Wednesday, August 10, 2022

N. adrianii : Turun Gunung Lalu Rengkuh Juara

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Pantas bila seorang hobiis di Kota Gudeg berujar, ‘Adrianii itu seperti pendekar yang turun gunung.’ Iklim di habitat asal bak langit dan bumi dengan lokasi tempat sekarang. Di Gunung Slamet, rata-rata suhu 18oC, kelembapan 90%. Di sana juga sering turun hujan. Bandingkan dengan Yogyakarta yang bersuhu 28-30oC dan kelembapan ratarata 50-60%.

Menurut Adrian Yusuf Wartono, yang pertamakali mengidentifi kasi N. adrianii, ketakung dataran tinggi bisa dibudidayakan di dataran rendah. Namun, ukuran kantong mengecil menjadi 5 cm. Di tempat asal, panjang kantong mencapai 20-30 cm. Warna kantong pun memudar dan muncul bercak. Lazimnya, warna kantong adrianii bagian atas merah marun pekat.

Ch’ien Lee mengamini Adrian. Menurutnya, ketakung dataran tinggi sangat mungkin ditanam di dataran rendah. Namun, butuh perawatan ekstra. ‘Kita mesti menghadirkan habitat asli di dataran rendah,’ ujarnya. Ciri utama iklim dataran tinggi ialah kelembapan udara yang tinggi. Karena itu di dataran rendah mesti dibuat tempat yang mempunyai iklim mikro dengan kelembapan tinggi.

Atas kolam

Kondisi itulah yang Trubus lihat waktu berkunjung ke nurseri milik Tri Budi Utama-sang empunya adrianii. Sebuah pemandangan langka terlihat sejak kaki melangkah ke sana. Dua rumah bayang (green house yang atap dan dindingnya menggunakan shading net, red) berukuran 4 m x 7 m berdiri tegak di atas kolam pemancingan seluas 500 m2. Lantai rumah dengan permukaan air dipisahkan jarak 50 cm.

Di setiap rumah bayang yang terbuat dari bambu itu tak kurang 100 pot nepenthes beragam jenis tumbuh subur. Sebanyak 13 pot adrianii setinggi 20 – 30 cm yang tergantung memamerkan 5-8 kantong berbagai ukuran. Di bawahnya, di sebuah rak bertingkat, 10 pot gymnamphora-yang juga spesies dataran tinggi-setinggi 25 cm mengeluarkan kantong.

Meski tujuan awal hanya untuk memanfaatkan lahan, rumah bayang di atas kolam itu membuat kelembapan udara lebih tinggi ketimbang di daratan. Pengamatan Trubus, wilayah itu juga tak terlalu panas karena areal pemancingan seluas total 2 ha itu terletak di sebuah lembah. Cekungan itu dikelilingi pagar hidup: deretan tanaman bambu rapat, kelapa, petai, dan waru. Kolam pemancingan itu juga diapit 2 sungai kecil.

Gagal

Enam bulan silam, Tri mendatangkan 40 pot adrianii berdiameter 15 cm dari Purwokerto. Dalam 1-2 minggu daun layu dan kantong mengering. ‘Semuanya sekarat. Daun, batang, dan kantong kering,’ keluhnya. Biang keladinya diduga karena bibit cabutan dari alam. Nepenthes pun gagal beradaptasi dengan lingkungan baru. (baca: Hati-hati Nepenthes Cabutan, Trubus Februari 2007).

Apalagi kelembapan rumah bayang rendah. Sinar matahari yang masuk pun terlalu banyak. Maklum, rumah bayang itu hanya menggunakan atap plastik UV dan selapis shading net 55%. Penyiraman hanya dilakukan sehari sekali.

Pada bulan ketiga, Tri berkunjung ke sebuah nurseri nepenthes di Yogyakarta, yang khusus mengembangkan kantong semar dataran rendah. Di sana digunakan shading net 3 lapis dan penyiraman minimal 3 kali dengan sistem pengabutan. Kelembapan udara pun menjadi tinggi. Hasilnya puluhan kantong semar tampak bermunculan dari ujung daun.

Sepulang dari sana rumah bayang dirombak total. Naungan ditambah dengan shading net 65%. Pemasangannya berturutturut dari atas: plastik UV, shading net 55%, dan shading net 65%. Sisi kiri dan kanan rumah bambu yang semula terbuka dipasang shading net 65%. Cahaya matahari yang masuk pun berkurang hampir 50%.

Pengabutan

Sistem penyiraman yang semula manual diganti dengan pengabutan. Dua buah pipa PVC sepanjang 7 m dipasang nozel dengan jarak antarnozel 1 m. Pipa dihubungkan dengan keran pengatur keluar air: 3-5 kali sehari selama 10-20 menit. Kelembapan pun stabil di kisaran 70-90%. Udara dalam rumah bayang sejuk, suhu rata-rata 22oC. Sebulan kemudian dari batang yang mengering muncul tunas baru. ‘Biasanya nepenthes cabutan yang mengering memunculkan tunas baru. Secara alami ia mempertahankan diri untuk tetap hidup. Bila lingkungan mendukung pertumbuhan berikutnya bakal bagus. Sebaliknya, bila tidak, pertumbuhan merana,’ kata M. Apriza Suska, pakar nepenthes di Bogor.

Tunas baru itu mampu tumbuh baik karena tempat tinggalnya mengalami perombakan total. Daun mulai membesar dua bulan kemudian. Menginjak bulan ketiga kantong-kantong baru bermunculan.

Perawatan intensif pun dilakukan. Setiap 2 minggu disemprotkan B1, pupuk daun organik, dan zat pengatur tumbuh mengandung sitokinin. Perlakuan itu dilakukan selang-seling. Spesies dataran tinggi seperti N. gymnamphora dan N. bongso pun tinggal nyaman di sana.

Dua nurseri di Bogor juga sukses mengadaptasikan adrianii di dataran rendah hingga memunculkan kantong. Di Anti Nurseri di Ciawi, ketinggian 350 m dpl, adrianii digantungkan di atas kolam air. Bagian atasnya dinaungi shading net 55%. Kelembapan 80% tercapai. Hasilnya, muncul kantong bawah berukuran 25 cm berwarna merah. Di Suska Nurseri, ketinggian 500 m dpl, digunakan shading net 50%. Kantong bawah yang muncul berukuran 15 m, sedang kantong atas 20 cm.

Dari Gunung Slamet, adrianii turun gunung. Waktu di bawa ke ajang lomba, ia pun merengkuh juara. (Destika Cahyana/ Peliput: Evy Syariefa dan Rosy Nur Apriyanti)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img