Friday, August 19, 2022

Organik di Gunung Salak

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Selada organik hasil budidaya BSP Farm di Cijeruk, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

TRUBUS — Lokasi strategis modal utama BSP Farm untuk menerapkan pertanian organik.

Kenikir Cosmos caudatus dan bunga kertas Zinnia elegans beragam warna tumbuh di sisi jalan seakan menyambut kedatangan pengunjung. Kombinasi warna kuning, merah, jingga, dan ungu memanjakan setiap pasang mata yang menatapnya. Tanaman-tanaman itu bukan sekadar penghias, tetapi menjadi refugia yang berfungsi sebagai penghalau hama beragam sayuran. BSP Farm mengelola pertanian organik di lahan hak guna usaha seluas 30,29 hektare (ha).

Lokasi lahan berketinggian 700—1.400 meter di atas permukaan laut (m dpl) itu di Desa Pasirjaya, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Area itu ideal bagi pertanian organik karena berada di hulu sehingga pasokan air tidak tercemari limbah rumah tangga dan zat kimia berbahaya lain. Area itu berbatasan dengan hutan lindung Gunung Salak. Usaha Nadiyono dari BSP Farm mengatakan, dari luas lahan 30 ha, terdapat 10 hektare lahan yang tersertifikasi organik oleh oleh PT Icert Agritama Internasional sejak 2006.

Panen muda

Beragam komoditas seperti teh, kopi, lobak, caisim, siomak, selada, dan pakcoi tumbuh di lahan yang tersertifikasi organik. BSP Farm mengandalkan pupuk organik racikan sendiri sebagai sumber hara tanaman. Masyarakat di sekitar farm rutin mengirimkan kotoran ternak sebagai sumber nutrisi tanamam. Perusahaan yang berdiri pada 1985 itu juga mengembangkan tanaman panen muda alias baby crops seperti horenso, caisim, pakcoi, dan kailan. Masa budidaya baby crops relatif singkat yakni dua pekan, lazimnya 30-an hari.

Konsultan BSP Farm, Ir. Sudaryanto.

Menurut konsultan BSP Farm, Ir. Y.P. Sudaryanto penanaman baby crops karena permintaan pasar. Jumlah panen fluktuatif. “Kadang mencapai 1 ton, pada lain waktu 500 kg,” kata Usaha Nadiono. Horenso dan kale merupakan produk yang banyak peminatnya. “Penjualan horenso mencapai kurang lebih 30% dari permintaan,” ujar pria kelahiran Malang, Jawa Timur, itu. BSP Farm juga membudidayakan padi varietas loji ayu secara organik. Keunggulan padi jenis itu antara lain berindeks glikemik rendah yaitu18 sehingga aman dikonsumsi penderita diabetes.

Umur panen loji ayu sama dengan padi lain yakni sekitar 100 hari. Hasil panen mencapai 3 ton per ha. Produksi itu agak rendah dibandingkan dengan pada pada umumnya yang mencapai 6—7 ton per ha. Namun, harga jual padi loji ayu relatif tinggi sehingga tetap ekonomis. Selain budidaya organik secara konvensional, BSP Farm juga menerapkan metode akuaponik di sebuah rumah tanam (greenhouse) seluas 1.000 m2.

Akuaponik ala BSP Farm amat mutakhir karena mengintegrasikan dengan sistem pertanian pintar (smart farming). Sistem canggih itu mengontrol suhu, kelembapan, dan tingkat nutrisi, secara otomatis. Pekebun memakai telepon seluler pintar untuk mengatur dan mengawasi parameter itu. Jadi, kondisi kebun terpantau meski pekebun tidak berada di lokasi.

Tanaman perkebunan

Selain aneka tanaman sayuran, BSP Farm juga mengelola 12 ha kebun kopi dan 8 ha kebun teh. Pemetikan pucuk teh setiap 7—10 hari di lahan berketinggian 1.400 m dpl itu. Menurut Sudaryanto jumlah pemetik tidak memadai untuk memanen teh dengan luas kebun yang ada sehingga banyak tanaman tidak terpetik. Teh merah, teh hijau, dan teh putih beberapa produk andalan BSP Farm.

Adapun jenis teh yang paling mahal adalah teh putih (white tea). Menurut Sudaryanto white tea sangat sensitif. “Cara memanennya sulit dan seleksinya rumit,” ujar Sudaryanto. Tidak heran teh putih berharga fantastis hingga Rp4 juta per kg. BSP Farm menanam kopi arabika dan robusta sejak 1994. Sudaryanto mengatakan, BSP Farm mengeluarkan merek dagang Kopi Loji.

“Pemasarannya relatif mudah karena dekat dengan Bogor yang mempromosikan kopi secara besar-besaran,” kata pria berumur 62 tahun itu. Panen kopi hanya satu kali per tahun. BSP Farm mengombinasikannya dengan tanaman sayur semusim dan ekowisata untuk menutupi biaya operasional. Selama kebun kopi belum menghasilkan, biaya perawatannya terbayar oleh hasil panen sayuran.

PT Kapol Antar Nusa memanen kopi sekali per tahun.

Tanaman herbal pun bagian dari kebun organik BSP Farm. Daun poko, serai, daun pandan, bunga telang, oregano, dan rosmarin beberapa tanaman permintaan pasar. Menurut Sudaryanto komoditas yang paling rutin dipesan antara lain serai, daun poko, daun pandan, oregano, dan rosemari. Herbal itu ditanam di bedengan berdampingan dengan tanaman sayuran. “Selain untuk kepentingan produksi juga berfungsi sebagai tanaman repellent organisme pengganggu tanaman,” kata alumnus Departemen Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, itu.

Permintaan daun poko mencapai 10—15 kilogram per bulan. BSP Farm tidak melulu berkutat dengan pertanian. Ada pula penginapan untuk para tamu. Ada 4 tempat tidur untuk setiap paviliun. Selain itu, terdapat kamar-kamar terpisah dengan kapasitas 30 tempat tidur. Dengan fasilitas penginapan, BSP Farm menjadi salah satu tempat pilihan untuk menghabiskan akhir pekan dan melepas penat dari kesibukan di kota. Pengunjung pun mendapatkan pengetahuan bertani organik.

Sejatinya kelahiran BSP Farm bermula dari PT Kapol Antar Nusa yang menanam kapulaga Amomum cardamomum pada 1985. Kala itu harga kapulaga Rp6.000—8.000 per kg. Sayangnya, “Pada panen raya tahun 1987, harga kapulaga turun sampai Rp 1.500 per kg,” kata Usaha. Hasil panen kapulaga saat itu tidak mampu menutup biaya operasional. Bahkan perusahaan merugi. Oleh karena itu, PT Kapol Antar Nusa berhenti memproduksi kapulaga hingga 1993.

PT Kapol Antar Nusa mengubah pola pertaniannya dari sistem monokultur menjadi polikultur alias beraneka tanaman. Pada awal berdiri perushaan itu masih menggunakan pupuk dan pestisida anorganik. Perlahan-lahan perusahaan produsen sayur segar itu beralih menjadi organik pada 2006. Kapulaga ditinggalkan dan tergantikan oleh aneka tanaman pangan, kopi, dan teh. (Andriyansyah Perdana Murtyantoro)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img