Monday, January 26, 2026

Olah Nira dengan Tungku Hemat Energi

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id— Asap dan abu yang memenuhi dapur merupakan hal lumrah bagi Agus Setiawan. Belum lagi panasnya api menambah suasana dapur menjadi tidak nyaman. Selain pedih di mata, asap pembakaran kayu bakar juga berpotensi mengganggu kesehatan paru-paru.

Harap mafhum Agus masih mengandalkan tungku tua dengan kayu sebagai bahan bakar. Agus harus menahan itu semua selama kurang lebih 5 jam demi menghasilkan gula cetak dan gula semut. Itu cerita lalu, kini tidak ada lagi asap dan abu di dapur Agus.

Waktu pemasakan nira kelapa menjadi gula semut pun lebih singkat menjadi 4 jam. Selain itu penggunaan kayu bakar juga lebih hemat menjadi 1 ikat (10—15 batang). Sebelumnya warga Desa Gandatapa, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah, itu menghabiskan 2 ikat kayu bakar untuk memasak sekitar 60 liter nira setiap hari.

Perubahan itu terjadi karena Agus menggunakan tungku hemat energi kreasi Universitas Jenderal Soedirman melalui program Produk Teknologi yang Didiseminasikan ke Masyarakat, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Dosen Teknologi Pangan Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Karseno, S.P., M.P., Ph.D. bersama Ir. Mujiono, M.S. dan Abdul Mukhlis Ritonga, S.T.P., M.Sc., merupakan perancang tungku hemat energi itu.

Tungku itu berdimensi 122 cm x 82 cm x 25 cm dengan diameter lubang pembakaran 60 cm. Bahan baku pembuatan tungku menggunakan campuran abu dan semen. Selain mudah didapatkan dari sisa pembakaran, abu juga lebih unggul untuk ketahanan tungku.

“Masa pakai tungku hemat energi itu hingga 5 tahun,” kata Karseno.

Untuk meningkatkan kebersihan ruang produksi, seluruh sisi tungku dilapisi keramik. Keramik juga bermanfaat menahan panas dari dalam tungku. Pembuatan cerobong sebagai pelengkap desain tungku untuk membuat dapur produksi bebas asap. Jadi tungku hemat energi memiliki lubang pembakaran di atas.

Berbeda dengan tungku tradisional yang lubang pembakaran di depan tungku. Menurut Bambang Yunianto dan tim dari Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, pembakaran bahan bakar pada tungku (kayu) sangat tergantung dari pencampuran bahan bakar dan oksigen.

Pencampuran bahan bakar dan udara jauh lebih sulit sehingga menghasilkan banyak abu saat menggunakan kayu sebagai bahan bakar. Pembakaran kayu sempurna jika suhu ruang bakar dan suhu kayu bakar sekitar 650°C.

Kayu kering dengan ukuran kecil dan sirkulasi udara dalam ruang bakar baik juga mendukung pembakaran sempurna. Bambang juga menyatakan tungku dengan bahan semen berperan sebagai isolator yang penting mencegah panas hilang.

Tujuannya menjaga suhu ruang bakar tetap tinggi. Modifikasi tungku dengan dinding dari semen lebih efisien dibandingkan dengan tungku tradisional jika ditinjau dari konstruksi serta kemudahan pembuatan dan fungsi.

Menurut Karseno ide pembuatan tungku hemat energi berawal dari permasalahan produsen gula kelapa di Desa Gandatapa. Selain butuh waktu 5 jam dan semakin sulitnya kebutuhan kayu bakar, desain tungku dengan lubang pembakaran di depan mengharuskan produsen gula memasukkan kayu bakar secara berkala.

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img