Monday, January 26, 2026

Laba Perbanyak Ara

Rekomendasi
- Advertisement -

Memibitkan tin sejak bisnis masih senyap. permintaan terus meningkat.

Pemasaran bibit terdongkrak lantaran masyarakat semakin tertarik khasiat buah dan daun tin.
Pemasaran bibit terdongkrak lantaran masyarakat semakin tertarik khasiat buah dan daun tin.

Aktivitas Khulub Satria Hadi tak juga mengendur usai meninggalkan kantor, lembaga riset swasta di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ketika tiba di rumah, ia mengontrol tanaman dan mengirim bibit pesanan para pehobi di berbagai kota. Konsumen banyak meminta jenis negronne, panache, dan brunswick. Setiap bulan ia mengirimkan minimal 30 bibit dengan harga beragam, yakni Rp200.000—Rp300.000 per bibit.

Pemuda 29 tahun itu mengirimkan bibit setinggi 40 cm. Dari perniagaan bibit tin itu Khulub meraih omzet hampir Rp5-juta per bulan. Khulub mengatakan, biaya produksi termasuk polibag dan media tanam mencapai Rp 960-ribu sehingga laba bersihnya Rp4-juta. Permintaan bibit tin kini memang meningkat, berapa pun barang tersedia langsung ludes. Sayangnya kapasitas produksi Khulub masih sebatas 6 bibit per pekan.

Pernah tertipu
Khulub mengatakan, jika memproduksi 10—15 bibit tin per pekan atau total 60 bibit per bulan pun pasti laku. Pria kelahiran 1987 itu mengatakan total permintaan bibit mencapai 50 per bulan. Itulah sebabnya ia mengembangkan metode perbanyakan yang cukup ekstrem, yakni setek superpendek. Pada umumnya petani memperbanyak tin dengan setek setinggi 20 cm. Namun, Khulub setek hanya 3—5 cm.

Dari hasil bisnisnya itu pula Khulub berhasil memperluas skala usahanya. Pada Oktober 2014 ia membangun greenhouse sederhana berkerangka bambu dan beratap plastik ultraviolet. Rumah tanam berdinding jaring itu untuk mengurangi ancaman serangan penyakit karat daun dan hama penggerek daun. Padahal, saat itu belum banyak orang menanam tin di rumah plastik.

Khulub Satria Hadi tertarik beragribisnis tin karena peluang pasar besar.
Khulub Satria Hadi tertarik beragribisnis tin karena peluang pasar besar.

Rumah tanam seluas 80 m² itu berisi puluhan varietas tin untuk memenuhi permintaan harian seperti green jordan, masui dauphine, dan bataglia. Setahun kemudian pada Oktober 2015 ia membangun rumah tanam baru seluas 210 m². Kapasitas ruang yang lebih besar memungkinkan untuk menampung 400 bibit siap jual. Ia pun melengkapi rumah tanam itu dengan jaringan irigasi untuk mempermudah fertigasi.

Di situlah juga ia menyimpan “harta karun” berupa varietas-varietas tin terbaru berharga mahal yang langsung didatangkan dari Spanyol. Salah satu varietas unggulan itu adalah rimada. Keberhasilan Khulub buah dari perjalanan panjang dan proses yang tidak selalu menyenangkan. Khulub Satria Hadi ingat persis, pertama kali terjun ke dunia budidaya tin Ficus carica pada pertengahan 2011.

Ketika itu ia memesan satu bibit long yellow kepada seorang pembibit melalui daring atau online. Khulub tergerak untuk memulai bisnis tin karena harga jual bibitnya saja paling tinggi dibanding dengan harga bibit tanaman buah lain. Ketika pesanannya datang, Khulub segera menanam hasil cangkok tin itu ke dalam polibag. Setelah 3 bulan sejak penanaman, buah pun mulai muncul.

Saat mengamati bentuk buah, Khulub curiga dengan varietas tin itu. Bentuk buah membulat bertangkai pendek. Ciri long yellow cenderung memanjang. “Saya tertipu, ternyata memang bukan long yellow seperti yang saya pesan, tetapi green jordan,” ujar Khulub mengenang. Ia membeli bibit long yellow palsu itu Rp150.000. Padahal, harga green jordan cuma Rp50.000. “Untung saya hanya memesan sebuah bibit sebagai percobaan. Bisa dibayangkan kerugian jika saya langsung memesan dalam jumlah banyak,” ujar ayah seorang putra itu.

Proses panjang
Kendala lain kegagalan mencangkok, matinya bibit hasil perbanyakan saat turun cangkok, hingga 8 pohon induknya mati diserang kumbang. “Teori perbanyakan sudah saya terapkan, tetapi masalah di lapangan banyak yang tidak terungkap dalam literatur baik dalam maupun luar negeri. Trial and error itu cukup membuat saya nyaris frustasi, karena kegagalan sebuah proses berarti kerugian dalam waktu, tenaga, bahkan biaya,” ujar Khulub.

Produksi puluhan bibit per bulan di dalam rumah tanam untuk memasok pehobi di berbagai kota di Indonesia.
Produksi puluhan bibit per bulan di dalam rumah tanam untuk memasok pehobi di berbagai kota di Indonesia.

Ia mengatakan, potensi kerugian mencapai Rp50-juta dengan asumsi jumlah hasil penjualan bibit Rp100.000—Rp300.000 yang berakhir dengan kematian. Beragam kendala itu tidak membuatnya patah arang. Ia yaki usahanya tidak sia-sia karena mencari penyebab kegagalan dan tidak mengulangnya di percobaan berikutnya. Ia terus memperbanyak bibiit dengan setek pendek, mengunggah foto-foto bibit di situs jejaring sosial.

Upaya itu berhasil mengundang minat para pehobi atau calon pekebun untuk membeli bibit tin. Bahkan, beberapa pemesan harus inden karena keterbatasan stok. Inden atau mengantre pesanan sering terjadi setelah orang melihat foto di media sosial. Rentang waktu dari pemuatan foto sampai datangnya respons konsumen juga tergolong cepat, yaitu dalam kisaran 15 menit.

Khulub yang pernah mengebunkan cabai hias dan menjual bijinya mengatakan, peluang usaha tin masih sangat menjanjikan pada masa mendatang. “Permintaan masih banyak dan belum semuanya terpenuhi,” ujar alumnus Universitas Islam Indonesia itu. Suatu saat ketika sudah banyak yang mengebunkan, pekebun masih dapat menangguk untuk bisnis dari buah dan daunnya. (Muhammad Hernawan Nugroho)

Previous article
Next article
Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img