Hamparan 40.000 pohon leci. Itulah yang Trubus lihat waktu berkunjung pada awal September 2007 ke kebun Xili di Shenzhen. Leci merupakan komoditas utama kebun seluas 153 ha itu. Anggota famili Sapindaceae itu ditanam di lahan seluas 130 ha. Sisanya ditanami lengkeng, mangga, buah naga, pepaya, dan stroberi.
Xili mirip dengan Taman Wisata Mekarsari di Cileungsi, Bogor. Di sana pengunjung dapat memetik buah langsung. Sayang, September-waktu kunjungan-bukan musim panen leci. Bila ingin mencicipi langsung kesegaran buah kerabat lengkeng itu mesti datang pada Juni-Juli. Saat itulah 5 kultivar leci: nuomichi, guiwei, feizixiao, huaizhi, dan heiye berbuah serempak.
Nuomichi panen raya pada pertengahan Juni. Ia salah satu varietas unggul di China. Sosok buah besar, berkulit merah terang, berdaging tebal berwarna putih atau putih gading, dan berbiji kecil. ‘Ukurannya sebesar biji beras ketan,’ kata Rudi Sendjaja, importir buah di Jakarta. Tak heran bagian buah yang dapat dimakan mencapai 82-86%. Kalau dikeringkan, nuomichi menghasilkan leci kering terbaik.
Keunggulan lain, rasa buah nuomichi manis, lembut, dan berair. ‘Tingkat kemanisan mencapai 20-22° briks,’ ujar Qui Jin Dan, pengelola kebun Xili. Dalam 100 ml jus nuomichi terkandung 20,42-36,08 mg vitamin C dan 0,18-0,26 mg asam. Dengan kualitas seperti itu tak heran bila leci yang dalam bahasa China berarti biji ketan itu berharga mahal, 50RMB/kg setara Rp62.500/kg.
Guiwei
Setali tiga uang dengan nuomichi, panen raya guiwei juga pada pertengahan Juni. ‘Bagi saya, guiwei merupakan leci terbaik lantaran biji kecil, daging tebal, lembut, manis, dan kering tak berair,’ kata Lie Ayen, pekebun buah di Banyumanik, Semarang, yang bolak-balik ke China. Daging buah berwarna putih. Lantaran kualitasnya yang superior, setiap kali guiwei berbuah di Xili, habis di tempat.
Tak ingin kehilangan kelezatan guiwei, Ayen pun mendatangkan bibit leci yang namanya berasal dari nama salah seorang selir raja itu. Sayang, sudah 3 tahun dipelihara tapi guiwei milik pekebun lengkeng itoh itu belum berbuah. Padahal kerabatnya, lengkeng, berhasil Ayen buahkan setiap saat.
Maklum, leci hidup di daerah subtropis. Ia menginginkan suhu rendah untuk tumbuh dan berbuah. ‘Suhu yang diinginkan leci untuk berbunga lebih rendah 5 derajat daripada lengkeng,’ tutur Dr Mohammad Reza Tirtawinata, MS, pakar buah di Bogor. Lengkeng ambarawa berbuah baik di daerah berketinggian 700 m dpl. Pada pagi hari suhunya 16-20°C dan siang 22-25°C. Sementara leci membutuhkan suhu pagi 11-15°C dan siang, 17-20°C.
Dalam 100 ml jus guiwei terdapat 26,8-29,48 mg vitamin C dan 0,15-0,21 mg asam. Menurut Dan tingkat kemanisan guiwei sama dengan nuomichi, 20-22° briks. Bagian buah yang dapat dimakan 75-80%. Tak heran bila guiwei dijual lebih rendah daripada nuomichi, 40RMB/kg setara Rp50.000/kg.
Jenis lain
Feizixiao berbuah serempak lebih dulu daripada nuomichi dan guiwei, yaitu pada awal Juni. Daging buah feizixiao putih, tebal, rasanya garing, manis, dan berair. Namun, tingkat kemanisannya lebih rendah daripada 2 varietas sebelumnya, 19-20° briks. Dalam 100 ml jus terkandung 34,38-60,28 mg vitamin C dan 0,23-0,34 asam. Sama dengan nuomichi dan guiwei, biji feizixiao juga berukuran kecil. Bagian buah yang dapat dimakan mencapai 79,4-82,5%. Feizixiao dijual seharga 20RMB/kg atau Rp25.000/kg.
Huaizhi panen raya pada akhir Juni. Daging buah putih, manis, berair, dan lembut. Dalam 100 ml jus huaizhi mengandung 17,28-42,24 mg vitamin C dan 0,15-0,36 mg asam. Biji leci itu berukuran sedang, sehingga bagian buah yang dapat dimakan hanya 60,5-76,6%.
Sementara heiye baru bisa dicicipi pada akhir Juni hingga awal Juli. Daging buahnya putih susu, halus, berair, dan manis. Dalam 100 ml jus heiye mengandung 22,31-45,70 mg vitamin C dan 0,37-0,39 mg asam. Ukuran bijinya mirip huaizhi, sedang. Bagian buah yang dapat dimakan 63,5-73,3%.
Kelima varietas yang Trubus temui di Xili merupakan kultivar yang paling populer di China. Namun, ‘Nuomichi, guiwei, dan feizixiao yang paling diminati konsumen karena rasanya manis, biji kecil, renyah, dan berair,’ kata Dan. Tak heran bila kerabat lengkeng itu melanglang buana hingga ke negara lain. ‘Nuomichi ditanam di Australia dan panen pada Januari-Februari,’ tutur Rudi. Sementara Reza pernah mencicipi guiwei di Pingtung, Taiwan, pada 2002.
Di Indonesia sendiri leci dibawa oleh pedagang pada abad ke-18, tepatnya ke Payangan, Kabupaten Gianyar, Bali. Di daerah berketinggian sekitar 900 m dpl itu, leci mulai dikembangkan pada 1901. Leci yang dikembangkan di Chiangmai, Thailand, juga kebanyakan introduksi dari China Selatan.
Terbaik
Kelezatan leci asal China sudah tak diragukan lagi. ‘Rasa leci di China itu the best-nya,’ kata Reza. Itu karena negeri Tirai Bambu itu merupakan ‘tanahair’ leci di seluruh dunia. Di sana leci sudah dibudidayakan lebih dari 2.100 tahun lalu.
Sayang, leci asal China sedikit sekali yang masuk ke Indonesia. ‘Hanya sekitar 5-10% leci segar asal China, sisanya dari Thailand,’ ujar Rudi. Itu lantaran adanya kendala pengemasan dan transportasi. Buah hanya dikemas dalam kotak kayu sehingga banyak yang rusak dalam perjalanan. Selain itu, ‘mendatangkan leci dari China butuh waktu 3 minggu sampai ke Jakarta, sementara Thailand hanya 2 hari,’ tambah pemilik toko buah Segar itu.
Padahal, buah leci cepat rusak. ‘Bila terkena udara terbuka leci hanya tahan 3 hari, setelah itu kulitnya jelek, berwarna hitam kecokelatan. Kalah dengan rambutan yang masih bisa tahan 5 hari sebelum rambutnya berwarna cokelat,’ kata Reza. Lantaran itulah buah leci jarang diekspor dalam bentuk segar, tapi olahan kering atau menjadi buah dalam kaleng. Dengan begitu leci dapat dicicipi oleh masyarakat internasional, termasuk Indonesia.
Daerah produksi leci di China tersebar di antara 19-24° lintang utara, yaitu di Provinsi Guangdong, Guangxi, Fujian, Hainan, Yunnan, dan Guizhou. Sekitar 60% dari total produksi leci di China dikonsumsi segar dan 30% diolah menjadi leci kering, sementara sisanya dikemas menjadi buah kaleng.
Beda dengan Thailand. Menurut Thawisat Dhuangthong, pakar hortikultur dari Division of Fruit and Economic Trees DOAE, sekitar 30% produksi leci di Chiangmai, Thailand Utara, masuk industri pengolahan, terutama untuk dikemas dalam kaleng. Tak heran bila Trubus lebih banyak menemukan leci dalam kaleng asal Thailand dibandingkan China di pasar swalayan. (Rosy Nur Apriyanti)
