017 berlangsung meriah. Panitia mencatat 150 peserta ikut ambil bagian menyemarakkan kontes. “Selain menarik pemain baru, kontes ini sebagai ajang persiapan menghadapi kontes akbar grandfinal liga lou han di pengujung tahun ini di Bandung,” kata Ruddy. Rata-rata ikan peserta kontes berkualitas bagus menyebabkan dewan juri lebih hati-hati memutuskan sang jawara.
Penilaian ketat berlangsung di kelas Cencu C yang diikuti 45 ikan. Hadi menduga meningkatnya jumlah peserta cencu lantaran penangkaran dan perawatan lou han itu lebih mudah ketimbang jenis chin hua. “Dari 1.000 anakan setelah disortir menghasilkan 100 cencu kualitas kontes, sementara dengan jumlah yang sama Chin Hua hanya 10 ekor,” ujar juri dari Persatuan Pencinta Lou Han Indonesia (P2LI) itu. (Bondan Setyawan & Tiffani Dias Anggraeni)
Yang Terbaik di WTC Manggadua
| Kategori | Juara | No. Akuarium | Nilai | |
|
Bonsai |
1
2 3 |
91
101 104 |
22.277,50
20.610 19.607 |
|
|
Ching Hwa |
A | 1
2 3 |
29
27 21 |
21.450
20.496,11 20.395 |
| B | 1
2 3 |
295
253 252 |
22.457,50
20.532,50 20.200 |
|
| C | 1
2 3 |
82
71 86 |
21.167,84
20.932,50 20.495 |
|
|
Cencu |
A | 1
2 3 |
9
15 12 |
21.560,40
21.275 21.092,50 |
| B | 1
2 3 |
317
237 306 |
22.042,50
20.277,50 20.222,50 |
|
| C | 1
2 3 |
131
121 143 |
21.850
21.337,50 20.086,28 |
|
|
Free Marking |
A | 1
2 3 |
33
288 271 |
21.852,50
21.702,50 21.597,50 |
| B | 1
2 3 |
257
266 269 |
22.507,50
21.230 20.258,46 |
|
| C | 1
2 3 |
60
51 66 |
21.267,50
20.607,66 20.497,50 |
|
|
Golden Base |
A | 1
2 3 |
173
169 172 |
20.877,50
20.485 20.292,50 |
| B | 1
2 3 |
201
210 223 |
21.605
20.403,95 19.293,31 |
|
|
Klasik |
A | 1
2 3 |
183
193 185 |
22.175
20.825 19.672,50 |
| B | 1
2 3 |
108
118 119 |
21.000
20.580 19.809,83 |
|
Koi Tercantik
| Jawara Kelas | Jenis Ikan | Pemilik | Asal |
| Grand Champion | Kohaku 64 cm | Eveline Halim | Ciamis |
| Runner Up Grand Champion | Taisho Sanshoku 65 cm | Denzel Henson Usman | Medan |
| Melati Grand Champion | Kinginrin A 65 cm | Shindu Adikara | Semarang |
| Anggrek Grand Champion | Shusui 63 cm | Shindu Adikara | Semarang |
| Male Champion | Showa Sanshoku 61 cm | Paul Arif Budiman | Klaten |
| Adult Champion | Showa Sanshoku 50 cm | Eveline Halim | Ciamis |
| Young Champion | Showa Sanshoku 43 cm | Imam Sjafii | Jakarta |
| Junior Champion | Taisho Sanshoku 34 cm | Herry Timotius | Bandung |
| Baby Champion | Taisho Sanshoku 24 cm | Bambang Purnama | Palembang |
| Mini Champion | Kohaku 15 cm | Aan Lupus Bos Muda Pati | Pati |
| Best Tategoi | Showa Sanshoku 62 cm | Akrimna Fish Centre | Blitar |
| Best Unique | Goshiki 65 cm | Denzel Henson Usman | Medan |
