Trubus.id—Penyakit bulai menjadi salah satu momok utama dalam budidaya jagung di Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh cendawan dari famili Peronosporaceae yang menyerang sejak awal pertumbuhan tanaman.
Menurut Hammam Abdullah Rizki, peneliti dari Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, bulai termasuk penyakit sporadis yang dapat ditemukan di berbagai daerah. Serangan bulai tidak terikat pada jenis tanah maupun kontur lahan.
Gejala bulai tampak pada daun tanaman yang menguning, pucat, bahkan terlihat tidak sehat. Warna pucat itu muncul karena klorofil tanaman rusak akibat infeksi cendawan.
Kerusakan pada klorofil menyebabkan tanaman tidak mampu melakukan fotosintesis secara optimal. Akibatnya, pertumbuhan tanaman terhambat bahkan bisa gagal panen.
Penyebaran bulai terjadi melalui tanah, udara, dan air, namun infeksi paling umum berasal dari akar. Cendawan kemudian menyebar melalui jaringan pengangkut tanaman dan menginfeksi bagian dalam.
Jika tidak dicegah, bulai dapat menyebabkan kerugian besar, yakni 70 hingga 90 persen dari hasil panen. Spora bulai sangat cepat menyebar dan bisa menyerang tanaman lain dalam satu lahan.
Cendawan penyebab bulai sangat menyukai kondisi tanah yang asam. Sayangnya, lahan jagung seringkali tidak diolah secara optimal karena dianggap hanya sebagai tanaman selingan.
Faktor nutrisi juga berperan penting dalam mencegah infeksi bulai. Kekurangan unsur seperti kalium membuat jaringan tanaman menjadi lemah dan mudah terinfeksi.
Pemupukan berimbang menjadi langkah pencegahan yang efektif untuk memperkuat ketahanan tanaman. Kalium membantu memperkuat jaringan tanaman sehingga spora sulit menembus permukaan.
Selain itu, menjaga pH tanah tetap netral dan tidak terlalu masam bisa mengurangi potensi infeksi. Pengolahan lahan yang baik dan rotasi tanaman juga dianjurkan untuk mencegah perkembangan cendawan.
Menurut Hadi Suparno, gejala bulai umumnya muncul 7—10 hari setelah tanam. Jika satu tanaman menunjukkan gejala, maka tanaman lain di sekitarnya berisiko tinggi terinfeksi.
Bulai bukan hanya ancaman bagi hasil panen, tetapi juga menurunkan efisiensi biaya produksi petani. Oleh karena itu, pemahaman dan pencegahan dini sangat penting dalam budidaya jagung.
