Kiat melebatkan buah jeruk dalam pot, sejak pemilihan bibit, pemangkasan, dan sumber nutrisi tanaman.
Puluhan pohon jeruk itu berbuah lebat. Buah kuning cerah amat kontras di antara hijau daun. Pohon anggota famili Rutaceae itu tumbuh di pot tanah liat berdiameter 60 cm. Adapun tinggi pot hanya sekitar selutut orang dewasa. Beragam jenis jeruk di antaranya montaji agrihorti, kalamondin, siam pontianak, dan keprok batu 55 itu berbuah berbarengan. Tabulampot jeruk itu memeriahkan acara Spektahorti 2018 pada 20—23 September 2018.
Menurut peneliti dari Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro), Dr. Ir. Anang Triwiratno, M.P., sifat tanaman jeruk mencari nutrisi hanya di sekitar zona perakaran. Anang mencontohkan, di lahan jarak tanam penanaman konvensional 60 cm x 60 cm. Menggunakan pot pun bisa dipola demikian. Kedalaman media pun bisa sampai 60 cm. Artinya perkaran hanya pada pot.
Nutrisi tanaman
Beberapa faktor yang harus diperhatikan saat hendak menanam tabulampot jeruk meliputi bibit dan media tanam. Menurut Anang media tanam akan optimal bila menggunakan tanah bagian permukaan atas yang gembur atau top soil. Tanah bagian atas paling kaya nutrisi untuk tanaman dibandingkan dengan tanah lapisan bawah. Penambahan bahan organik seperti pupuk kandang dan kompos sangat direkomendasikan.

Adapun bibit sebaiknya menggunakan bibit bersertifikat. Kualitas bibit bersertifikat umumnya bebas penyakit. Ciri bibit baik, perakaran penuh pada polibag dan sehat. Jika ciri itu terpenuhi bibit siap tanam. Bibit jeruk ada juga yang menggunakan perbanyakan okulasi. “Batang bawah menggunakan varietas japanche citroen, rata-rata semai hingga 2 bulan. Pada umur 3—4 bulan tanaman bisa digunakan sebagai batang bawah,” kata Anang Triwiratno.
Adapun batang atas menggunakan jenis unggul salah satunya keprok batu 55. Total proses dari persemaian hingga benih siap sebar memakan waktu 1—1,3 tahun. Menurut pemilik nurseri Oscar Tintori Vivai di Italia, Alberto Tintori, kunci sukses menabulampotkan jeruk adalah penggunaan batang bawah kuat dan tahan penyakit. Menurut Alberto jeruk lebih memerlukan nitrogen, fosfor, dan potasium dibandingkan dengan tanaman berbuah lainnya.
Kebutuhan ketiga unsur itu meningkat pada fase pematangan buah. Ia menghindari pemberian pupuk organik dekat batang tanaman untuk mencegah penyakit oleh cendawan akibat terlalu lembap. Menanam jeruk di pot berbeda dengan menanam jeruk di lahan. Pehobi dapat langsung menanam bibit di pot dan membuahkan pada tahun pertama. Adapun penanaman di lahan pada 2 tahun pertama pascatanam fokus pada pembentukan tanaman.
Pemangkasan

Kiat lain adalah memangkas. Anang merekomendasikan pemangkasan jeruk tabulampot 1-3-9. Artinya 1 batang utama, 3 cabang utama, dan 9 cabang produktif. Tabulampot jeruk berumur 2—3 tahun menghasilkan rata-rata 10 kg per pohon. Jumlah itu jauh lebih sedikit dibandingkan jeruk di lahan yang bisa mencapai 50—100 kg per tanman, dengan masa produktif 7—8 tahun.
Menurut praktikus tanaman buah di Desa Cijeruk, Kabupaten Bogor, Syahril M. Said, perangsangan pembungaan tabulampot bisa menggunakan hormon dengan bahan aktif paclobutrazol. Namun, aplikasinya perlu dibarengi pemberian pupuk organik cukup pascapalikasi. Musababnya, tanaman memerlukan energi lebih untuk berbunga sehingga asupan nutrisi pun harus tetap terjaga. Aplikasi hormon perangsang pembungaan tanpa dibarengi pemupukan berimbang dapat menyebabkan tanaman mati. (Muhamad Fajar Ramadhan)
Perisai Jeruk
Menurut peneliti di Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro), Dr. Ir. Anang Triwiratno, M.P., tanaman jeruk perlu perawatan intensif. “Jeruk tanaman produktif tetapi rentan serangan hama dan penyakit,” kata Anang. Tunas muda jeruk santapan empuk bagi serangga.
“Tunas muda jeruk berumur kurang dari 3 minggu disenangi beragam serangga, termasuk serangga inang,” kata doktor Fitopatologi alumnus Universitas Gajah Mada itu. Adapun bunga cocok sebagai inang hama Thrips. Imbasnya ketika berbuah, permukaan buah tidak mulus karena serangan thrips sewaktu berbunga. Sejak tanaman berbunga hingga berbuah harus terlindungi.
Menurut Senior Crop Manager PT FMC Agricultural Manufacturing, Agus Suryanto, solusinya dengan melindungi tanaman menggunakan insektisida. Insektisida Preza ampuh mengendalikan beragam jenis organisme pengganggu tanaman. Aplikasinya dengan melarutkan 2 ml pada 1 liter air. Kemudian semprotkan pada bagian tanaman jeruk yang terserang hama. Menurut Agus insektisida itu sangat aman bagi tanaman dan tidak memicu bunga rontok.
Menurut Anang kini sudah banyak produsen yang mengeluarkan hormon khusus bunga. Menurut Business Manager Plant Health PT FMC Agricultural Manufacturing, Maulidin, menyarankan penggunaan Boom Flower untuk meningkatkan pembungaan, memperbanyak tunas bunga, mengurangi bunga rontok, mengoptimalkan pengisian buah, dan mempertebal kulit buah. Penyemprotan yang tepat pada tanaman juga merangsang pembungaan. Pehobi cukup melarutkan 2 ml perangsang itu dalam 1 liter air dan menyemprotkan ke sekujur tanaman. Larutan itu juga berperan dalam mengoptimalkan pengisian buah.

Waktu terbaik untuk menyemprokan perangsang bunga adalah ketika tanaman memasuki masa generatif. Maulidin menyarankan penggunaan produk perangsang pembungaan itu pada 30 hari sebelum masa berbunga dan sekali penyemprotan ketika bunga kuncup. Cirinya tanaman cukup umur. Akar batang dan cabang tanaman cukup kokoh untuk menopang buah.
Setelah sekali penyemprotan, bunga bermunculan. Larutan yang mengandung 0,2% nitrobenzena itu juga mencegah bunga rontok. Oleh karena itu, persentase berbuah pun kian tinggi. Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah pemupukan rutin. Kebutuhan pupuk berkaitan erat dengan banyaknya tunas. Tunas makin banyak memerlukan nutrisi yang banyak pula. (Muhamad Fajar Ramadhan)
