Trubus.id—Yoga Andika, menjadi saksi bisu dari teman-teman sebayanya yang enggan melanjutkan sekolah. Mereka memilih jalan pintas dengan menikah usia remaja. Bahkan, ironisnya, banyak yang terjerat dalam masalah kehamilan di luar nikah.
Usia Yoga saat itu masih 14 tahun (kelas 3 SMP) pada 2013. Melihat fenomena tersebut, Yoga setiap waktu gelisah lantaran kehilangan teman sebaya putus sekolah. Apalagi, masyarakat menganggap hal seperti itu sebuah kewajaran.
Yoga merasa prihatin. Ia ingin mengajak teman-temannya menunda pernikahan. Namun, pengetahuan tentang bahaya pernikahan usia remaja yang dimiliki belum mumpuni. Pria asal Dusun Purwono, Desa Baledono, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan,Jawa Timur, itu mengambil inisiatif datang ke puskesmas untuk belajar.
Seiring waktu, banyak temannya yang tertarik untuk ikut. Dengan visi yang sama akhirnya mereka membuat komunitas sebagai ruang gerakan edukasi untuk remaja. Komunitas itu bernama “Laskar Pencerah Tosari”.
Nama itu dipilih, dengan harapan remaja yang tergabung di komunitas bisa menjadi penerang di tengah kegelapan pernikahan usia remaja. Melalui wadah komunitas inilah, Yoga mulai menyebarkan edukasi ke seluruh penjuru desa dan sekolah yang ada di Kecamatan Tosari.
Penyuluhan Keliling
Perjuangan Yoga tidak mudah. Yoga sempat tidak mendapat restu dari orang tua dalam berkiprah di Komunitas Laskar Pencerah Tosari. “Ngapain kamu kegiatan ke desa-desa seperti itu, lebih baik bantuin ibu ke ladang,” kata Yoga menirukan perkataan sang ibu waktu itu.
Namun, perlahan Yoga berhasil meyakinkan sang ibu hingga mendapat restu. Persoalan finansial menjadi hambatan lain yang harus Yoga hadapi. Sering kali Yoga dan anggota berinisiatif menyisakan uang saku untuk biaya operasional kegiatan komunitas.
“Biasanya untuk beli bensin,” kata alumnus Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Gajayana Malang, itu.

Dengan menggunakan motor, Yoga berkeliling ke tiap desa dan sekolah. Di Kecamatan Tosari terdapat 8 desa, 6 Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan 3 Sekolah Menengah Atas (SMA). Laskar Pencerah Tosari mempunyai kegiatan rutin melakukan penyuluhan pada remaja.
Penjadwalan menyesuaikan waktu luang remaja setempat. Umumnya, untuk penyuluhan ke desa diambil waktu sore dan malam hari. Yoga bekerjasama dengan pemerintah desa setempat untuk penggunaan tempat penyuluhan seperti gedung balai desa.
“Tidak setiap desa yang kami datangi menyambut baik, ada yang menolak, ada juga yang menyambut baik dan mendukung penuh kegiatan kami,” tutur pria kelahiran 30 Juli 1997, tersebut.
Jumlah anggota Laskar Pencerah Tosari kala itu berjumlah 12 orang. Saat tiba jadwal penyuluhan, Yoga membagi anggota menjadi dua kelompok untuk memberi penyuluhan ke desa yang berbeda.
Aktivitas penyuluhan itu, membuat Yoga dan teman-temannya sering pulang larut malam. Mereka mengukir berbagai pengalaman dan kenangan yang tak terlupakan.
“Pernah waktu itu datang ke desa, peserta yang hadir hanya satu orang, kondisinya hujan, dan mati lampu. Kegiatan tetap kami jalankan, meskipun penerangan hanya menggunakan cahaya laptop. Sayangnya, saya tidak punya dokumentasinya,” jelas Yoga.
Selain penyuluhan ke remaja desa, Laskar Pencerah Tosari melakukan penyuluhan ke siswa yang ada di sekolah. Dalam sebulan, penyuluhan ke sekolah umumnya 2 kali. Adapun jadwal menyesuaikan pihak sekolah.
Sukses Turunkan Angka Pernikahan Remaja
Laskar Pencerah Tosari menyadari bahwa perlu waktu untuk melihat dampak positif dari aktivitas penyuluhan. Kendati demikian, Laskar Pencerah Tosari meyakini gerakan yang dilakukan bersifat jangka panjang.
Lalu apa isi dari penyuluhan yang dilakukan oleh Komunitas Laskar Pencerah Tosari?

Melalui program komunitas bernama posyandu remaja, setidaknya terdapat lima poin isi penyuluhan. Komunitas menyebutnya lima meja. Meja pertama, merupakan meja pendaftaran peserta.
Meja kedua, pengukuran tinggi dan berat badan yang bertujuan untuk melihat perkembangan anak setiap bulan. “Sehingga bisa untuk mendeteksi anak itu stunting atau tidak,” ujarnya.
Meja ketiga, pemeriksaan tensi dan pemeriksaan Lingkar Lengan Atas (LILA) yang umumnya untuk anak perempuan. Pengukuran LILA bertujuan untuk mengetahui status gizi seseorang, apakah ia mengalami kekurangan energi kronis (KEK) atau tidak.
Meja keempat, untuk konsultasi. Anak bisa berkonsultasi secara privat. “Mungkin ada anak yang sedang memiliki masalah dengan orang tua, teman di sekolah, atau permasalahan lain, sehingga kami bantu mencari solusi,” papar Yoga.
Meja kelima, untuk komunikasi, edukasi, dan informasi. Menurut Yoga meja kelima menjadi inti dari isi penyuluhan. Sebab tema-tema yang dibawakan setiap pertemuan berbeda. Selain tema bahaya pernikahan remaja, tema lain yang diusung seputar kenakalan remaja, seperti bahaya minuman keras (miras), HIV/AIDS, free sex.
Pembina Laskar Pencerah Tosari, Dr. Agus Tri Cahyono, mengatakan, kehadiran Komunitas Laskar Pencerah Tosari membawa dampak positif bagi masyarakat desa yang ada di Kecamatan Tosari. Itu dibuktikan dengan adanya penurunan angka pernikahan usia remaja.
“Sebelum ada Komunitas Laskar Pencerah ini, setiap tahun ada 20 pasang anak remaja berusia di bawah 20 tahun yang menikah. Baik yang dinikahkan, atau (mohon maaf) yang hamil di luar nikah sehingga dinikahkan,” jelas Agus.
Namun setelah kehadiran Komunitas Laskar Pencerah Tosari, angka pernikahan remaja menurun 50%. Selain itu, pola pikir anak mulai banyak berubah. Semula enggan melanjutkan sekolah, menjadi bersemangat untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi.
Sampai saat ini, Komunitas Laskar Pencerah Tosari, masih aktif melakukan penyuluhan remaja. Regenerasi anggota komunitas juga dilakukan setiap tahun.
Yoga juga masih turut mendampingi adik-adiknya yang terus semangat bergerak di komunitas. Ia terus berinovasi menyesuaikan perkembangan zaman. Seperti membuat website posyanduremaja.com, yang isinya beragam materi seputar remaja, siapapun bisa mengaksesnya.

Kegigihan Yoga dalam gerakan pencegahan pernikahan remaja membuat Astra memberikan penghargaan SATU Indonesia Awards 2016. SATU Indonesia Awards merupakan wujud apresiasi Astra pada anak-anak muda inspiratif.
Keberhasilan itu, juga membuat Yoga beberapa kali diundang menjadi narasumber dalam kegiatan Kementerian Kesehatan RI, sekaligus berkontribusi dalam pembentukan buku petunjuk teknis Posyandu Remaja Kementerian Kesehatan RI.
Bahkan, Program Posyandu Remaja dari Komunitas Laskar Pencerah Tosari telah direplikasi oleh Kementerian Kesehatan RI untuk diterapkan di setiap puskesmas di beberapa daerah di Indonesia.
Risiko Menikah Usia Remaja
Sekretaris Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia Wilayah Jawa Timur, Laksmi Widjajanti, S.Psi., mengapresiasi gerakan edukasi pencegahan pernikahan remaja yang dilakukan oleh Komunitas Laskar Pencerah Tosari.
“Kalau banyak pemuda seperti di komunitas (Laskar Pencerah Tosari) itu, keren banget,” kata Laksmi.
Menurut Laksmi pernikahan usia remaja berisiko tinggi. Baik secara fisik ataupun mental. Fisik pada usia remaja belum matang untuk reproduksi. Bahayanya jika itu dipaksakan, bisa berdampak pada bayi yang dilahirkan.
“Mudah keguguran, atau lahir tapi tidak normal,” kata Laksmi.
Adapun dari sisi mental, usia remaja belum matang dalam berpikir. Apalagi usia remaja merupakan fase sebagai individu mencari jati diri masing-masing. “Egoisnya masih tinggi, jadi sangat bahaya jika dipaksakan untuk menikah,” jelasnya.
Laksmi mengatakan pernikahan adalah proses belajar sepanjang hidup. Oleh karena itu, semua hal harus dipersiapkan dengan matang, mulai dari fisik hingga mental. Menjadi tugas bersama untuk mencegah pernikahan remaja.
Keluarga atau orang tua menjadi gerbang utama untuk mencegah pernikahan remaja. Orang tua perlu memberi informasi seputar pendidikan seksual sedini mungkin. Tujuannya agar anak bisa menjaga diri.
“Ketika mengenalkan alat reproduksi, harus dijelaskan risiko atau dampaknya, jangan hanya sekadar mengenalkan. Beri tahu batasan-batasan yang harus diketahui anak. Bagian tubuh mana saja yang tidak boleh dipegang orang lain dan berikan alasannya,” tutur Laksmi.
Orang tua sebaiknya harus bisa menjadi pemberi informasi dan teman diskusi anak. Apalagi, di era digital semua informasi bisa bertebaran begitu cepat. Orang tua perlu memberi informasi dahulu, agar anak mempunyai filter saat menerima hal-hal baru dari sosial media.
Laksmi mengimbau pada masyarakat agar tidak memiliki persepsi tabu pada pendidikan seksual. Menurut Laksmi, seks adalah sebuah pengetahuan, sehingga harus dijelaskan secara ilmiah.
“Saat sex education itu dijelaskan secara ilmiah, sebenarnya tidak tabu. Hanya, kadang orang tua ini sudah memiliki persepsi tabu terlebih dahulu, sehingga informasi yang sebetulnya dibutuhkan anak menjadi tidak tersampaikan,” paparnya.
Oleh karena itu komunikasi antara anak dengan orang tua harus dibangun sebaik mungkin. Di sisi lain, Laksmi berpesan pada para remaja agar memiliki cita-cita setinggi mungkin. Sebagai individu merdeka, remaja harus mampu menjadi pribadi yang berhasil.
“Jadi saat dewasa, mereka bisa sukses membangun bahtera rumah tangga yang harmonis,” tuturnya.(Trubus/Mohammad Iqbal Shukri)
