Friday, January 16, 2026

Rahasia Aglaonema Bebas Busuk Akar

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id-Pemilihan bahan dan cara mengolah media tanam yang tepat menjadi kunci agar aglaonema terbebas dari busuk akar. Beberapa pot aglaonema mutasi milik Henry sempat mengalami busuk akar.

Oleh karena itu, ia segera menghentikan penyiraman begitu air mengucur dari dasar pot. Tantangan Henry dalam menanam aglaonema tidak berhenti di situ.

Pehobi aglaonema dari Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan, ini selalu was-was saat musim hujan. Maklum, ia memelihara aglaonema di tempat terbuka sehingga media tanamnya sering basah kuyup, bahkan tergenang saat hujan deras.

Kini, koleksi aglaonema Henry terbebas dari serangan busuk akar. Rahasianya adalah penggunaan media tanam dengan bahan dan cara pengolahan yang tepat.

Henry menggunakan campuran sekam mentah, serbuk sabut kelapa, cacahan humus andam, sekam bakar, pasir malang, dan zeolit. Sebelum digunakan, sekam mentah, serbuk sabut kelapa, dan cacahan humus andam difermentasi terlebih dahulu.

Proses fermentasi diawali dengan perendaman ketiga bahan tersebut selama sepekan. Selama perendaman, air diganti 2—3 kali untuk menghilangkan zat tanin dari serbuk sabut kelapa yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman.

Perendaman sekam mentah juga bertujuan menghilangkan kotoran yang menempel agar saat fermentasi tidak menimbulkan bau menyengat. Setelah perendaman, Henry memasukkan semua bahan ke dalam drum berisi 150 liter air yang telah dicampur dengan 250 gram gula dan 1 liter bakteri fermentor.

Ia mengaduk campuran tersebut hingga merata, memastikan seluruh bahan terendam sempurna, lalu menutup drum dan menyimpannya di tempat teduh. Agar fermentasi merata, Henry rutin mengaduk campuran ini sekali dalam sepekan.

Proses fermentasi dianggap berhasil jika suhu media tanam dalam drum sama dengan suhu kamar dan tidak beraroma menyengat. Biasanya, fermentasi selesai dalam waktu minimal satu bulan.

Dalam satu kali fermentasi, Henry mampu menghasilkan 20 karung media tanam dari dua drum besar. Teknik fermentasi ini membuat aglaonema lebih tahan terhadap busuk akar dan mendukung pertumbuhan optimal.

Sebagai contoh, aglaonema adelia mutasi yang awalnya memiliki daun berukuran 8 cm kini bisa mencapai 12 cm berkat media tanam yang tepat. Selain itu, frekuensi pertumbuhan daun baru juga meningkat.

Jika sebelumnya daun baru muncul setiap 30 hari, kini hanya butuh 24 hari. Aglaonema juga semakin rajin menghasilkan anakan.

Jika sebelumnya hanya mampu memunculkan 2—5 anakan, kini bisa mencapai 5—9 anakan sekaligus setelah menggunakan media tanam fermentasi. Dengan teknik ini, Henry berhasil menjaga keindahan dan kesehatan aglaonema koleksinya.

Media tanam yang baik terbukti menjadi kunci sukses dalam membudidayakan tanaman hias ini.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img