Friday, January 16, 2026

Menaklukkan Tantangan Budidaya Cabai di Musim Hujan

Rekomendasi
- Advertisement -

Musim hujan sering kali menjadi momok bagi petani cabai. Curah hujan tinggi membuat kelembapan meningkat, paparan sinar matahari berkurang, dan risiko serangan penyakit melonjak.

Banyak petani memilih menunda tanam hingga cuaca kembali stabil. Padahal, saat pasokan menurun karena banyak petani enggan menanam, peluang harga cabai melonjak terbuka lebar.

“Inilah momentum emas bagi petani yang berani menghadapi tantangan musim hujan,” ujar Muhammad Sidiq, Direktur Pelindungan Hortikultura Kementan, sebagaimana dilansir dari laman dirjenhorti.pertanian.go.id. Menurutnya, dengan strategi budidaya yang tepat, musim hujan justru bisa menjadi kesempatan untuk meraih keuntungan lebih tinggi.

Apakah mungkin menanam cabai dengan aman di musim hujan? “Sangat mungkin,” tegas Sidiq. Kuncinya ada pada pemilihan varietas yang tepat dan penerapan teknik budidaya yang cermat.

Varietas tahan virus seperti Absolut 69 menjadi salah satu solusi menjanjikan. Namun, Sidiq mengingatkan bahwa “tahan” bukan berarti “kebal” — perawatan intensif tetap diperlukan untuk mencegah serangan jamur penyebab layu.

Data Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa penerapan budidaya yang baik mampu menekan kerugian akibat penyakit hingga 30 persen di musim hujan. Artinya, dengan persiapan yang matang, risiko dapat diminimalkan secara signifikan.

Sidiq memaparkan, ada enam langkah penting yang perlu diperhatikan dalam budidaya cabai rawit tahan virus di musim hujan.

1. Perlebar jarak tanam.
Jarak tanam ideal di musim hujan sebaiknya diperlebar menjadi 60 x 50 cm atau menggunakan sistem satu lajur. Tujuannya untuk meningkatkan sirkulasi udara dan mengurangi kelembapan di sekitar tanaman.

Langkah ini sangat krusial untuk varietas seperti Absolut 69 yang pertumbuhannya rimbun. Tanaman yang terlalu rapat akan lebih mudah terserang jamur.

2. Penuhi kebutuhan nutrisi.
“Tanaman cabai di musim hujan membutuhkan nutrisi lebih tinggi untuk menopang pembentukan bunga dan buah,” kata Sidiq. Ia menyarankan penggunaan pupuk fast release seperti Kalinet melalui penyemprotan daun agar nutrisi cepat terserap.

Pemupukan yang tepat waktu membantu tanaman tetap produktif meski kondisi cuaca kurang ideal.

3. Cegah genangan air.
Penyakit layu fusarium berkembang cepat pada tanah lembap atau tergenang air. Sidiq menyarankan membuat bedengan besar dan tinggi serta menggunakan mulsa plastik hitam perak untuk mencegah genangan.

Langkah ini juga membantu menekan pertumbuhan gulma dan menjaga suhu tanah tetap stabil.

4. Jaga kestabilan pH tanah.
Tanah yang terlalu asam dapat menghambat penyerapan unsur hara dan membuat tanaman stres. “Gunakan dolomit sebagai pupuk dasar untuk menetralkan keasaman, lalu tambahkan asam humat atau kalium humat (IMPRESOL) untuk memperbaiki struktur tanah,” jelasnya.

Keseimbangan pH menjadi dasar penting bagi keberhasilan penyerapan nutrisi tanaman.

5. Kendalikan tunas air.
Tunas air yang berlebihan dapat menghambat sirkulasi udara dan meningkatkan kelembapan. “Lakukan perempelan rutin, terutama pada tunas di bagian bawah batang dan tengah tanaman,” ujar Sidiq.

Perempelan membantu tanaman lebih fokus menumbuhkan bunga dan buah berkualitas.

6. Maksimalkan pemberian kalsium.
Kalsium berperan penting memperkuat dinding sel tanaman agar lebih tahan terhadap penyakit. Sidiq menyarankan pemberian pupuk kalsium secara rutin melalui penyemprotan daun, terutama saat tanaman mulai rimbun.

Kerimbunan tanaman sering kali menghambat penyerapan unsur hara, sehingga pemberian kalsium menjadi langkah penting untuk mencegah busuk buah dan layu.

Dengan menerapkan keenam langkah tersebut, petani dapat menekan risiko dan tetap produktif di tengah cuaca ekstrem. “Musim hujan bukan penghalang, tapi peluang untuk meraih hasil lebih baik,” tutup Sidiq optimistis.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img