Laba Setiap 15 Hari

Rekomendasi

Zekky Bachry membudidayakan kangkung secara hidroponik dalam skala besar.

Zekky Bachry menempatkan 32 perangkat hidroponik bertingkat di lahan terbuka seluas 3.000 m². Petani di Desa Sukaluyu, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu menanam kangkung dengan teknologi hidroponik. Setiap perangkat terdiri atas 24 talang pipa polivinil klorida (PVC) dengan panjang masing-masing 12 meter. Ia menyusun talang-talang itu dalam rak berbentuk segitiga.

Hidroponik kangkung ala Zekky Bachry, satu set terdiri dari 24 talang dengan jarak tanam 15 cm.
Hidroponik kangkung ala Zekky Bachry, satu set terdiri dari 24 talang dengan jarak tanam 15 cm.

Sebanyak 11 perangkat lainnya ia tempatkan di dalam rumah tanam. Zekky menanami seluruh perangkat itu dengan kangkung. Ia menanam tanaman anggota famili Convolvulaceae itu dalam 3 fase. Pada fase pertama Zekky menyemai benih di wadah persemaian yang berisi media tanam berupa campuran tanah, sekam bakar, dan sekam kering perbandingan 1:1:1. Lima hari setelah semai ia memindahkan bibit pada media tanam berupa rockwool.

Pembesaran
Zekky lalu menempatkan bibit kangkung itu ke dalam gelas plastik yang sudah dilubangi bagian dasar dan sampingnya. Ia menggunakan gelas plastik itu untuk mengganti net pot agar lebih efisien. Menurut Zekky harga net pot Rp700 per buah. Jika menggunakan gelas plastik lebih murah yakni hanya Rp110 per buah. Petani itu lalu menempatkan gelas plastik berisi bibit kangkung pada 11 perangkat hidroponik untuk pembesaran.

Netpot digantikan dengan gelas plastik bekas kemasan air mineral untuk memangkas biaya produksi.
Netpot digantikan dengan gelas plastik bekas kemasan air mineral untuk memangkas biaya produksi.

Perangkat itu menggunakan 24 talang pipa berdiameter 2,5 inci sepanjang 6 meter yang disusun pada rak berbentuk segitiga. Talang itu terdapat lubang berdiameter 5 cm dan jarak antarlubang 7,5 cm. Menurut Zekky jarak antarlubang tanam itu sengaja dibuat lebih rapat. “Itu tidak menjadi persoalan karena hanya untuk pembesaran,” kata pemilik Specta Farm itu. Ia menempatkan perangkat itu di dalam greenhouse berukuran seluas 264 m².

“Pembesaran dilakukan di dalam naungan karena umur tanaman masih muda sehingga masih rentan terkena serangan hama dan penyakit,” tuturnya. Pada fase pembesaran Zekky memberikan nutrisi berupa larutan AB mix hasil racikan sendiri dengan nilai electrical conductivity (EC) 2,5. Fase pembesaran berlangsung selama 5 hari. Setelah itu Zekky memindahkan kangkung berumur 10 hari ke perangkat hidroponik untuk produksi.

Secara teknis sistem hidroponik untuk pembesaran dan produksi sama. Perbedaannya hanya pada jarak antarlubang tanam dan panjang talang. Jarak antarlubang tanam pada perangkat untuk produksi 15 cm dengan panjang talang 12 meter. Sebagai sumber nutrisi Zekky memberikan pupuk AB mix racikan sendiri dengan nilai EC 2,5. Fase produksi juga berlangsung 5 hari. Tanaman siap panen jika sudah mencapai tinggi rata-rata 25 cm.

Jadi dari mulai semai hingga panen perlu waktu 15 hari. Zekky mengatakan, masa panen itu lebih cepat dibandingkan dengan sebelumnya. “Dulu rata-rata panen 18—20 hari,” katanya. Menurut Zekky faktor utama penyebab masa panen lebih cepat adalah pemupukan yang tepat. Oleh sebab itu Zekky meramu sendiri pupuknya agar mengetahui takaran yang tepat untuk budidaya kangkung.

Menguntungkan

Charlie Tjendapati (ikat kepala biru) dan Zekky Bachri, di kebun milik Zekky.
Charlie Tjendapati (ikat kepala biru) dan Zekky Bachri, di kebun milik Zekky.

Dari seluruh perangkat itu, Zekky memanen 1,5 ton kangkung setiap pekan. Zekky mengemas hasil panen dalam kemasan berbobot 250 g dan 1.000 g. Ia menjual hasil panen itu ke pasar swalayan Rp20.000 per kg. Artinya, dalam sepekan omzet Zekky rata-rata hingga Rp30-juta per pekan. Menurut Zekky dengan harga jual itu sangat menguntungkan meski biaya investasi ketika memulai budidaya relatif mahal.

Alumni Jurusan Fisika Universitas Indonesia itu mengatakan biaya produksi untuk menghasilkan 1 kg kangkung hidroponik hanya Rp8.000. Artinya, ia memungut laba Rp12.000 per kg. Dengan laba sebesar itu Zekky bisa mencapai balik modal setelah berproduksi selama 10 bulan. “Kangkung jenis tanaman yang mudah dibudidayakan dan disukai semua kalangan. Namun, nilainya akan meningkat jika dibudidayakan secara hidroponik,” kata Zekky.

Menurut praktikus hidroponik asal Kota Bandung, Jawa Barat, Charlie Tjendapati, budidaya kangkung dengan sistem hidroponik memang menguntungkan. Hasil hitung-hitungan Charlie, jika terdapat 86.400 lubang tanam, maka menghasilkan 5.400 kg sekali panen. “Sekilogram kangkung terdiri atas 64 tanaman. Jika setiap lubang tanam menghasilkan 4—6 tanaman, maka untuk menghasilkan sekilogram kangkung perlu 16 lubang tanam. Jika jumlah lubang tanam 86.400, berarti jumlah panen mencapai 5.400 kg,” katanya.

Bernilai tinggi

Persemaian benih kangkung di media khusus.
Persemaian benih kangkung di media khusus.

Menurut Charlie jika panen kangkung pada umur 20 hari, maka setiap 10 hari akan dipanen sekitar 2.700 kg atau 8.100 kg setiap bulan. Dengan asumsi harga kangkung hanya Rp12.000 per kg, maka pendapatan yang diperoleh sekitar Rp97.200.000 per bulan. “Hasilnya fantastis, apalagi jika harga jual yang diperoleh bisa lebih tinggi. Pekebun akan memperoleh keuntungan meski biaya produksinya lebih mahal ketimbang budidaya kangkung konvensional,” katanya.

Menurut dosen Jurusan Agroteknologi, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, Bandung, Dr Ir Cecep Hidayat MP, budidaya dengan teknik hidroponik menghasilkan produk berkualitas dan berproduksi tinggi karena asupan nutrisi dan kebutuhan air terjamin. Meski begitu, Cecep menyarankan sebaiknya pekebun tetap memilih komoditas yang memiliki nilai ekonomi tinggi karena biaya untuk instalasi hidroponik besar. “Pasar sayuran hidroponik rata-rata adalah pasar swalayan. Kualitasnya lebih baik dan seragam karena itu perlu dipilih komoditas dengan nilai ekonomi tinggi dan diminati masyarakat,” tuturnya. (Muhamad Fajar Ramadhan)


Artikel Terbaru

Jangan Asal Tanam! Bongkar Rahasia Kemitraan Ubi Jalar Rp5.000/KG Tembus Pasar Ekspor

Ubi jalar sering dianggap sebagai tanaman biasa yang ditanam di lahan kering, lalu dijual apa adanya. Namun siapa sangka,...

More Articles Like This