Friday, January 16, 2026

Lima Komoditas Perikanan Unggulan Ekspor 2024

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Peningkatan hasil produksi komoditas unggulan ekspor  hingga ketersedian pakan menjadi fokus Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Hal itu  demi mewujudkan perikanan budidaya yang modern, mandiri, dan berkelanjutan pada 2024.

“Di negara-negara maju, standar budi daya sangat ketat, standar budi daya yang baik itu seperti apa. Komoditi yang dibudidayakan seperti apa, mereka seteliti itu. Kita belum sampai sana,” ungkap Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono dalam Pertemuan Nasional Pembangunan Perikanan Budi Daya Berbasis Ekonomi Biru di lansir dari laman KKP.

KKP terus bersinergi dengan pemerintah daerah, asosiasi budidaya perikanan, dan perguruan tinggi dalam membangun perikanan budidaya modern dengan ases ekonomi biru. Harapannya budidaya tidak hanya mengutamakan hasil panen, tapi juga proses produksi tidak mengancam keberlanjutan ekosistem.

Trenggono menuturkan pada 2024 KKP masih fokus meningkatkan produksi 5 komoditas perikanan unggulan ekspor yakni udang, lobster, kepiting, rumput laut, dan nila salin.

Strategi untuk meningkatkan produksi itu melalui pembangunan modeling budi daya berbasis kawasan di sejumlah daerah sebagai percontohan budi daya modern yang berkelanjutan di Indonesia.

Pada 2023, KKP telah membangun tiga modeling budi daya berbasis kawasan, yakni di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah untuk komoditas udang, di Kabupaten Karawang, Jawa Barat (nila salin), serta di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara (rumput laut). Pembangunan pun masih akan dilanjutkan di tahun depan.

Budidaya udang berbasis kawasan di Kebumen misalnya, hasil panen per hektarenya sudah di angka 40 ton per siklus sesuai dengan best practice.

“Metode budidaya kita sebagian besar tradisional, itulah kita buat modeling seperti contohnya di Kebumen. Tetapi perkembangan budidaya itu negara-negara maju itu sudah lebih advance lagi. Ada model budidaya terbarukan, kemudian third water. Teknologi-teknologi ini hasil sinergi antara industri dengan riset. Kita masih jauh, tapi ini akan terus kita kejar,” ujar Trenggono.

Lebih lanjut Trenggono menuturkan bahwa pakan juga menjadi persoalan tersendiri dalam mewujudkan pembangunan perikanan budidaya modern dan mandiri. Salah satu upaya yang dilakukan KKP untuk menjawab persoalan tersebut yakni mengupayakan adanya subtitusi tepung ikan.

“Kita sedang pacu terus untuk kita kerja sama dengan perguruan tinggi melakukan riset, lalu kita kerja sama dengan luar untuk kemudian melakukan solusi, kira-kira substitusi pakan yang berasal dari tepung ikan itu bisa diganti dengan tanaman,” pungkasnya.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img