Tuesday, December 16, 2025

Kolaka Utara, Lumbung Kakao Nasional

Rekomendasi
- Advertisement -

Dari kebun rakyat hingga ekspor fermentasi ke Jepang, Kolaka Utara tunjukkan jalan hilirisasi kakao berdaya saing tinggi.

Kakao Kolaka Utara kembali jadi sorotan nasional. Dalam peringatan Hari Kakao Indonesia (HKI) ke-13 Tahun 2025 di Hotel Pullman Jakarta Pusat, Bupati Kolaka Utara, Drs. Nur Rahman Umar, memaparkan capaian dan potensi besar daerahnya dalam menopang hilirisasi kakao nasional. Acara bertema “Penguatan Sektor Hulu untuk Memperkokoh Hilirisasi Kakao Indonesia” ini diinisiasi oleh Kementerian Koordinator Bidang Pangan RI bersama Dewan Kakao Indonesia, dan dibuka langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan.

Dalam sesi talkshow bertajuk “Penyiapan Bahan Baku untuk Industri Kakao Nasional”, Nur Rahman menguraikan bahwa Kolaka Utara kini memiliki 18.150 hektare kebun rakyat yang direvitalisasi, melibatkan 516 kelompok tani dan 11.912 petani. Produktivitas kakao mencapai 1,2 ton per hektare dengan total produksi 65.000 ton per tahun. “Harga jual bahkan sempat menembus Rp150.000 per kilogram pada April 2025,” ujarnya bangga.

Program revitalisasi yang dijalankan pemerintah daerah tidak hanya meningkatkan hasil panen, tetapi juga mengubah wajah ekonomi petani. “Pendapatan petani naik, daya beli meningkat, dan semangat mereka untuk kembali merawat kebun tumbuh lagi. Ini bukti bahwa revitalisasi kakao membawa dampak sosial-ekonomi nyata,” lanjut Nur Rahman.

Tidak berhenti di sektor hulu, Kolaka Utara juga bergerak menuju hilirisasi. Pemerintah daerah telah membangun Kakao Centre, mesin pengolahan cokelat, dan Café Coklat, serta mencatatkan ekspor perdana kakao fermentasi ke Jepang pada 2021. Langkah ini menegaskan bahwa Kolaka Utara tak sekadar penghasil biji kakao mentah, melainkan juga mulai berperan sebagai produsen olahan bernilai tambah tinggi.

Ke depan, Bupati Nur Rahman menargetkan revitalisasi tambahan 12.000 hektare kebun, pembangunan pabrik pengolahan skala menengah, dan perluasan kemitraan dengan pelaku industri kakao nasional maupun global pada periode 2024–2029. “Dengan kapasitas saat ini, Kolaka Utara mampu menyuplai hampir 20 persen kebutuhan biji kakao nasional,” tegasnya.

Talkshow tersebut juga menghadirkan berbagai pemangku kepentingan—mulai dari Kemenko Bidang Pangan, Dirjen Perkebunan, Kemenperin, hingga perwakilan industri seperti Mondelez International dan Asosiasi Cokelat Bean to Bar Indonesia (ACBI)—yang bersama-sama membahas arah masa depan kakao Indonesia.

Foto: Dok. Kabupaten Kolaka Utara

Artikel Terbaru

Cuaca Ekstrem Warnai Libur Nataru, Pakar Ingatkan Wisatawan Utamakan Keselamatan

Cuaca yang kian tidak menentu mewarnai libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), periode yang lazim dimanfaatkan masyarakat untuk berwisata....

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img