Saturday, February 4, 2023

Mahasiswa Ubah Limbah Eceng Gondok Menjadi Listrik

Rekomendasi

Trubus.id — Limbah eceng gondok bisa dimanfaatkan menjadi listrik. Itulah yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Untuk menciptakan listrik, mereka mengombinasikan limbah eceng gondok dengan lumpur lapindo dan bakteri Escherichia coli.

Khoirun Nisa, salah seorang mahasiswa yang melakukan penelitian itu, mengatakan, latar belakang pengembangan penelitian didasari atas peningkatan penggunaan bahan bakar fosil beberapa tahun terakhir, terutama batu bara.

Penggunaan batu bara untuk bahan baku pembuatan listrik berpotensi mengakibatkan krisis energi global. Selain itu, penggunaan listrik di masyarakat juga semakin banyak.

Berawal dari situ, Khoirun Nisa dan tim mulai menggagas pemanfaatan limbah seperti lumpur lapindo, eceng gondok, dan bakteri Escherichia coli untuk menghasilkan listrik.

Potensi selulosa yang dimiliki eceng gondok sangat besar yakni di angka 64.51 persen. Hal ini didukung dengan sumber daya eceng gondok yang melimpah. Apalagi, pertumbuhan eceng gondok terbilang cepat.

Tingginya selulosa dapat memberikan kabar baik bagi peranannya dalam Microbial Fuel Cells (MFCs), yakni untuk memicu perkembangan bakteri. Kandungan selulosa eceng gondok juga dapat menanggulangi dampak negatif dari keberadaannya yang menutupi air.

“Kandungan selulosanya sebagai substrat bagi bakteri untuk menghasilkan listrik yang lebih tinggi dalam MFCs. Sehingga, ekosistem air terjaga dan energi terbarukan dapat ditemukan,” terang Khoirun Nisa, melansir dari laman Universitas Sebelas Maret.

Sementara itu, Escherichia coli merupakan jenis spesies utama bakteri gram negatif fakultatif anaerobik. Bakteri Escherichia coli dapat digunakan pada sistem MFCs dengan substrat glukosa atau sukrosa. Hal ini dapat menggunakan selulosa yang dikonversikan menjadi glukosa pada eceng gondok.

Escherichia coli dipilih karena pemanfaatannya sebagai bahan baku MFCs kurang dilakukan karena pada umumnya adalah bakteri shewanella,” jelasnya.

Lebih lanjut, menurut Khoirun Nisa, ide ini juga berawal dari dampak lumpur lapindo yang tak kunjung usai. Lumpur lapindo dimanfaatkan sebagai sumber katoda pada MFCs karena lumpur ini merupakan biomassa dengan berbagai kandungan logam berat.

Khoirun Nisa dan tim menggunakan metode isolasi selulosa dari eceng gondok yang didapatkan dari serbuk hijau muda. Setelah itu, proses berlanjut dengan mengubah selulosa tersebut menjadi glukosa dengan bantuan trichoderma viride.

Glukosa yang dihasilkan digunakan sebagai media tumbuh kembang dan makanan bagi bakteri Escherichia coli. Pembuatan reaktor MFCs dilakukan dengan sederhana terbuat dari 2 stoples bekas yang disambungkan oleh jembatan garam.

“Toples bagian katoda diisi dengan lumpur lapindo dan toples bagian anoda diisi dengan bakteri Escherichia coli dan diukur menggunakan multimeter,” tuturnya.

Dari hasil penelitiannya itu, tercipta listrik dari limbah eceng gondok yang dikombinasikan dengan lumpur lapindo dan bakteri Escherichia coli. Dengan data tertinggi tegangan listrik sebesar 256,6 MV, arus listrik sebesar 0,08 MA, serta power density yang dihasilkan sebesar 13,40 MW/m2.

Inovasi listrik ramah lingkungan ini diharapkan, ke depan dapat dikembangkan dan diproduksi dalam jumlah besar sehingga dapat membantu mengurangi limbah serta jumlah lumpur lapindo.

Selain Khoirun Nisa, anggota tim penelitian ini antara lain Abbilah Ero Mahdhani, Vicky Ahava Ferdinansyah, dan Alifiananda Rahmatul Dafa Kesuma. Tim ini dibimbing langsung oleh Prof. Venty Suryanti, M.Phil., Ph.D.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Tips Memelihara Kura-kura agar Rajin Bertelur dan Terhindar Penyakit

Trubus.id — Memelihara satwa menjadi kesenangan tersendiri bagi sebagian orang. Apalagi, bagi orang yang hidup di perkotaan. Dengan aktivitas...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img