Friday, August 19, 2022

Produksi Tinggi karena Leri

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Jakaba berbentuk seperti koral, bertekstur keras, dan berwarna cokelat kemerahan.

TRUBUS — Pupuk hayati memanfaatkan leri atau air cucian beras dan terbukti meningkatkan produksi tanaman.

Mohamad Kholil takjub melihat perkembangan tanaman mentimun Cucumis sativus miliknya yang tumbuh di 20 polibag. Pasalnya tanaman berbuah berkali-kali. Warga Kabupaten Sampang, Provinsi Jawa Timur, itu tiga kali memanen mentimun. Itu pengalaman perdana Kholil menuai mentimun begitu banyak dalam satu periode budidaya. Produksi tanamann melonjak setelah Kholil menggunakan pupuk hayati bikinan sendiri.

Ia memanfaatkan antara lain leri atau air cucian beras dan bekatul (lihat boks: Cara Buat Nutrisi Leri). “Saya hanya menggunakan pupuk hayati itu tanpa pupuk anorganik,” kata pria berumur 33 tahun itu. Kholil meyakini pertumbuhan tanaman bagus karena peran pupuk hayati itu. Ia membandingkan tanaman mentimun milik saudaranya yang memakai pupuk anorganik tidak sebagus miliknya.

Atasi penyakit

Pupuk hayati yang digunakan Kholil itu hasil temuan Aba Junaedi Sahidj. Warga Desa Kedungdowo, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, itu menyebutnya jakaba alias jamur keberuntungan abadi. Harap mafhum, pupuk hayati itu melewati proses fermentasi. Ia menyebut keberuntungan karena para petani yang menggunakan pupuk itu memperoleh hasil tinggi. Aba Junaedi Sahidj misalnya, memberikan jakaba untuk tanaman padi dan produksi pun melonjak.

Ia melarutkan 400 ml jakaba dalam 16 liter air dan menyemprotkannya untuk tanaman berumur 15—60 hari. Frekuensi penyemprotan hanya satu kali sepekan selama periode tanam. Aba Junaedi tetap menaburkan pupuk anorganik, tetapi dosis berkurang 50%, yakni hanya 250 kg per ha. Lazimnya ia memerlukan 500 kg pupuk anorganik yang mengandung unsur nitrogen, fosfat, dan kalium per hektare. Oleh karena itu, ia menghemat 50% biaya pemupukan anorganik. Meski pupuk kimia berkurang 50%, ia tetap memanen 100 karung besar per hektare. Produksi itu setara dengan penggunaan 500 kg pupuk anorganik.

Aba Junaedi Sahidj menemukan jakaba dari leri dan akar serai secara tidak sengaja.

Menurut Aba jakaba bukan sekadar meningkatkan produksi tanaman. Ramuan hayati itu juga mampu melawan penyakit layu akibat cendawan Fusarium spp. dan antraknos Colletotrichum spp. Aba kerap menghadapai serangan antraknos di lahan cabai. Pada tahun 2020, setidaknya ada sekitar 1.000 dari total 7.000 tanaman cabai terserang antraknos. Ia enggan penyakit menulari tanaman Capsicum annuum lain yang sehat. Itulah sebabnya ia segera menyemprotkan ramuan jakaba, termasuk pada tanaman sehat. Hasilnya tanaman sakit pun terselamatkan hingga berproduksi. Apalagi tanaman sehat, berproduksi makin tinggi.

Sebetulnya Aba tidak sengaja menemukan jakaba pada 2016. Saat itu ia berniat mengembangbiakkan bakteri pemacu pertumbuhan tanaman atau plant growth promoting rhizobacteria (PGPR) dari campuran akar serai dan air cucian beras (leri). Ia memfermentasi campuran itu secara anaerob dan menyimpannya dalam wadah yang tertutup rapat. Petani berpengalaman puluhan tahun itu membiarkan racikan PGPR selama sebulan karena lupa.

Niat hati ingin memanen PGPR tetapi ia malah menemukan bongkahan seperti koral, bertekstur keras, dan berwarna cokelat kemerahan. Aba menduga itu sejenis cendawan. Lantaran penasaran, petani sejak 1994 itu lantas menanyakan bongkahan itu kepada teman. “Ternyata teman-teman dan senior saya menjawab itu adalah patogen yang harus dibuang,” ujar pria kelahiran Situbondo, 8 Desember 1974 itu.

Setelah itu, Aba membuang bongkahan itu dan menyimpan cairan sisanya. Kala itu tanaman tembakau milik Aba Junaidi terkena penyakit layu akibat serangan Fusarium oxysporum. Ia teringat cairan yang ditumbuhi cendawan itu dan mengocorkannya pada tanah di sekitar perakaran. Setelah sepekan, tembakau yang semula layu kembali segar. Pria lulusan sekolah dasar (SD) itu heran.

“Katanya ini jamur patogen, kok diaplikasikan ke tembakau yang layu bisa hidup kembali?” kata Aba. Percobaan tidak berhenti. Aba penasaran dan memberikan larutan itu pada tanaman tomat milik salah satu anggota Kelompok Tani Sumber Rejeki di desanya. Ada satu petak tanaman tomat yang tumbuh kerdil sedangkan petak lainnya tumbuh normal. Sepekan setelah pemberian jakaba, pertumbuhan tomat melesat hingga dapat menyamai petak lain yang tumbuh normal. Aba menghabiskan 15 liter cairan cendawan tersebut untuk “menyembuhkan” tembakau dan tomat.

Bahan utama ramuan jakaba adalah leri atau air cucuian beras. Leri mengandung protein dan vitamin B1 yang baik untuk pertumbuhan tanaman. Citra Wulandari dan rekan dari Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, menyatakan vitamin B1 merupakan kelompok vitamin B yang berperan mengonversikan karbohidrat menjadi energi untuk menggerakkan aktivitas di dalam tanaman. Selain itu Citra juga meyebutkan vitamin B1 berfungsi merangsang pertumbuhan serta meningkatkan metabolisme akar. (Andriyansyah Perdana Murtyantoro)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img