Sunday, August 14, 2022

Mentaram di Mataram

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Tingkat kemanisan daging buah 24,4o briksDrs H. Lalu Junaidi memiliki 5 pohon induk mentaram warisan orangtuaTercatat ada 5 pohon induk mentaram berumur 7 tahun tumbuh di pekarangan rumah Junaidi. Setiap tahun mereka pamer buah pada September – Desember. Total produksi berkisar 110 – 200 kg per pohon per panen. ‘Saat buah masih hijau tetangga dan kolega datang untuk pesan,’ kata Junaidi. Beruntung Trubus sempat mencecap daging buah saat berkunjung ke kediaman kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbanpol) Kota Mataram itu pada pengujung September 2010.

Pantas bila mangga berbobot 209 – 341 g per buah itu menjadi incaran. Melumat mentaram ibarat merasakan gabungan kelezatan kweni, arumanis, manalagi, dan indramayu. Begitu dibelah daging buah berwarna jingga kekuningan segera terlihat. Aroma perpaduan kweni dan arumanis pun segera menguar. Tekstur daging buah lembut dan bertepung mirip manalagi. Rasanya sangat manis seperti madu. Wajar saja, tingkat kemanisan mentaram 24,4o briks, lebih tinggi daripada arumanis, 17o briks dan irwin, 19,3o briks.

Tahan simpan

Menurut Ir Rebin, peneliti mangga di kebun percobaan Cukurgondang, Pasuruan, Jawa Timur, mayoritas buah-buahan di Indonesia bagian Timur lebih manis. ‘Semakin ke timur curah hujan sedikit dan daerahnya kering. Hal itu yang membuat kadar gula pada buah tinggi,’ ucap Rebin. Rasa manis bahkan menyelimuti mentaram meski masih mengkal atau dipanen muda. Saat itu daging buah renyah seperti indramayu dan cocok untuk rujak.

Istimewanya lagi, daging buah segar dan tidak mudah bonyok meski disimpan selama sepekan. Sebab, ‘Kulit buah mentaram tebal sehingga buah terasa keras saat dipegang,’ ucap Junaidi. Kulit buah hanya sedikit kisut setelah disimpan 2 pekan. Namun, hal itu tidak membuat daging buah bonyok sehingga kesegaran tekstur dan rasanya tetap terjaga.

Ia juga tak seperti mangga umumnya yang jatuh bila kelewat matang. ‘Mentaram tetap tergantung di tangkainya,’ kata Junaidi. Ia juga tahan terhadap hama penggerek batang dan penyakit. Hingga kini belum dijumpai ledakan hama – misal wereng dan penggerek daun – dan penyakit seperti bercak karat merah yang kerap menyerang mangga.

Menurut Ir Abdullah A Karim, MSi, mantan kepala Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultira (BPSB TPH), Nusa Tenggara Barat, mentaram tumbuh subur dan rajin berbuah di ketinggian 50 – 350 m dpl. Idealnya mentaram ditanam di tanah lempung berpasir dengan pH 5,5 – 6.

Pendatang

Munculnya nama mentaram untuk Mangifera indica itu bukan tanpa alasan. Mentaram diambil dari bahasa Sasak yang artinya mataram. Anggota famili Anacardiaceae itu belum ditemukan di luar Lombok. Berdasarkan rekam sejarah, mentaram sebetulnya pendatang di Bumi Gora. ‘Penuturan beberapa tokoh masyarakat mentaram didatangkan pertama kali oleh etnis Bali pada 1855,’ ujar Fahrurrozi, SP, koordinator penyuluh lapangan Kota Mataram. Ketika itu buah dibawa sebagai oleh-oleh untuk kerabat di dalam Taman Maruya (salah satu taman wisata terbesar Lombok).

Bijinya lalu ditanam keturunan Ratu Karang Bayan – bangsawan penguasa daerah itu – di Taman Meruya di Kelurahan Cakra Utara, Kecamatan Cakra, Lombok. Masyarakat setempat menyebutnya sebagai mangga tengulun. Sayang pohon induk di Taman Meruya kini tak lagi produktif menghasilkan buah. Populasinya pun tak berkembang karena belum intens diperbanyak baik secara vegetatif maupun generatif. Pohon induk mentaram yang masih bertahan hingga kini hanya 15 pohon.

Di antaranya milik orangtua Junaidi di Kecamatan Sekarbela. ‘Di sana ada 2 pohon yang ditanam dari biji,’ kata Junaidi. Rasa yang manis membuat Junaidi tergoda menanam di pekarangan rumahnya. Kualitas buah sama seperti pohon induk. Setiap kali panen, buahnya diberikan ke tetangga, saudara, dan kolega di kantor pemerintahan. Kini mereka bahkan langsung memesan buah saat masih mengkal.

Dari pohon milik Junaidi keberadaan mentaram terkuak. Kehadirannya semakin memperkaya varietas mangga di NTB. Misal mangga darakande yang telah dilepas sebagai varietas unggul pada 2006.

Daging buah darakande juicy. Darakande banyak ditemukan di Kecamatan Narmada. Saat musim raya Desember – Januari mangga berbentuk bulat dengan tekstur daging buah lembut tanpa serat itu tumpah ruah di tepi jalan. Seperti darakande, mentaram juga berpeluang menjadi varietas unggul. ‘Keunggulannya banyak. Bila kualitasnya tetap terjaga, peluang untuk diekspor besar,’ ujar Rebin. Saat ini perbanyakan bibit mentaram gencar dilakukan. Junaidi sudah memproduksi 25 bibit cangkok dan 1.250 bibit okulasi. (Lastioro Anmi Tambunan)

 

 

 

 

Mentaram umur 7 tahun produksinya berkisar 110 – 200 kg per panen

Tingkat kemanisan daging buah 24,4o briks

Drs H. Lalu Junaidi memiliki 5 pohon induk mentaram warisan orangtua

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img