Friday, August 12, 2022

Panen 10 Kali Lipat

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Buncis

Produksi buncis meningkatkan 10 kali lipat.

Siswati Musman (kanan) dan Ruslanudin membudidayakan buncis semiorganik sejak 2015.
Siswati Musman (kanan) dan Ruslanudin membudidayakan buncis semiorganik sejak 2015.

Empat perempuan kewalahan memanen buncis di kebun milik Siswati Musman. Padahal, luas kebun petani di Desa Batulawang, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, itu hanya 500 m². “Saya bosan dan capai memanen buncis,” kata Siswati menirukan keluhan para pekerja. Harap mafhum para perempuan setengah baya itu mesti menuai buah Phaseolus vulgaris itu 30 hari berturut-turut.

Pekebun lain hanya perlu bekerja 8 hari untuk memetik buncis. Para pekerja di ladang Siswati juga harus menunduk karena buncis berbuah lebat hingga cabang terbawah. Saking lebatnya buah, banyak lanjaran tempat merambat tanaman ambruk. Panen pada Mei 2016 Siswati mendapatkan lebih dari 2 ton buah tanaman anggota famili Fabaceae itu. Pekebun lain paling banter memperoleh 1,5—2 kuintal di lahan dan benih sama.

Pupuk hayati
Produksi kebun buncis Siswati 10 kali lipat lebih tinggi daripada kebun petani lain. “Saya juga sangat kaget dengan hasil panen ini,” kata perempuan kelahiran Nganjuk, Jawa Timur itu. Apa rahasia panen buncis melimpah? Menurut Ruslanudin—pekerja yang membantu Siswati berladang buncis—penggunaan pupuk organik plus mikrob dan hayati berperan dalam budidaya tanaman kerabat kacang hijau Phaseolus radiatus itu.

“Kebetulan cuaca saat itu juga mendukung,” kata Ruslan, sapaan Ruslanudin. Ia menggunakan pupuk kandang dan pupuk hayati untuk pupuk dasar dan susulan. (lihat ilustrasi Tanam Buncis ala Ruslan). Siswati menggunakan pupuk organik lambat urai atau slow release yang kaya nutrisi lengkap dan diperkaya mikroorganisme penyubur tanah seperti Mycorrhiza sp., Azotobacter sp., Bacillus sp., Trichoderma sp., dan Azospirillum sp.

Buncis diminati pasar lokal dan mancanegara.
Buncis diminati pasar lokal dan mancanegara.

Boleh dibilang pupuk organik plus mikrob itu sebagai pupuk organik hayati. Menurut Dekan Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Medan, Ir Alridiwirsah MM, pupuk hayati adalah inokulasi mikroorganisme seperti Rhozobium sp. dan organisme pelarut fosfat. Keduanya berperan memfasilitasi ketersediaan hara bagi tanaman sehingga produksi buncis pun melonjak signifikan.

Produsen pupuk organik dan hayati di Jakarta Utara, Ali Zum Mashar, menuturkan pupuk yang Siswati dan Ruslan gunakan berfungsi sebagai mesin hidup produksi pupuk organik sehingga meningkatkan kesuburan tanah. Pupuk juga menetralkan racun tanah dan mengubahnya menjadi zat organik bioaktif yang memacu pertumbuhan fisiologi dan kesehatan tanaman.

“Selain itu pupuk menekan populasi patogen penyebab penyakit,” kata Ali. Makhluk tak kasat mata alias mikroorganisme dalam pupuk itu juga mengatur keseimbangan hara tanah sehingga ideal untuk penyerapan dan keseimbangan nutrisi secara alami dan organik.

Pupuk itu juga mengatasi keracunan tanah akibat penggunaan pupuk kimia dan pestisida yang berlebihan. Dampaknya pertumbuhan vegetatif dan produksi tanaman seperti buncis maksimal.

Permintaan tinggi

Produksi buncis meningkat 10 kali lipat dengan pupuk organik dan hayati.
Produksi buncis meningkat 10 kali lipat dengan pupuk organik dan hayati.

Menurut Alridiwirsah pemakaian jangka panjang pupuk kimia anorganik berefek negatif seperti menjadikan tanah masam sehingga mengganggu kehidupan mikoorganisme dan perubahan struktur tanah. Ujung-ujungnya produktivitas tanaman menurun.

Ruslan mengatakan, pada awal budidaya buncis rawan terserang patek. Oleh karena itu ia mesti menyemprotkan fungisida setengah dosis anjuran. Ia pun memberikan pestisida setengah dosis pemakaian agar tanaman terhindar serangan ulat sehingga bruine boon—sebutan buncis di Belanda—tetap mulus. Peningkatan panen buncis dengan pupuk kandang sejalan dengan riset Sartika Rihana, Y B Suwasono Heddy, dan M Dawam Maghfoer.

Para periset dari Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, itu menunjukkan pemberian 40 ton pupuk kotoran kambing per ha menghasilkan bobot polong per tanaman dan bobot polong per hektare lebih tinggi, yakni 307,36 gram dan 32,40 ton per ha. Bandingkan dengan pemberian 10 ton pupuk kandang kambing per ha menghasilkan bobot polong per tanaman 248,61 gram dan bobot polong per hektare 26,52 ton. Adapun pemberian 20 ton pupuk kandang per ha (270,83 gram dan 28,01 ton).

Sartika dan rekan menduga pupuk kotoran kambing meningkatkan jumlah unsur hara sehingga pertumbuhan tanaman semakin baik. Siswati menjual 1 ton buncis itu ke pasar lokal seharga Rp3.000. Sementara 1 ton dilego Rp20.000 per kg untuk pasar premium. Total jenderal omzetnya Rp23-juta. Setelah dikurangi ongkos produksi Rp1,5-juta, Siswati mengantongi laba Rp21,5-juta.

Ilustrasi Bahrudin
Ilustrasi Bahrudin

Ruslan menuturkan produksi buah tanaman yang berasal dari Meksiko dan Guatemala itu di kebun belum memenuhi permintaan konsumen. Ia mendapat pesanan 20—50 kg common bean per hari untuk mengisi pasar premium. Konsumen pasar eksklusif menghendaki buncis yang lurus, tanpa cacat, dan biji tidak terlalu menonjol. Sementara permintaan pasar lokal pun sangat menjanjikan. “Jika produksi buncis kami 5 kuintal per hari pun pasti terserap,” kata Ruslan. (Riefza Vebriansyah)

Previous articleTanam Padi Dalam Pot
Next articleNegeri Taman
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img