Kurma bukan sekadar buah manis yang identik dengan kawasan Timur Tengah. Tanaman anggota famili palem-paleman ini memiliki sejarah panjang dan peran penting dalam kehidupan masyarakat gurun sejak ribuan tahun silam.
Secara botani, kurma sekerabat dengan palem kenari Phoenix canariensis dan Phoenix sylvestris yang di Indonesia dikenal sebagai tanaman hias populer. Namun berbeda dengan kerabatnya itu, kurma tumbuh dan berkembang optimal di wilayah beriklim kering.
Sentra Produksi Kurma Dunia
Sentra utama produksi kurma dunia berada di jazirah Arab. Selain itu, negara-negara di Afrika Utara juga menjadi pusat pengembangan tanaman gurun ini.
Seperti dikutip dari penelitian Willian Erskine, Ahmed T. Moustafa, Ahmed E. Osman, dan Arash Nejatian dari International Center for Agricultural Research in the Dry Area (ICARDA), bersama Zaki Lashine dari Universitas Ain Shams, Kairo, Mesir, serta Tamer Badawi dan Subhy M. Ragy dari Kementerian Pertanian dan Perikanan Uni Emirat Arab, kurma merupakan salah satu komoditas buah tertua yang dikembangkan di jazirah Arab dan memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat.
Dari kawasan tersebut, kurma diperdagangkan ke hampir seluruh dunia dalam bentuk buah kering maupun segar. Hingga kini, kurma menjadi komoditas penting yang dikembangkan besar-besaran di enam negara anggota Dewan Kerjasama Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC), yakni Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Tumbuh di Iklim Ekstrem
Negara-negara penghasil kurma umumnya beriklim sangat kering, dengan curah hujan hanya 50—250 mm per tahun. Sebagai perbandingan, wilayah tropis seperti Thailand memiliki curah hujan sekitar 1.500 mm per tahun.
Suhu harian rata-rata di jazirah Arab dapat mencapai 50°C dengan kelembapan tinggi. Tanahnya berpasir, rapuh, dan mudah tererosi oleh angin maupun air. Sekitar 95% wilayah jazirah Arab merupakan daerah gurun dengan berbagai tingkat kekeringan, bahkan 45% di antaranya tergolong sangat kering.
Dalam laporan Dr. Mohammed Al-Abid dari ICARDA Oman dan rekan-rekan, disebutkan bahwa kurma merupakan tanaman yang toleran terhadap iklim dan kondisi tanah yang ganas, tempat di mana hampir tidak ada komoditas lain mampu bertahan dan berproduksi. Kurma bahkan berfungsi melindungi tanaman lain di bawahnya dari panas tinggi, angin, serta ancaman lingkungan lain, sekaligus berperan penting dalam melawan penggurunan.
Jejak Budidaya Sejak 4.000 SM
Budidaya kurma di jazirah Arab telah berlangsung sejak ribuan tahun lalu. Catatan menunjukkan tanaman ini telah dibudidayakan di wilayah Ur, Mesopotamia—sekarang Irak—sekitar 4.000 sebelum masehi (SM). Pada masa itu, batang kurma digunakan sebagai bahan pembangunan kuil untuk Dewa Bulan.
Di lembah Sungai Nil, budidaya kurma telah dilakukan sejak 3.000 SM. Dari jazirah Arab, pengembangan kurma menyebar melalui dua jalur utama. Jalur pertama dari Irak ke arah timur menuju Iran, Pakistan, dan India. Jalur kedua dari Mesir ke arah barat menuju Maghrab, Spanyol, hingga dunia baru.
Komoditas Penting Wilayah Gurun
Hingga kini, kurma tetap menjadi komoditas penting yang dikembangkan di daerah gurun. Ketahanannya terhadap iklim ekstrem membuat tanaman ini tidak tergantikan bagi wilayah kering. Selain bernilai ekonomi, kurma juga menjadi bagian dari sejarah panjang peradaban manusia di kawasan gurun.
