Monday, August 8, 2022

Mekarnya sang Raksasa Yunani

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Sayang tinggi bunga hanya 1,5 m. Lazimnya tinggi bunga titanum minimal 2 m. Rekor bunga bangkai tertinggi mekar di Taman Wilhelma, Stuttgart, Jerman, pada 2005, tingginya 2,94 m.

Gregori Garnadi Hambali, ahli botani di Bogor, Jawa Barat, menduga ukuran bunga koleksi Donny lebih pendek karena kondisi iklim yang lebih dingin. Titanum biasanya hidup di hutan-hutan dengan ketinggian 400 m dpl. Sedangkan kediaman Donny di Lembang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, mencapai 1.200 m dpl. Intensitas cahaya matahari juga kurang sehingga fotosintesis tidak optimal. Akibatnya pasokan karbohidrat dari umbi tak cukup mendorong pertumbuhan bunga lebih besar.

Meski begitu, suka-cita tetap terlukis di wajah Donny. Semula Donny tak berharap banyak bakal menyaksikan titanum berbunga di kebun. Maklum, sejak didatangkan dari Bengkulu pada 2004, kerabat talas itu terus menerus menumbuhkan daun. “Itu artinya pasokan energi belum cukup menumbuhkan bunga,” kata Greg. Titanum rajin mengeluarkan daun untuk “menabung” karbohidrat melalui fotosintesis. Di habitat asli pun titanum berbunga 4 tahun sekali.

Karakter titanum itu berbeda dengan kerabatnya Amorphophallus paeoniifolius alias A. campanulatus. Suweg—sebutannya dalam bahasa Jawa—lebih rajin berbunga. Itu lantaran bunga lebih kecil sehingga tak membutuhkan banyak energi untuk menumbuhkannya. Tinggi bunga suweg hanya 50 cm dan lebar mahkota sekitar 40 cm.

Terancam di alam

Karena itu David Sucianto, hobiis di Bogor, lebih memilih mengoleksi suweg di halaman depan rumah. Sejak didatangkan dari Cilegon, Jawa Barat, 2 tahun silam, karabat talas itu sudah 2 kali berbunga.

Penampilan bunga paeoniifolius tak kalah menarik. Bentuk mahkota bunga mirip titanum. Bedanya bentuk spadik membulat dan pendek. Pada titanum bentuknya memanjang. David juga mengoleksi Amorphophallus variabilis yang diperoleh dari Bogor. Namun, penampilan bunga variabilis kurang istimewa. Bunganya kecil dan bentuknya seperti bunga lili.

Kesukesan Donny dan David membungakan bunga bangkai dan kerabatnya membangkitkan minat hobiis lain untuk merawat kerabat aglaonema itu. “Banyak rekan saya yang menanyakan di mana memperoleh bunga bangkai,” tutur David.

Tingginya minat mengoleksi bunga bangkai ibarat buah simalakama. Banyak yang khawatir koleksi oleh perorangan memicu perburuan di alam. Namun, membiarkan sang puspa bangkai di habitat aslinya juga tak menjamin kelangsungan hidup kerabat aglaonema itu.

Itu terbukti saat tim eksplorasi Taman Wisata Mekasari (TWM) menjelajahi rimba belantara di Provinsi Jambi untuk mencari buah khas Sumatera pada 2002. Mereka menemukan titanum layu di areal hutan terbuka karena dibabat untuk kelapa sawit.

Untuk menyelamatkan bunga bangkai  dari habitatnya yang telah hancur, anggota tim lalu memboyong 20 umbi titanum berbagai ukuran dan beberapa biji dari bunga yang telah layu. Di Bogor umbi bunga bangkai ditanam di dalam petak-petak berukuran 2 m x 4 m x 0,6 m dari batako di rumah tanam seluas 3.000 m2.

Dua kali berbunga

Tak lama berselang dari umbi muncul tunas kemudian menjadi daun utuh. “Pada umur 16 bulan setelah tunas, tinggi tanaman bisa mencapai 4 meter,” ujar Parimin, pengelola kebun TWM. Sosok A. titanum memang paling bongsor di antara 84 spesies lain. Karena itu nama titanum—dalam bahasa Yunani berarti raksasa—disematkan di belakang nama genus.

Sejak didatangkan pada 2002, raksasa Yunani itu sudah 2 kali berbunga di TWM. Yang pertama pada Januari 2008. Tinggi bunga mencapai 1,8 meter dan lebar mahkota 0,6 m.

Yang kedua Trubus saksikan pada 11 N ovember 2009. Bunga berasal dari umbi berukuran jumbo berbobot 12 kg. Tinggi bunga mencapai 2,30 m dan diameter mahkota 1,3 m. Itu bunga terbesar dalam kurun 3 tahun terakhir.

Keberhasilan membudidayakan titanum mendorong TWM untuk menangkarkan amorphophallus jenis lain seperti Amorphophallus beccarii, A. gigas, dan A. paeoniifolius. Dengan aksi penyelamatan itu, nasib bunga bangkai dan kerabatnya tak menjadi bangkai. (Imam Wiguna)

 

 

Amorphophallus titanum di Taman Wisata Mekarsari, tinggi bunga mencapai 2,3 m

Foto-foto: Koleksi Dvid Sucianto, Imam Wiguna, dan TWM

Suweg Amorphophallus paeoniifolius 2 kali

berbunga di kediaman David Sucianto di Bogor

Siklus Hidup Amorphophallus titanum

1. Umbi sebagai cadangan karbohidrat. Jika karbohidrat cukup, umbi mengeluarkan bunga. Jika belum, umbi memunculkan daun.

2. Umbi bertunas 3 bulan 10 hari setelah tanam.

3. Bakal daun muncul 7—8 bulan setelah tunas.

4. Tanaman dewasa berumur 16 bulan setelah tanam tingginya mencapai 3—4 m.

5. Setelah dewasa tanaman layu dan menyisakan umbi.

6. Bakal bunga muncul 3 bulan setelah tanaman dewasa layu.

7. Bunga umur 3 hari setelah muncul bakal bunga.

8. Bunga umur 9 hari setelah muncul bakal bunga.

9. Bunga umur 10 hari setelah muncul bakal bunga.

10. Bunga mekar sempurna 11 hari setelah muncul bakal bunga.

11. Mahkota bunga kembali menutup 12 hari setelah muncul bakal bunga.

12. Spadik layu 13 hari setelah muncul bakal bunga.

13. Jika terjadi penyerbukan, dari pangkal bunga muncul sekumpulan buah seukuran melinjo. ***

Ilustrasi: Bahrudin

Previous articleKumpulan e-book
Next articlePohon Pusaka
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img