Trubus.id — Kopi Liberika asal Sumatera Selatan mulai membidik pasar Rusia. Badan Karantina Indonesia (Barantin) mendampingi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memenuhi persyaratan ekspor dan memperluas akses pasar internasional.
Peluang ekspor kopi Liberika tersebut dibahas dalam Webseries Go Ekspor Barantin bertajuk Kupas Tuntas: Kopi Liberika Sumsel Menembus Pasar Rusia pada Rabu, 2 September 2026. Kegiatan itu mempertemukan Karantina Sumatera Selatan, Atase Perdagangan Indonesia di Moskow, pemerintah daerah, serta pelaku usaha.
Kepala Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Karantina, Wisnu Wasisa Putra, mengatakan Barantin terus meningkatkan kapasitas UMKM yang ingin merambah pasar internasional. Salah satunya melalui layanan Klinik Ekspor yang tersedia di kantor karantina di seluruh Indonesia.
Menurut Wisnu, layanan tersebut menjadi ruang konsultasi bagi pelaku usaha untuk memperoleh informasi mengenai persyaratan negara tujuan dan proses sertifikasi ekspor. Kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri diperlukan agar produk mampu memenuhi standar pasar tujuan.
Kepala Karantina Sumatera Selatan, Sri Endah Ekandari, mengatakan Sumatera Selatan menyumbang sekitar 27 persen produksi kopi nasional. Kopi Liberika menjadi salah satu komoditas potensial yang terus didorong untuk menembus pasar internasional.
Menurut Sri, komoditas ekspor harus memenuhi persyaratan sejak dari daerah asal agar aman, sehat, bermutu, dan dapat diterima negara tujuan. Kesiapan tersebut menjadi penting, terutama untuk menghadapi persyaratan teknis di pasar global.
Ekspor kopi Sumatera Selatan menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2024, ekspor kopi tercatat sebanyak tiga kali pengiriman dengan nilai Rp1,5 miliar, kemudian meningkat menjadi 14 kali pengiriman senilai Rp12,1 miliar pada 2025.
Kopi asal Sumatera Selatan telah dikirim ke Malaysia, Australia, Arab Saudi, dan Singapura. Hingga Juli 2026, ekspor kopi Sumatera Selatan mencapai 8,7 ton dengan nilai Rp652 juta dan Australia menjadi negara tujuan utama.
Atase Perdagangan Indonesia di Moskow, Ardianto Mahdi Wibowo, menilai Rusia merupakan salah satu pasar potensial bagi kopi Indonesia. Dengan jumlah penduduk lebih dari 144 juta jiwa dan kopi Indonesia yang telah memiliki pasar di negara tersebut, peluang ekspansi masih terbuka.
Namun, eksportir perlu mempersiapkan produk sejak awal untuk memenuhi berbagai ketentuan di Rusia. Persyaratan tersebut meliputi standar keamanan pangan, sertifikasi, pelabelan, hingga ketertelusuran produk.
Pelaku UMKM sekaligus eksportir kopi, M. Syahrafiuddin, optimistis kopi Liberika Sumatera Selatan mampu bersaing di pasar global. Selain memiliki karakteristik tersendiri, kopi Liberika dapat dibudidayakan di lahan gambut dan dataran rendah.
Ia menilai peluang pasar tersebut harus diimbangi dengan konsistensi mutu untuk membangun kepercayaan pembeli dalam jangka panjang. Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sumatera Selatan Mega Nugraha menekankan pentingnya penguatan mutu dan mitigasi risiko sejak tingkat petani.
Selain melalui Klinik Ekspor, Karantina Sumatera Selatan bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan mengembangkan inovasi Go-Export untuk memperkuat ketertelusuran komoditas. Sistem itu memuat informasi mengenai identitas pelaku usaha, asal bahan baku, hingga kelengkapan dokumen yang dibutuhkan dalam proses sertifikasi ekspor.
Melalui pendampingan tersebut, Barantin berharap UMKM tidak hanya menghasilkan kopi berkualitas, tetapi juga memahami berbagai persyaratan teknis untuk memasuki pasar internasional. Dengan kesiapan dari tingkat petani hingga proses sertifikasi, kopi Liberika Sumatera Selatan diharapkan mampu memperluas jejak ekspor dan membuka peluang baru di pasar Rusia.
