Trubus.id— Pekebun durian di Desa Singamerta, Kecamatan Sigaluh, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Marso Wahudin, menerapkan teknologi top working atau sambung pucuk.
Marso menyambung pucuk tanaman durian lokal berumur 50 tahun dengan durian unggul seperti duri hitam dan musang king. “Batang produksi lokal masih dipertahankan,” katanya. Marso mengelola 20 tanaman peninggalan orang tuanya, rata-rata berumur 50 tahun.
“Satu pohon terdiri atas 5 jenis yang berbeda,” katanya. Marso memanen perdana durian hasil sambung pucuk itu pada 2022. “Tanaman sudah berbuah 3 tahun setelah sambung pucuk, itu lebih cepat dibandingkan dengan menanam dari bibit yang butuh 5 tahun,” katanya.
Kualitas buah yang dihasilkan pun optimal. Maniak durian di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Niken Rochayati, S.H., M.H., kepincut hasil panen musang king dari pohon Marso. Menurut praktikus durian setempat, Eko Waluyo, buah hasil sambung pucuk berkualiatas optimal.
Pasalnya berasal dari sosok tanaman tua. Perakaran tanaman tua relatif mantap, sehingga penyeraman nutrisi pun optimal. Hal itu berpengaruh terhadap kualitas dan hasil buah yang optimal.
Marso menambahkan, panen cabang produksi hasil sambung pucuk umur 4 tahun hingga 15 butir. Jumlah itu lebih banyak dibandingkan dengan panen perdana dari bibit berumur 5 tahun yang paling banter 5 butir. Artinya dari satu pohon memungkinkan petani panen beragam jenis dengan cepat dan mutu buah premium.
