Sunday, November 27, 2022

Munculnya Turunan Pit Bull Abad Ke-17

Rekomendasi

Seiring perjalanan waktu, anjing berbobot 29 kg itu menghilang. Sebagai gantinya muncul pit bull red nose-hidung merah-yang bertubuh besar dan bully, gemuk. Si hidung merah itu banyak disilangkan dengan sesama hidung merah berparas cantik: kepala besar, kotak, dada lebar, dan tulang kasar. Hasil silangan itu kemudian disebut pit bull modern yang banyak menjadi klangenan. ‘Beberapa persilangan itu membuat sifat asli pit bull yang gagah berani dan kuat menggigit nyaris hilang,’ ujar Ir Tony Yusuf, penangkar di Jakarta Barat. Tak jarang anjing menjadi penakut dan bernapas pendek.

Gerah dengan kondisi itu, Tony bersama Miming Naim dari Bandung berupaya mengembalikan sifat pit bull petarung dengan menciptakan trah baru. ‘Anjing petarung harus berani, cepat, kuat, dan lincah. Ia perlu memiliki napas panjang dan toleran terhadap rasa sakit,’ kata Tony. Ciri lain, anjing harus menggigit leher dan kaki. Untuk mendapatkan itu butuh induk pit bull hidung hitam dan jenis-jenis anjing petarung lain. ‘Hasil silangannya dinamakan jirung-anjing petarung,’ tambahnya.

Seleksi indukan

Butuh waktu 12 tahun untuk membidani jirung. Ada 3 tahap yang dilalui, seleksi indukan, sortir anakan, serta optimalisasi kekuatan dan ukuran. Pada tahap seleksi induk yang dipilih tak hanya trah american pit bull terrier (APBT) black nose, tapi juga italian pit bull, thailand pitdog, dan taiwan pitdog. Italian pit bull menyumbangkan temperamen stabil, tekanan pada gigitan, struktur gigi rapat, serta taring tajam dan kuat. Thailand pitdog mewarisi napas panjang dan kebiasaan menggigit dada lawan. Kecepatan dan kemampuan bertarung diturunkan dari taiwan pitdog. APBT black nose menurunkan kekuatan besar.

Guna mendapat induk-induk unggul itu, Tony berkeliling ke Thailand pada 1995. Setelah terkumpul, pemilik PT Sigma Bangun Persada di Jakarta Barat itu, mengawinkan anjing-anjing melalui 7 tahap persilangan. Tekniknya dengan perkawinan in line breeding (sejenis) dan cross out (silang). Pertama yang dikawinkan, APBT dan italian pit bull. Namun, hanya 10% anakan yang memiliki sifat hidung hitam. Setahun kemudian anjing terpilih itu disilangkan dengan taiwan pitdog. ‘Hasilnya belum 100% berciri petarung,’ kenang alumnus Teknik Sipil Universitas Tarumanagara di Jakarta Barat itu.

Setelah persilangan ke-6 mulai terlihat bibit petarung. Pada persilangan ketujuh sudah diperoleh 75-80% bibit petarung. ‘Setelah bibit-bibit itu dikawinkan, turunannya tetap bersifat sama,’ kata penggemar motor besar itu. Tony patut berbangga. Ia berhasil menelorkan 9 anakan jirung yang gagah dan berani. ‘Sekarang tinggal 2 ekor. Lainnya diberikan kepada teman-teman di Bandung, Surabaya, dan Yogyakarta untuk dikembangkan,’ katanya.

Hitam dan cokelat

Sosok jirung mirip pit bull hidung hitam. Hidungnya keras agak mancung, 2,5:3 dari kepala yang rata. Mukanya segitiga dan sedikit kerutan di pipi. Demikian pula matanya bulat berwarna hitam atau cokelat kekuningan. Tampak garis-garis otot menonjol di kepala, leher, dada, punggung, dan kaki. Terdapat 2 pilihan warna bulu pada jirung: hitam dan cokelat.

Ciri lain, telinga pendek setengah berdiri dan lehernya kokoh, kencang, serta tanpa lipatan. Kakinya bertulang bulat, lurus, dan kokoh, sehingga mampu menopang tubuh berbobot 20-32 kg setinggi 40-55 cm itu. Soal gigitan tak perlu diragukan. ‘Gigitannya jauh lebih ganas daripada pit bull,’ tutur Tony. Itu berkat susunan rapat 42 gigi yang memiliki 4 taring melengkung ke belakang dan gigi depan gunting.

Tak semua anjing petarung ternakan itu diakui sebagai jirung. Jirung melekat bila arah gigitannya ke leher dan kaki. Untuk membuktikan itu butuh pengujian di dalam ring. Pertarungan dalam ring juga berguna untuk mengetahui kekuatan anjing. Namun, ada syarat saat anjing naik ring. Anjing harus berumur lebih dari 14 bulan, suhu tubuh 36°C, tali kekang di leher. Setelah juri memberi aba-aba memulai pertandingan, pemilik lalu mendekatkan kepala kedua anjing dan meregangkan tali. Saat anjing mulai menyerang leher dan kaki, tanda pantas disebut jirung. Pertandingan pun dapat dihentikan.

Klangenan

Keberadaan jirung mengundang banyak tanggapan. Sebut saja Andi di Jakarta. ‘Adanya jirung dapat menambah marak adu anjing. Padahal, pertarungan itu dapat menyakiti anjing karena tubuh mereka pasti terluka,’ ujarnya. Tak jarang anjing bertarung sampai lawan mati atau ia sendiri tewas. Itu lantaran sifat petarung yang tidak mau kalah.

Menurut Anton Wibowo, ketua Exploring-perkumpulan pencinta pit bull di Yogyakarta, visi membuat trah baru asli tanahair selain kintamani sah dilakukan. Apalagi untuk memperkenalkan dan dapat bersaing dengan anjing petarung dari Amerika Serikat, Thailand, dan Taiwan. ‘Karena memiliki darah pit bull, jirung perlu diberi akhiran pit terrier,’ ujar Anton. Sertifikasi resmi layaknya stambum pun perlu untuk menghindari munculnya jirung-jirung palsu.

‘Bukan berarti jirung dipakai untuk adu anjing. Hanya ciri-ciri petarung yang ingin ditonjolkan pada jirung,’ kata Tony. Latihan yang tepat membuat keinginan bertarung jirung terkontrol. Caranya dengan memperkenalkan jirung ke lingkungan. Selain itu, perlu menghindari trah lain yang memancing sifat bertarungnya muncul.

Jirung pun pantas menjadi klangenan. Selain didukung temperamen stabil dan tahan sakit, ‘Jirung tidak akan menggigit saat disakiti oleh anak pemiliknya,’ ujar kontraktor perumahan itu. Selain itu, ia dapat bersalin rupa menjadi anjing penjaga lantaran setia melindungi tuannya. Kekuatan, keberanian, dan kesetiaan membuat jirung dapat dibanggakan sebagai ternakan lokal. (Lastioro Anmi Tambunan)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Empat Gabus Hias yang Cocok untuk Pemula

Trubus.id — Pehobi pemula perlu memahami jenis gabus hias atau channa. Hal ini karena masing-masing gabus hias memiliki tingkat...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img