Friday, August 19, 2022

Kesemek Tanpa Bedak ke Swalayan

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Pengemasan kesemek lokal untuk pasar swalayan.

TRUBUS — Semula hanya ada di pasar tradisional, kini kesemek lokal berkualitas premium memiliki lapak di pasar modern.

Kesemek Diospyros kaki yang lazim dijajakan di pasar tradisional kini menempati etalase salah satu pasar swalayan di Kota Surabaya, Jawa Timur. Penampilan buah itu pun menggugah selera karena berwarna jingga kekuningan dan mengilap. Kondisi itu sangat jauh berbeda dengan penampilan kesemek pada umumnya yang tertutup kapur yang mirip bedak putih. Selain itu, ukuran kesemek di pasar modern itu pun relatif besar.

Kesemek lokal Kota Batu yang manis dan berukuran lebih besar sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda.

Tidak hanya penampilannya yang menawan, rasa oriental persimmon—sebutan kesemek di Inggris—pun lezat dan manis. Siapa sangka kesemek di pasar modern itu buah lokal, bukan impor. Pasokan kesemek berkualitas premium itu berasal dari pekebun di Dusun Junggo, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kotamadya Batu, Jawa Timur, Suparman. “Kesemek saya tidak berbedak sehingga penampilannya menarik. Dari segi kualitas rasa juga istimewa,” kata Maman, sapaan akrab Suparman.

Genetik

Sebetulnya sejak lama Maman didampingi Kasie Sarana dan Prasarana Penyuluhan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kotamadya Batu, Tri Agus memikirkan cara agar kesemek tidak berbedak. Apalagi ada tantangan dari toko swalayan di Surabaya. Pasar modern itu berani membeli Rp12.000 per kg kesemek tanpa bedak. Padahal saat itu Maman hanya bisa menjual kesemek maksimal Rp8.000 per kg. Ia bereksperimen berkali-kali demi mencari alternatif pengganti kapur untuk kesemek.

“Waktunya lama karena kesemek musiman. Jadi, jika tidak berhasil di tahun ini harus menunggu tahun depan karena kesemek berbuah sekali setahun,” kata pria berumur 39 tahun itu. Akhirnya perjuangan Maman membuahkan hasil. Ia menghadirkan kesemek lokal bersih tanpa kapur. “Untuk bahan-bahan pengganti kapur tidak bisa saya ceritakan. Saya hanya ingin menjaga harga kesemek lokal Batu tidak jatuh seperti sebelumnya,” kata pria penggemar sepak bola itu.

Menurut Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan Kecamatan Bumiaji, Kotamadya Batu, Jawa Timur, Dulkamar, para petani dan pedagang kerap merendam kesemek ke dalam larutan kapur selama 4—5 hari. Tujuannya mengurangi tanin atau getah. Rasa kesemek tidak enak dan bergetah tanpa perendaman larutan kapur. Meskipun rasa kesemek enak, perendaman juga membuat penampilan buah tanaman anggota famili Ebenaceae itu kurang menarik.

Harganya pun cenderung murah. “Sejak muncul kesemek glowing (mengilap, red), harga kesemek dari Kota Batu terkerek,” kata Dulkamar. Harga kesemek semula Rp1.500—Rp2.500 per kg, kini menjadi Rp4.000 per kg di tingkat petani. Kesemek glowing mengacu pada kesemek tanpa bedak produksi Maman. Selain tak berbedak, kesemek lokal Batu memang unggul dari segi genetik. “Kesemek di Batu ini sejak zaman Belanda. Sebelum saya lahir sudah ada. Bentuknya cenderung bulat besar,” kata Dulkamar.

Jika 1 kilogram (kg) kesemek dari Kota Batu berisi 5 buah, kesemek dari daerah lain seperti Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, sekitar 8 buah. Keunggulan lain kesemek lokal Kota Batu yakni manis. Suparman pernah membandingkan tingkat kemanisan kesemek miliknya dan dari daerah lain. Hasilnya, kadar kemanisan kesemek daerah lain 18—21ºbriks, sedangkan kesemek Desa Junggo 22,7—23,2ºbriks.

Potensi ekspor

Kandungan vitamin C kesemek Desa Junggo pun lebih tinggi yaitu 6,31—6,86 mg/100 g, sedangkan kesemek lainnya 5,18—5,58 mg/100 g. Meski unggul secara genetik, harga kesemek Batu terbilang murah. “Dahulu saya membeli dari petani sekitar Rp2.000 per kg. Lalu saya menjual di pasar laku sekitar Rp4.000 per kg. Jadi, hanya menutup biaya operasional,” kata Maman yang berdagang kesemek sejak 2011.

Suparman memasarkan kesemek lokal hingga ke pasar swalayan sejak 2019.

Melihat fakta yang miris itu, Maman tak berpangku tangan. Ia memutar otak untuk membantu menaikkan harga kesemek lokal Batu. Buah kesemek yang mulanya hanya di pasar tradisional, kini mejeng di swalayan sejak 2019. Kesemek lokal Batu menembus pasar swalayan dengan harga dan kualitas istimewa. Maman menjual kesemek lokal seharga Rp15.000 per kg. Bahkan ada juga yang Rp25.000 per kg untuk kualitas premium.

Kesemek bermutu premium itu memiliki tingkat kematangan buah saat petik sekitar 80% dan berbobot 200 g. Ketika panen raya pada awal Mei hingga akhir Juli, Maman memasok 4—5 ton kesemek kualitas top sepekan. Ia bekerja sama dengan 70 petani di Kota Batu untuk memenuhi kebutuhan itu. Di tingkat petani harga kesemek rata-rata Rp4.000 per kg. Sementara itu harga kesemek premium Rp8.000 per kg. Ciri kesemek kelas premium berbobot 200 gram per buah, manis, warna jingga kekuningan, dan tanpa bedak.

Ia memanen kesemek dengan tingkat kematangan beragam antara 70%—90% tergantung tujuan pengiriman. Maman berharap ada penemuan untuk mengawetkan kesemek di masa mendatang. Selama ini masa simpan kesemek Batu hanya 7—10 hari. “Kalau bisa tahan lebih lama lagi, pasar ekspor terbuka lebar,” kata pria yang juga Duta Petani Andalan Kotamadya Batu itu. (Bondan Setyawan)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img